Melawan Eksploitasi Orang Utan Melalui Novel


Judul                            : Ping! A Message From Borneo

Penulis                          : Riawani Elyta dan Shabrina W.S.

Penerbit                       : Bentang Belia

Tahun Terbit                : Maret, 2012

Jumlah Halaman          : 142 Hal

ISBN                           : 978-602-9397-17-8

Peresensi: Muhammad Rasyid Ridho, Ketua Journalistic Club Ikom Universitas Muhammadiyah Malang dan bergiat juga di Forum Lingkar Pena Malang Raya. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMM.

Pernah dimuat di Koran Kampus Bestari UMM Edisi Oktober-November.

Indonesia dilebihi luasnya lautan dan suburnya tanah hampir semua. Dari titik Sabang sampai Merauke ujungnya. Bila saja kita memakan buah berbiji dan kita buang saja sembarangan bijinya, maka sebulan dua bulan biji itu akan tumbuh. Begitu mudahnya, begitu suburnya. Tak pelak Indonesia pernah disebut tanah surga oleh salah satu musisi terkenal tempo dulu.

Namun sayang, kekayaan alam yang memadai tersebut tak sejalan dengan tingkat kualitas dalam mengelola dan menjaga. Akhirnya, kebodohan yang dilestarikan tersebut merugikan diri sendiri, merugikan warisan nenek moyang yang sangat menjaga alam dan sumber dayanya karena berpikiran jauh di masa mendatang.

Contoh kasus, bisa kita lihat di Borneo nama lain dari Kalimantan. Pulau yang dulunya banyak sekali tumbuh pohon-pohon hijau, namun kini nama yang tersemat baginya sebagai paru-paru dunia bisa saja hilang sendirinya. Karena sudah bukan rahasia umum, pohon-pohon hijau yang dulu berdiri gagah di atas tanah itu, kini telah hilang akibat pembakaran hutan. Eksploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab demi mereguk keuntungan nafsunya sendiri. Kerugian ini tak hanya akan dirasakan oleh manusia namun juga hewan-hewan yang ada di dalamnya, termasuk orang utan. Spesies yang kini hampir punah jika tak segera dilestarikan dan dijaga kembang biaknya.

Kita akan sangat mudah mendapatkan informasi tersebut di media massa baik cetak, elektronik dan internet. Bagaimana jika informasi tersebut dijadikan sebuah novel? Ping! adalah jawabannya.

Secara umum Ping! berbicara tentang ekploitasi yang terjadi di hutan Kalimantan, secara khususnya novel ini membicarakan eksploitasi orang utan penghuni hutan Kalimantan. Sudut pandang dalam novel ini adalah aku  dengan dua tokoh utama. Ping dan Molly. Novel yang di tiap babnya tokoh utama bercerita ini, dimulai dengan prolog seekor orang utan kecil yang bernama Ping bersama ibunya. Keduanya tak bisa melupakan goresan luka yang mereka dapatkan, baik itu luka secara nyata (di kulit) atau secara abstrak (psikis). Dikarenakan serangan orang-orang yang menembaki orang utan di hutan yang mereka tempati. (Halaman 1-2)

Kemudian dilanjutkan di bab kedua Molly sebagai manusia (perempuan) yang bercerita. Molly sangat menyukai dunia binatang, ketika memilih jurusan kuliah, ingin dia masuk jurusan Zoologi. Namun, sayang keinginannya itu ditolak mentah-mentah oleh Mamanya. Akhirnya, demi membahagiakan Mamanya dia menjalani kehidupan kampus di jurusan manajemen.

Walau begitu, keinginan dan mimpinya sebagai penyayang dan peduli binatang khususnya satwa langka tak luntur dari dirinya. Ketika Nick (Nicholas), menelpon dan mengajaknya untuk melakukan penelitian orang utan di Kalimantan, tanpa basa basi dia langsung menyetujui saja. Mereka pertama kali kenal ketika Molly mengikuti LSM Gerakan Penyelamatan Satwa Langka (GPSL).

Molly segera menghubungi sahabat lamanya yang ayahnya menjadi pengusaha sawit terkenal di Kalimantan, Archie. Archie menjemput Molly di Bandara dengan sikap yang jauh berbeda ketika mereka masih SMA. Akhirnya, Molly pun merasa nggak enak dengan  sahabatnya yang telah berubah itu. Bahkan, Archie terlihat cemburu ketika tahu Molly akan berangkat ke Samboja dengan seorang turis laki bernama Nick. Perbedaaan ini membuat Molly resah dan kepikiran selalu.

