Kisah Getir Dari Serambi Mekkah

Judul                            : Marwah di Ujung Bara

Penulis                        : R.h. Fitriadi

Penerbit                       : Pro-Books (Pro-U Media)

Tahun Terbit                : 2011

Jumlah Halaman      : 410 halaman.

Peresensi: Muhammad Rasyid Ridho, Aktivis Forum Lingkar Pena Malang Raya dan Journalistic Club Ikom UMM, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMM.

Dimuat di Rimanews.com Ahad 24 Juni 2012, klik!

Kisah Aceh dulu, adalah kisah yang penuh dengan konflik sejak 35 tahun lalu. Kisah perjuangan dan heroik rakyatnya pula, bukanlah hal yang asing sejak zaman kerajaan Samudera Pasai dan perjuangan kemerdekaan. Bahkan sampai dengan konflik berdarah antara GAM dan Pemerintah Indonesia (Militer), perjuangan rakyat untuk kehidupan yang lebih baik dalam damai yang digawangi oleh pemuda tak surut diam.

Setelah konflik panjang yang tak kunjung usai, pada masa pemerintahan Megawati Soekarno Putri pun konflik semakin berkepanjangan. Apalagi ditambah dengan kebijakan pemerintah tatkala itu tetap dengan status darurat militer, untuk menjamin tak ada kemerdekaan Aceh dari NKRI. Sayang kebijakan ini, masih belum ideal digunakan di Aceh. Sebagimana yang telah terjadi pada Pemerintahan Abdurrahman Wahid atau Gusdur sebelumnya, kebijakan ini malah memakan korban begitu banyak dari rakyat Aceh yang tak berdosa dan tak tahu apa-apa.

Fauzan, Meurah Muda, Al Hijri, adalah tokoh dalam novel karya R.h. Fitriadi ini. Tokoh muda yang menjadi sentral dalam hampir seluruh kisah di dalamnya. Fauzan adalah ketua BEM Unsyiah yang juga seorang anak seorang pejabat DPRD di Aceh. Meurah Muda adalah mahasiswa syari’ah yang memiliki hubungan saudara dengan ketua SIRA (Sentra Informasi Referendum Aceh) dan beberapa pentolan GAM. Al Hijri adalah sekretaris BEM Unsyiah, yang memiliki masa lalu menyedihkan. Ayahnya yang pensiunan aparat  dibunuh secara misterius selepas shalat maghrib di Meunasah.

Tiga pemuda tersebut tergabung dalam kelompok mahasiswa yang akan melakukan demo damai dalam rangka menolak status darurat militer di Aceh. Menurut mereka status darurat militer Aceh bukan memberi kebaikan bagi rakyat Aceh, namun hal itu akan semakin mempurburuk keadaan di Aceh dan bahkan yang lebih parahnya lagi akan lebih banyak lagi rakyat Aceh dalam perang saudara yang berkepanjangan ini.

Mereka sepakat BEM Unsyiah dan BEM IAIN Ar-Raniry akan melakukan demo damai itu sebelum status darurat militer itu disetujui oleh Presiden. Di lain tempat, para pengusaha asal Aceh yang berada di Ibu Kota Jakarta pun melakukan negoisasi perdamaian di Aceh, guna tak dilakukannya status darurat militer untuk berikutnya di bumi Serambi Mekkah tersebut.

Sayangnya, kisah ini berlanjut dengan pengkhianatan salah satu dari orang penting dalam pergerakan mahasiswa yang menolak status darurat militer di Aceh tersebut. Dialah Al-Hijri, sekretaris kepercayaan dari Pak Ketua pergerakan Fauzan. Inilah yang menjadi konflik bagi Al-Hijri, dia harus melawan kebenaran sebagai tokoh pergerakan mahasiswa  dalam dirinya, namun dia sendiri yang harus menggagalkan gerakan demo dan menangkap temannya sendiri, yakni Meurah Muda.

Konflik lainnya, ada dalam diri Fauzan yang akhirnya harus mengalah pada bapaknya, agar mundur dari jabatan sebagai ketua BEM Unsyiah, setelah berbicara seorang diri di depan anggota DPRD saat sidang DPRD Aceh. Meurah Muda pun harus merasakan konflik lain dia harus pergi dari Aceh, lari dari kejaran aparat yang ingin menangkapnya. Setelah mendapatkan sms dari orang misterius agar dia bersembunyi ke luar Aceh, karena dia kini menjadi DPO aparat pemerintah.

Inilah beberapa konflik yang menggetirkan, yang berhasil R.h. Fitriadi ceritakan dalam novelnya. Sebagai orang Aceh asli dan menjadi saksi pada tahun-tahun konflik tersebut, tentu dia mampu menuliskan kisah ini dengan baik. Membaca setiap lembarannya pasti akan terus bertanya-tanya dan penasaran akan kelanjutannya. Selain itu ada kisah tentang hati setiap tokohnya, Fauzan yang cukup diperhatikan oleh Ceudah dan secara diam-diam Al-Hijri cemburu, sedangkan Meurah Muda harus melupakan janjinya pada Indah, teman akrab yang harus renggang karena Meurah Muda membenci Indah yang keturunan Jawa.

Bisa jadi novel ini menjadi wakil bagi setiap rakyat Aceh, bagaimana kisah getir yang mereka rasakan pada  waktu itu. Pembunuhan misterius, orang hilang tanpa jejak, dan berbagai keadaan yang tak aman dan tak nyaman bagi mereka.  Akhirnya novel yang rencananya dwilogi ini, sangat layak ditunggu kelanjutannya.