(01-Resensi Buku 2013-Majalah Sabili Edisi Januari) ODHA Bukan Sampah Masyarakat

Judul                            : My Daddy ODHA

Penulis                          : Dy Lunaly

Penerbit                       : Bentang Belia

Tahun Terbit                : Juli, 2012

Jumlah Halaman          : 138 Hal

ISBN                           : 978-602-9397-32-1

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Ketua Journalistic Club Ikom Universitas Muhammadiyah Malang dan bergiat juga di Forum Lingkar Pena Malang Raya. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMM.

Di mata masyarakat, penderita HIV AIDS (ODHA) selalu berkonotasi negatif. Mereka dianggap sampah yang tidak berguna. Padahal tidak semua seorang ODHA orang yang suka ‘jajan’ atau pemakai narkoba. Bisa jadi, ia tertular karena kekhilafan seorang dokter yang lupa mengganti jarum suntik atau karena dia hidup di lingkungan para ODHA.

Seharusnya seorang ODHA masih bisa diterima di masyarakat luas agar hidup yang tersisa sedikit saja bisa dilalui dengan senyum tanpa putus asa. Apatah lagi, penderita ODHA yang tertular tanpa kesalahan dan kesengajaan pun harus diterima sebagai bagian dari masyarakat. Namun, sayangnya  hampir tidak ada masyarakat yang memiliki respon positif terhadap mereka. Penderita ODHA jadi sasaran cercaan, caci maki, dan cemoohan tanpa henti. Tak terkecuali kepada orang terdekat penderita, suami atau istri dan anak pun jadi korban siksaan psikis akibat ejekan sebagian masyarakat.

Dalam novel karya Dy Lunaly yang berjudul My Daddy ODHA, akan Anda dapatkan kisah ketegaran  seorang anak perempuan seorang ODHA. Anastasia Kharzkov, perempuan yang masih menjadi siswi SMA adalah tokoh utama dalam novel ini. Papanya yang seorang Russian meninggal karena menderita HIV AIDS. Bukan karena  lelaki ‘mata keranjang’, tetapi penyakit menggerogoti tubuh saat bertugas di Afrika. Saat harus menerima suntikan dokter yang terpaksa tidak steril. Akhirnya, Papanya positif sebagai penyandang ODHA.

Sejak SMP, Tasia selalu menjadi korban ejekan teman-teman sekolahnya. Untung saja, masih ada  sahabat karibnya, Rani dan mamanya yang selalu memberinya kekuatan. Lulus SMP dan masuk SMA, Tasia dan Rani bagai tak bisa terpisahkan. Mereka berdua tetap setia dalam persahabatan dan masuk di sekolah yang sama.

Namun, ujian demi ujian tak henti menghantam hidup Tasia. Andre Pratama, kakak kelas sekaligus pacarnya, meminta putus dan ternyata setelah itu memacari Rani. Andre beralasan, Tasia tetap kuat walaupun sendiri sedangkan Rani tidak. Karenanya, Andre memutus Tasia dan memacari Rani (18-19).

Bagaimana pun tentu Tasia tak rela bila sekonyong-konyong Andre memutus hubungan dengannya dan memacari sahabatnya sendiri. Ya, walaupun Rani sahabatnya sendiri, pasti Tasia merasa mangkel dan cemburu. Namun, itu tak berlangsung lama dan mereka bertiga kembali akrab seperti biasanya.

Tak berhenti di situ, suatu ketika ada beberapa orang yang iri dan tak suka dengan Tasia akhirnya tahu kalau Papa Tasia seorang ODHA. Akhirnya, inilah yang akan mereka jadikan senjata untuk menusuk-nusuk psikis Tasia. Hal yang hampir sama ketika dia SMP.

Atas provokasi kakak kelas Tasia, Alexandra the gank dan teman sekelasnya Ariana semua warga sekolah tahu bahwa Tasia anak seorang ODHA. Alexandra mengatakan bahwasanya bisa jadi Tasia pun tertular penyakit menakutkan tersebut dan mengejeknya dengan segala macam ejekan yang menyakitkan hati, termasuk menyebutnya sebagai orang yang terbiasa free sex/  PSK juga. Akibatnya, semua mengucilkannya, termasuk Rani sahabatnya sendiri.

Tuhan tak membiarkannya sendiri dan menurunkan malaikat baginya. Singkat cerita, akhirnya ada seorang yang menjadi penyelamat dan pelindung hidupnya. Aditya, kakak kelas yang akhirnya akrab dengannya karena hampir selalu berdua terkena sanksi dari Guru BP. Tasia karena rambut kecokelat-cokelatan alami keturunan dari Papanya sedangkan Aditya karena kesalahannya memakai anting di kedua telinganya. Walaupun, di akhir cerita mereka akan berpisah karena Aditya mendapatkan beasiswa ke luar negeri ( hal 123-128).

Walaupun novel teenlit, novel ini layak dibaca oleh siapapun tanpa pandang usia setidaknya ada dua pelajaran yang bisa diambil. Pertama, ODHA adalah bagian masyarakat yang harus dihargai keberadaannya, walaupun sudah diambang kematian. Kedua, ujian tak akan jauh dari kehidupan manusia, sekaligus Tuhan tak akan jauh dari manusia. Ujian adalah bentuk kasih sayang Tuhan, agar kita selalu berusaha dekat dengan-Nya. Karenanya, selalu meminta dan mendekatlah pada Tuhan, agar ujian mudah dihadapi dan teratasi.

Cover My Daddy ODHA

One thought on “(01-Resensi Buku 2013-Majalah Sabili Edisi Januari) ODHA Bukan Sampah Masyarakat

  1. Boleh tanya?
    1. Ada adegan Adit dan Tasia lg dengerin ipod, itu di ruang BP atau mana ya?
    2. pas Tasia ‘kencan’ ama Adit yg makan es itu pas di mana ya?
    Bukuku udah kadung digondol temen pdhl aku blm beres baca. Aku baca cerpen mirip2 kek gini, jd mau mastiin dulu.
    Ditungguin ya ^^

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s