Menikmati Secangkir Kopi Dalam Buku

dimuat di Rimanews.com 21 Juni 2012, klik!

“Nama kedai kami berikut slogannya ternyata menjadi sangat populer. Kuamati semakin banyak orang yang berhenti, membaca, kemudian dengan wajah ingin tahu mereka masuk ke dalam, waswas sekaligus harap-harap cemas, seperti masuk tenda peramal. Dan tanpa perlu bola Kristal, omset kedai kami meningkat pesat.”

Cuplikan diksi indah nan sederhana di atas adalah cerita Jody, tentang usaha kedai kopi bersama seorang temannya yang bernama Ben. Ben adalah seorang pecinta kopi. Bahkan saking tergila-gilanya terhadap kopi, dia merelakan dirinya keliling negara-negara yang terkenal memiliki peramu kopi yang hebat seperti, Roma, Paris, Amsterdam, London, New York, dan moskwa.

Di sana ia berkonsultasi dengan pakar-pakar peramu kopi yang ada. Berbekal kemampuan bahasa yang pas-pasan, Ben nekad untuk mengemis-ngemis meminta agar bisa masuk ke bar saji, meminta rahasia ramuan kopi padabarista-barista yang sudah biasa membuat aneka macam kopi bagi pengunjung bar. Ia meminta takaran yang paling pas untuk pembuatan cafe latte, cappuccino, espresso, Russian coffe, Irish coffe, macchiato, dan lainnya.

Akhirnya, dia kembali ke Indonesia dan siap menjadi barista yang akan melayani pengunjung dengan berbagai kopi yang disediakan. Mengajak Jody yang ahli menghitung sebagai penjaga mesin kasir. Awalnya, nama kedai mereka hanya sederhana ‘Kedai Koffie B en & Jody’. Namun, dengan pengalaman Ben dengan segala eksperimennya terhadap kopi. Akhirnya, nama kedai mereka berubah, ‘Filosofi Kopi Temukan Diri Anda di Sini’.

Dari setiap kopi yang mereka sediakan memiliki nilai filosofi bagi peminumnya, baik dari cara pembuatan kopi tersebut, aromanya, bahkan bagaiman kopi tersebut dihidangkan semua itu ada filosofinya. Hal inilah yang menjadikan kedai Filosofi Kopi menjadi ramai pengunjung, dari orang yang sekedar penasaran ada apa di dalamnya, pengunjung yang memang pecinta kopi, bahkan mereka yang hanya duduk tanpa meminum kopi yakni mahasiswa filsafat cukup menjadi pelanggan hanya dengan diskusi dengan Ben di sana.

Cerita pendek ini adalah karangan Dee. Sapaan akrab dari aktris, penyanyi, pencipta lagu sekaligus penulis Dewi Lestari. Cerpen ini ada di dalam buku yang berjudul sama dengan cerpen tersebut, yakni Filosofi Kopi. Buku kumpulan cerpen dan prosa mengumpulkan delapan belas karya Dee. Ini merupakan buku pertama yang mengompilasi karya Dee dalam satu dekade, dari 1995 sampai 2005.

Menurut Dee dalam pengantarnya, ada dua karyanya yang pernah dipublikasikan sebelumnya. Yaitu ‘Rico de Coro’ dan ‘Sikat Gigi’. Bagi saya Rico de Coro juga salah satu cerita yang sangat menarik untuk dibaca karena keunikannya.  Bercerita tentang Rico yang tak lain adalah coro alias kecoak yang menyukai seorang remaja perempuan di rumah di mana Rico hidup, bernama Sarah. Cerita yang menceritakan kecoak dengan segala kehidupannya yang mirip dengan manusia.

Buku ini diterbitkan lagi oleh Bentang Pustaka di tahun 2012, setelah sebelumnya pernah terbit dan menjadi karya sastra terbaik versi Majalah Tempo di tahun 2006. Dee, memang layak disebut sebagai penulis berbakat dan hebat, namun saya menolak jika Dee tak disebut sebagai penulis wanita sastra wangi. Karena dalam buku ini Dee turut menyisipkan karyanya tentang cinta dua orang homo, walaupun tak seeksplisit penulis sastra wangi lainnya dalam mengekploitasi cerita tentang seksualitas. Walau begitu buku ini layak dibaca, terlebih bagi setiap pecinta kopi. Karena memang, Filosofi Kopi adalah hadiah dari Dee bagi orang-orang yang tergila-gila pada kopi.

___________________________________

Peresensi                   : Muhammad Rasyid Ridho, Aktivis Forum Lingkar Pena Malang Raya

Judul                            : Filosofi Kopi

Penulis                        : Dee

Penerbit                       : Bentang Pustaka

Tahun Terbit                : Januari, 2012

Jumlah Halaman      : 142 halaman

ISBN                           : 978-602-8811-61-3

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s