Nick mengajak pula adiknya Andrea, yang biasa disapa Andy dalam penelitian tersebut. Sesampainya mereka di Samboja Kalimantan mereka mendapatkan fasilitas yang istimewa dan nyaman yang diberikan oleh orang-orang BOS (Borneo Orang Utan Survival). Tempat yang sepertinya tak layak dari luar sebagai peginapan para peneliti tapi di dalamnya cukup banyak fasilitas, ada ruang tamu, dua buah kamar tidur, kamar mandi dengan air keran yang mengalir 24 jam dan jarang sekali mati, dapur dengan perlengkapan masak lengkap bahkan ada kolam renangnya juga yang biasanya untuk menampung air yang akan dibawa ke hutan ketika terjadi kebaran. (Halaman 39)

Ketika di lokasi konservasi orang utan, mereka menemukan berbagai macam orang utan dengan berbagai sikap dan sifatnya. Ada Momong, orang utan yang suka caper, cari perhatian pada para pengunjung. Bahkan, jika saja perempuan cantik yang mengunjunginya, maka ia pun akan terus mengikuti perempuan itu ke mana saja pergi. Hal yang aneh, namun bisa saja terjadi karena 95% DNA orang utan sama dengan manusia. (Halaman 56)

Selain bertemu dengan Momong mereka juga bertemu dengan anak orang utan yang bernama Karro. Suara teriakan Karro yang menyebabkan mereka mencoba mendekatinya. Ketika Molly mencoba mendekati Karro, sapaan Molly hanya dijawabnya dengan geming, dengan mata yang diam seperti memikirkan sesuatu. Namun tak lama tangan Karro memegang tangan Molly. Bahkan akhirnya Karro memeluk Molly. (Halaman 61 dan 78-79)

Hal itu disebabkan depresi yang menjangkit di jiwa Karro. Dia kehilangan seluruh keluarganya. Entah apa penyebabnya, namun dalam novel ini menyebutkan ada beberapa macam sebab. Antara lain pembunuhan dengan cara memberi pisang beracun, menembak, atau dengan cara membakar hutan secara langsung maka pasti apa yang ada di dalamnya akan terbakar juga, orang utan akan mati. Motifnya bermacam-macam. Ada yang hanya ingin meraup keuntungan dengan eksploitasi dan menjual orang utan, ada pula yang memang suruhan bos kelapa sawit untuk membakar hutan yang kelak akan dijadikan tempat meraup rupiah dengan menanam kembali kelapa sawit di hutan yang sudah terbakar. Inilah yang menjadi penyebab populasi orang utan semakin menyusut. (Halaman  81)

Saya coba berikan kata-kata Molly yang menurut saya bisa membangkitkan kesadaran kita untuk menjaga satwa langka yang kita miliki saat ini, orang utan. “Aku seakan menemukan jejak benang merah dengan semua yang selama ini hanya berhasil kutelusuri lewat pengembaraanku di dunia maya dan berpuluh artikel penyelamatan satwa langka. Sungguh, menghadapi dan menyentuh mereka secara langsung, jauh lebih menggugah kesadaran emosionalku dibandingkan sekedar melakukan penjelajahan visual. (Halaman 79)

Tak dapat disangsikan Ping! adalah kolaborasi apik karya dua penulis yang memang keren. Riawani Elyta adalah penulis fiksi inspiratif dan romantis dan Shabrina W.S. adalah penulis fabel yang karyanya sudah cukup banyak dibukukan dan dimuat di media massa. Maka tak pelak, naskah ini menjadi pemenang pertama lomba menulis novel 30 hari yang diadakan oleh Bentang Belia.

Manusia sebagai makhluk berakal dan khalifah-pemimpin dari semua makhluk yang ada di bumi- pilihan Tuhan, seharusnya menjadi garda terdepan sebagai pelestari alam dan hewan. Sayangnya, saat ini kebalikan hal tersebut yang menjadi kesenangan dan kelakuan manusia di bumi. Tak sekedar menceramahi tentang pentingya menyelamatkan satwa langka, novel ini hadir dengan usaha untuk lebih menyentuh hati nurani setiap pembacanya.

Novel ini menurut saya tak hanya cocok dibaca oleh remaja, namun anak-anak dan dewasa pun wajib membaca novel ini. Anak-anak sebagai generasi masa depan, remaja calon pemimpin, dan dewasa adalah penuntun jalan. Jika para dewasa pun membaca novel ini paling tidak akan menuntun para anak-anak dan remaja generasi penerus pada jalan kebenaran. Termasuk pentingnya menjaga, melestarikan dan menyelematkan populasi satwa langka, khususnya orang utan. Selamat membaca, selamatkan dan lawan eksploitasi orang utan!

2 thoughts on “Melawan Eksploitasi Orang Utan Melalui Novel

  1. srishawol 12 Desember 2012 / 11:20

    mau tanya kak cara ngirim resensi ke bestari gimana ya ? dan persyaratannya apa aja ?

    Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s