Ketika Ibu Durhaka Pada Anaknya

Judul                            : Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya

Penulis                          : Triani Retno A.

Penerbit                       : Diva Press

Tahun Terbit                : Oktober, 2012

Jumlah Halaman          : 334 halaman

ISBN                           :  978-602-7663-48-0

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Ketua Journalistic Club Ikom UMM dan anggota  Forum Lingkar Pena Malang Raya. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMM.

Pernah dimuat di Koran Kampus UMM “Bestari” Edisi Wisuda November 2012

Setiap manusia pasti mendamba keharmonisan keluarga. keakraban antara suami dan istri, bapak-ibu dan anak, kakak dan adik, menantu dan mertua, begitu seterusnya. Tak lain itu karena fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Maka, dengan adanya keharmonisan antar keluarga tersebut, akan terasa ketentraman dan ketenangan dalam dinamika kehidupan.

Namun demikian, tak semua harapan manusia berjalan mulus dalam kenyataan. Karena hidup pun luput dari ujian dan masalah, bahkan dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah menghidupkan dan mematikan manusia itu untuk memberi ujian.

Seorang anak mempunyai kewajiban untuk taat yang dalam anjuran agama tidak durhaka pada orang tuanya. Dalam agama pun orang tua tak hanya sekedar menerima ketaatan dari anaknya, namun pun tak boleh mendzalimi anaknya yang hal itu bisa dikatakan orang tua pun durhaka pada anaknya. Contohnya ketika orang tua tak memberikan hak-hak sang anak dalam kata lain orang tua tidak melakukan apa yang wajib dia lakukan terhadap anaknya.

Amelia Citra, tokoh utama dalam novel ini salah satu potret ujian dan hambatan atas harapan yang sering didambakan oleh setiap manusia. Bagaimana dia menjadi anak yang taat pada orang tuanya sekaligus didurhakai oleh orang tuanya. Kita ingin mendapatkan kasih sayang yang tulus dari ibu bapak kita, namun bagaimana dengan Amelia? Dia tak mendapatkan apa yang juga kita harapkan tersebut. Amelia anak seorang bapak (Pak Amir) pensiunan pegawai rendahan. Ibunya (Bu Amir) sebagai pembantu memberhentikan diri sejak Amelia selesai SMA dan melimpahkan kebutuhan keluarga pada Amelia. Ibunya merasa sudah bekerja sangat lama untuk Amelia dan itu dianggap sebagai hutang Amelia dan kini saatnya Amelia melunasi hutang-hutang itu kepada ibunya (halaman 115-117).

Akhirnya Amelia kuliah nyambi kerja, karena itu salah satu cara agar taat pada ibunya. Pagi sampai sore kerja di bagian  administrasi  sebuah perusahaan pemotongan daging dan malam harinya mengikuti kuliah eksekutif yang banyak diikuti oleh mereka yang memang sudah tua dan sudah bekerja.

Tokoh lain dalam novel ini adalah Santi. Sahabat Amelia sejak semester dua sampai mereka sama-sama akan lulus, hubungan itu masih erat. Anehnya, keakraban mereka tak juga karena mereka saling tahu bagaimana asal usul kehidupan keduanya.

Ternyata, Santi adalah seorang anak asuh dalam sebuah panti asuhan (halaman 188-189). Sejak selesai SMA dia merasa banyak yang masih membutuhkan untuk hidup di panti. Akhirnya, dia keluar panti dan berusaha untuk mandiri. Dia kuliah di Kampus yang sama dengan Amelia, sambil menjadi pegawai di Perpustakaan Kampus. Gajinya perbulan cukup untuk kebutuhan hidupnya, bahkan terkadang lebihnya selalu dia berikan pada Bunda, panggilan pengasuh panti.

Konflik dalam novel ini dimulai saat Bu Amir menjodohkan Amelia dengan Harun. Harun adalah anak saudara Bu Wati. Bu Wati adalah orang yang baik sayangnya Harun sebaliknya. Dia adalah peminum dan penjudi. Dia memiliki tempat untuk minum dan berjudi. Dia kaya dari itu dan karena kaya itulah Bu Amir setuju Harun menikah dengan Amelia, tanpa memandang kekayaannya itu berasal dari uang haram.

Amelia yang tahu bahwa Harun memiliki sikap dan sifat yang buruk itu dengan serta merta menolak Harun. Singkat cerita, akhirnya Amelia kabur dari rumah. Awalnya dia menginap di kos Santi, namun ibunya tahu juga di mana anaknya menginap. Akhirnya dia segera pindah rumah ke sebuah rumah di Bekasi, dia membeli dengan menyicil.

