Bengkel Buya: Belajar Dari Kearifan Wong Cilik karya Ahmad Syafi’i Maarif

cover bengkel buya

Memetik Hikmah Dari Wong Cilik

Judul                            : Bengkel Buya: Belajar Dari Kearifan Wong Cilik

Penulis                          : Ahmad Syafii Maarif

Editor                           : RA Heryani W. Ningrum

Penerbit                       : Mizan

Tahun Terbit                : Pertama, April 2016

Jumlah Halaman          : 100 halaman

ISBN                           :  978-979-433-944-2

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis di SMPN 2 Tamanan Bondowoso

Jogja selalu istimewa adalah sebuah upaya branding dengan ungkapan yang tak salah. Jogja memang memiliki kekhususan baik sebagai daerah istimewa, dari segi budaya, hingga kearifan orang-orangnya. Tidak hanya dari orang berpendidikan saja, bahkan dari kehidupan orang-orang biasa atau orang desa atau disebut wong cilik dari Jogja saja terdapat kearifan penuh hikmah.

Dari orang kota nan berpendidikan kita akan menemukan sosok Ahmad Syafii Maarif atau yang biasa dipanggil Buya Syafii. Beliau dikenal sebagai sejarawan, pemikir cum aktivis Islam, pernah menjabat sebagai ketua umum PP Muhamadiyah hingga mendapat penobatan sebagai guru bangsa.

Sebagai seorang pencerah, Buya Syafii yang kini tinggal di Jogja tidak menyia-nyiakan beribu hikmah yang bertebaran di kota gudeg. Buya Syafii menuliskan kisah-kisah pergaulan interaksi sehari-harinya dengan berbagai macam wong cilik yang ada di Jogja yang kemudian dikumpulkan dan dijadikan menjadi sebuah buku.

Ada lima wong cilik yang Buya Syafii ceritakan dalam buku ini. Kisah pertama adalah interaksi Buya Syafii dengan seorang pemiliki bengkel sepeda. Buya Syafii ketika keluar rumah, seringkali menggunakan sepeda angin ketimbang memakai sepeda motor atau mobil. Suatu ketika sepeda milik Buya Syafii rantainya mulai tidak nyaman ketika dipakai.

Buya Syafii memilih bengkel yang biasanya selalu ramai, yang menurutnya itu tanda bahwa tukang bengkelnya adalah seorang yang ahli. Ternyata tukang bengkel sepeda tersebut tidak hanya ahli namun ramah dan memiliki kepribadian yang baik. Ketika ditanya mengapa tidak menjual bensin sekalian, dia menjawab bahwa rezeki harus dibagi-bagi. Di perempatan jalan sudah ada yang jual bensin. Maka tukang bengkel tidak mau menjual bensin juga, agar yang jual bensin di perempatan jalan laku (halaman 14).

Tidak hanya itu, tukang bengkel tersebut juga jujur. Hal ini Buya Syafii perhatikan ketika tukang bengkel memberitahu onderdil apasaja yang masih baik yang tidak perlu diganti dan yang sudah rusak sehingga perlu diganti. Buya Syafii pun mengira bahwa tukang bengkel ini adalah orang yang takut kepada Tuhan.

Kisah kedua, adalah tentang Tugimin seorang takmir masjid legendaris yang didirikan sejak tahun 1950 yang bernama Masjid Syuhada. Masjid ini hingga sekarang tetap berfungsi dan melebarkan sayap dakwah dan syiar Islam, seperti dengan istiqamah mengadakan pembelajaran taman kanak-kanak sebagai turut andil dalam mempersiapkan mental generasi penerus (halaman 41).

Tugimin adalah orang yang sangat jujur nan bersahaja. Meski umurnya 67 tahun, hampir semua pekerjaan di Masjid dia lakukan. Dari membersihkan pelataran, hingga membayar listrik dan menghubungi para khatib. Ketika Tugimin datang ke rumah Buya Syafii dengan memakai sepeda angin hanya untuk menginformasikan jadwal khatib, Buya Syafii kagum dengan semangat Tugimin yang ingin bertemu langsung dan silaturrahim, meski ada yang lebih mudah yakni cukup mengirim pesan pendek melalui ponsel (halaman 47).

Ketika gempa berkekuatan 5,9 SR pada tanggal 27 Mei 2006 terjadi di Jogja, rumah Tugimin juga menjadi salah satu korban. Karena tidak terlalu parah, maka Tugimin pun segera membantu tetangga-tetangganya yang lain. Dari semua kisah Tugimin hingga terjadi gempa, Buya Syafii tertarik untuk membagi kisah inspiratif tersebut di rubrik resonansi yang menjadi rubrik tetap tulisan Buya Syafii di Harian Republika (halaman 50).

Karena tulisan inspiratif Buya tersebut, akhirnya ada pembaca yang tergerak dan memiliki niat baik bagi Tugimin yaitu ingin menaikkan haji Tugimin. Begitulah, sejatinya kebaikan memang akan selalu mendapatkan balasan yang baik, cepat atau lambat, di dunia maupun di akhirat.

Ada harapan dari buku karya Buya Syafii ini yaitu agar pembaca mendaras ayat-ayat Tuhan yang bertebaran di bumi melalui wong cilik dan menemukan mutiara kearifan dalam setiap kehidupan mereka. Sehingga bisa menjadi cermin yang menumbuhkan instropeksi dan kesyukuran dalam diri. Semoga dan selamat membaca!

Resensi Buya Syafiie di Jateng Pos 24 Juli 2016

*dimuat di Jateng Pos 24 Juli 2016