Jalan-Jalan Surga Karya Abdul Wahhab Al-Sya’rani

cover jalan-jalan surga.jpg

Amalan Para Penghuni Surga

Judul                            : Jalan-Jalan Surga

Penulis                          : Abdul Wahhab Al-Sya’rani

Penyadur                     : E. Wikarta

Editor                           : Toto Edidarmo dan Abu Mumtaza

Penerbit                       : Mizania

Tahun Terbit                : Pertama, April 2017

Jumlah Halaman          : 196 halaman

ISBN                           :  978-602-418-096-6

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Al-‘Allamah Abdul Wahhab Al-Sya’rani adalah seorang guru sufi terkemuka dan ahli fikih dari Mazhab Syafi’i yang mumpuni. Salah satu karyanya adalah Kitab Tanbih Al-Mughtarrin yang artinya Peringatan Bagi Orang-Orang Yang Terpedaya. Kitab ini disadur oleh E. Wikarta dan diterbitkan oleh Penerbit Mizania dengan judul Jalan-Jalan Surga.

Bagian awal buku ini mengupas tentang para saleh zaman dulu yang selalu memperhatikan pedoman sebelum beramal saleh. Pedomannya adalah Al-Qur’an dan Hadits (Sunnah). Syaikh Junaid Al-Baghdadi berkata, “Janganlah engkau tertipu oleh orang yang mampu terbang di udara. Selidikilah, sejauh mana dia berpegang teguh ada Al-Qur’an dan Sunnah (halaman 13).”

Para Saleh bahkan sangat berhati-hati dan berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik dalam beribadah kepada Allah. Seperti yang dilakukan oleh Abu Yazid Al-Busthami, beliau sampai memisahkan antara baju untuk shalat dan baju yang akan dipakai untuk pergi ke jamban (halaman 14). Dia benar-benar menjaga tata krama kepada Allah, agar apa yang dia pakai ketika shalat bukanlah pakaian yang juga dia pakai ketika pergi ke jamban yang notabene sebagai tempat kotor.

Para Saleh juga sangat menjaga niat saleh mereka dari penyakit hati termasuk riya. Suatu ketika ada yang bertanya kepada Dawud Al-Tha’i, “Bagaimana caranya agar suatu amal terbebas dari riya?”

Beliau pun menjawab, “Perbanyaklah niat melakukan kebaikan. Sebab, niat melakukan kebaikan termasuk amalan yang baik bagi orang mukmin. Berniat melakukan kebaikan adalah perbuatan hati  yang tak tampak sehingga selamat dari riya. Namun, ingatlah, meskipun niat melakukan kebaikan tidak terlihat oleh mata, ia dapat terserang penyakit ujub. Hati-hatilah dengan setan! Setan selalu mengincarmu setiap saat.Dia tidak pernah lengah dan tidak mengantuk. Lain halnya dengan dirimu. Kamu mudah lalai  dan banyak kantuk. Hanya orang yang mendapat karunia Allah yang dapat selama dari godaan setan. Perbanyaklah olehmu memohon perlindungan kepada Allah darinya!” (halaman 17)

Para Saleh juga tidak hanya mengandalkan amalan fardhu karena bisa jadi banyak kekurangan dan kesalahan di dalamnya, bahkan mereka sering merasa khawatir amalan wajibnya tidak diterima. Karena itu mereka senantiasa tekun menambah dengan amalan sunnah. Misal sebelum atau setelah shalat wajib mereka menambah dengan shalat sunnah rawatib.

Al-Harits Al-Muhasibi mengatakan, “Sempurnakanlah ibadah fardhu kalian dengan ibadah sunnah! Sesungguhnya amal-amal sunnah dapat menutupi kekurangan amal wajib.” Namun meskipun begitu, mereka tidak hanya senang melakukan amalan yang sunnah, sampai mereka lalai dalam melalukan amalan yang wajib.

Salman Al-Farisi berkata, “Perumpamaan orang-orang yang memperbanyak ibadah sunnah, sementara ibadah fardhunya disepelekan, adalah laksana pedagang yang modalnya hilang, tetapi dia masih mengharapkan laba yang banyak.” (halaman 22)

Mereka juga senantiasa menahan diri dari nafsunya yang pasti menggoda. Rasulullah Saw. bersabda, “Pejuang sejati adalah orang yang bersungguh-sungguh mencurahkan segenap kekuatan dan kemampuannya untuk beribadah kepada Allah, dan mampu menahan nafsu syahwatnya.” (halaman 26)

Yunus bin Abdillah berkata, “Dunia dipenuhi dengan keajaiban-keajaiban. Di antara yang paling ajaib adalah orang yang selamat dari rayuan jiwanya. Aku tidak heran dengan orang yang banya beribadah malam dan puasa sunnah. Aku sangat kagum kepada mereka yang urung maksiat, sedangkan nafsunya terus-menerus mendorongnya. Aku tidak heran dengan orang yang selalu melakukan ketaatan. Sebab, ketaatan mempunyai ukuran yang jelas. Namun, aku sangat kagum kepada orang yang selalu menghindari maksiat. Sebab, untuk menghindari maksiat tidak ada ukurannya. Nafsu manusia ibarat anjing. Jika diberi makan, ia menggonggong, jika tidak ia tetap menyalak.” (Halaman 27)

Buku ini direkomendasikan dibaca oleh banyak Muslimin. Seperti kata pengantar dan harapan dari Penerbit semoga buku ini bermanfaat bagi umat Islam. Semoga dengan membaca buku ini akan ada manfaat bagi akhirat dan dunia   umat Islam. Selamat membaca!

*dimuat di Harian Singgalang 16 Juli 2017
**bisa dipesan di Toko Buku Hamdalah wa http://bit.ly/085933138891 gabung juga di grup di http://bit.ly/TokoBukuHamdalahWhatsApp dan http://bit.ly/TokoBukuHamdalahTelegram
* info buku, quotes buku, review buku,  bisa bergabung di channel telegram: t.me/bukabukubukadunia

Iklan