Mantra Pejuang Tak Kenal Batas

pernah dimuat di Okezone 30 Juli 2012, klik!

Judul : Berjalan Menembus Batas
Penulis : A. Fuadi, dkk.
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : Januari, 2012
Jumlah Halaman : 172 hal
ISBN : 978-602-8811-62-0
Harga : 39.000

“Saya ingin merasakan pengalaman belajar di luar negeri. Itulah gumam terakhir sebelum akhirnya saya melangkahkan kaki dari “penjara suci” Annuqayah di daerah Nirmala. Saya cukup berkeyakinan bahwa bekal bahasa Inggris yang saya pelajari langsung dari seorang volunteer dari Australia, Margaret Rolling dan John Rolling, yang datang ke pondok pesantren akan memudahkan saya dalam proses pembelajaran demi petualangan berikutnya. Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan menemani banyak waktu mereka berdua selama masih di Annuqayah. Bekal itu pun semakin memantapkan saya menatap masa depan, melangkah menuju petualangan antah-berantah.”

Kutipan diambil dari tulisan Bernando J. Sujibto, seorang santri di sebuah pondok pesantren yang terkenal di Madura, Annuqayah. Seorang santri yang bermimpi menjadi penulis dan bermimpi pula menginjakkan tanah Amerika. Tak pelak, dari hasil usaha dan do’a dalam langkah hidupnya, maka apa yang diimpikan pun menjadi kenyataan. Ia mendapatkan kesempatan beasiswa IELSP (Indonesian English Study Program) dan IIEF (The Indonesian International Education Foundation) selama dua bulan di bulan Juni sampai Juli 2010.

Tulisan Bernando yang berjudul Dari Sumenep ke Kolombia tersebut adalah tulisan inspiratif pertama dalam buku Berjalan Menembus Batas. Sebuah buku yang mengumpulkan kisah-kisah nyata inspiratif meraih mimpi dan kesuksesan yang dikumpulkan jadi satu bersama Ahmad Fuadi, novelis best seller Negeri 5 Menara. Yang seleksinya diumumkan di facebook Man Jadda Wajada. Selain itu, masih ada dua belas tulisan lain dalam buku ini.

Dalam buku ini tulisan di dalamnya dibagi sesuai tema yang ada, bagian pertama adalah bagian melawan keterbatasan harta. Termasuk tulisan di atas, tadi Bernando yang memiliki harta terbatas mampu menginjakkan kaki di tanah Amerika berkat perjuangan kerasnya. Masih ada tiga tulisan lain dalam bab ini, yakni Lelaki dari Pagar Gunung karya Mey Zusana, Lelaki Pagar Dari Gunung menceritakan perjuangan ayah penulis dalam menggapai impiannya. Dari orang yang tak punya apa-apa, namun bisa menggapai impiannya menjadi sarjana untuk mengabdikan diri pada Negara dengan menjadi guru. Kisah jatuh bangun ayah penulis yang menginspirasi.

Selanjutnya Dari Loper Koran hingga Perguruan Tinggi karya Ahmad Danuji. Menceritakan pengalaman penulis yang mampu kuliah dengan segala usahanya, termasuk dengan usahanya menjual koran. Dia tak hanya menjual koran, tapi juga mencari kesempatan  membaca berita dan info dalam koran yang ia jual. Itu karena minatnya yang tinggi terhadap membaca buku, akhirnya dari itu ia pun mampu menulis tulisan yang dimuat di media nasional dan menjadi peneliti di IBOEKOE (Indonesia Buku). Dan  Jadi Tukang Sapu untuk Belajar Komputer karya Nanang Nurhidayat. menceritakan perjuangan penulis untuk menjadi sarjana dimulai menjadi mahasiswa sekaligus tukang sapu kantin, menjadi penjaga rental komputer sekaligus belajar memakai komputer dan akhirnya perjuangannya menghasilkan apa yang dia inginkan.

Bagian kedua adalah tentang menahan rasa sakit. Ada lima kisah di dalamnya, tentang penulis yang terus menggapai asa dan citanya walau dalam keadaan sakit bahkan cacat. Kisah-kisah dalam buku ini begitu mengharukan dan menyentuh. Selanjutnya, bagian terakhir dalam buku ini bertema tentang menembus batas usaha. Ada empat tulisan di dalamnya, yang menceritakan perjuangan setiap penulisnya dalam mencapai apa yang diinginkan. Perjuangan yang tak biasa, perjuangan yang menembus batas usaha.

Dari inilah menurut saya, yang menjadikan judul buku ini menjadi Berjalan Menembus Batas. Buku yang sangat menginspirasi pembaca, dengan semangat menularkan khasiat mantra man jadda wajada di dalam setiap kisah di dalamnya. Walaupun mungkin banyak sering kita temui dalam hidup keseharian atau malah kita sebagai pelakunya. Maka buku ini akan semakin mengukuhkan sikap kita untuk terus berjuang mencapai mimpi yang kita punya. Dengan selalu mengingat mantra mereka yaitu, “Man Jadda Wajada!”.

Peresensi: Muhammad Rasyid Ridho
Aktivis Forum Lingkar Pena Malang Raya dan Journalistic Club Ikom UMM, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMM.

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s