Walaupun semasa kanak-kanak dia kerap mendapatkan siksaan dari ibunya. Dia selalu ingat hadist Rasulullah SAW yang menyatakan penghormatan pada ibu itu lebih dari pada bapak. Karenanya, dengan gaji pekerjaan baru dia masih mengirim uang pada bapak ibunya. Sayang, tanpa dia pikirkan terlebih dahulu, alamat yang dia cantumkan dalam surat mengirim uang kepada ibunya adalah alamat rumahnya sekarang. Akhirnya, orang tuanya pun tahu di mana dia sekarang tinggal. Ibu dan bapaknya pun datang ke rumah yang dia tempati saat itu.

Triani Retno penulis novel ini memang paiawai dalam merangkai kata dan tema kisah. Karena keduanya bersatu menjadi kisah yang mengalir, novel ini sangat menarik  dengan ending yang tak terduga dan akan terus membuat penasaran pembaca untuk membaca hingga lembar halaman terakhir. Novel ini mendapat inspirasi dari kisah nyata tentang siksaan yang dilakukan orang tua pada anaknya yang saat ini semakin banyak. Retno mencoba mengcounter perilaku buruk orang tua tersebut, dengan penyadaran yang halus nan lembut, yakni melalui novel keren ini.

23 thoughts on “Ketika Ibu Durhaka Pada Anaknya

  1. nannia 26 November 2012 / 15:01

    blog walking..
    sepertinya jarang ya buku yang membahas ttg kezaliman orang tua thd anaknya, padahal saat ini mungkin masih ada yang melakukan baik secara halus maupun terang2an.

    Suka

  2. merdeka1945 16 Januari 2013 / 06:59

    kisahnya sungguh menarik

    Suka

  3. indahnovie 23 November 2013 / 16:55

    aku kira buku ini isinya penyiksaan ibu ke anaknya. nggak, ya?

    Suka

  4. ika sulistyaa (@ika_sulistyaa) 20 Juli 2014 / 14:45

    baru baca sinopsisnya aja saya langsung tertarik sama novel ini.,.karena tak banyak yang membahas mengenai kedurhakaan orang tua terhadap anak..kebanyakan yang dibahas semua mengenai kedurhakaan anak terhadap orang tua tanpa memandang dari sisi si anak itu sendiri..salut juga buat tokoh utama yang masih bisa berbakti di bawah tekanan sang ibu yang menurut saya kalao saya ada di posisi itu saya bakal melarikan diri tanpa peduli mengenai orang tua lagi..agak egois memang tapi jujur saya bukan tipe orang yang tahan terhadap tekanan jadi saya lebih memilih melarikan diri..

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 21 Juli 2014 / 03:19

      bagus memang mba, terima kasih atas kunjungan dan sharenya ya mba. Semoga hidup kita semua semakin baik🙂

      Suka

  5. cinta cinta 8 Februari 2015 / 10:36

    Bagaimana menghadapi kedua orangtua,yg kpn pun siap menjerumuskan anak kandungnya sendiri masuk ke neraka,hanya demi uang dan urusan perut,mohon balasannya,trm ksh

    Suka

    • Triani Retno A 8 Februari 2015 / 20:03

      Yang saya tahu sih, kita wajub mematuhi perintah orangtua selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah.

      Suka

      • Muhammad Rasyid Ridho 9 Februari 2015 / 07:00

        Terima kasih Mba Eno sudah memberi jawaban atas pertanyaan di resensi buku Mba Eno.

        Saya setuju atas jawaban Mba Eno, semoga cinta-cinta paham yaa..

        Suka

  6. Aneth Purbasari 27 Maret 2015 / 00:53

    Untuk Cinta Cinta, pilihan saya untuk pergi menjauh sementara dari ibu memberikan hasil yg lebih baik bagi semua, tdk saling menambah memori hitam, dan kami bertemu kembali saat saya sudah bs menunjukkan hasil dari ketenangan diri. Biar prestasi yg bicara.
    If we were not feel happy first, we couldnt make others happy.
    Happiness comes from inside, and it grows in lovely surrounding.

    Suka

  7. John 27 Agustus 2015 / 07:13

    info yang sangat menarik, sepertinya harus dicoba🙂 , Affleck

    Suka

  8. Angga 4 Oktober 2015 / 09:30

    Kereen nih buku,,jaman dulu iya anak durhaka pd ibunya,,tp jaman skrg malah berbalik,,kebanyakan ibu yg durhaka pd anaknya,,bnyak ibu yg gk menyimpan surga di telapak kakinya,,banyak ibu yg dgn sengaja mendzholimi anaknya sendiri

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 4 Oktober 2015 / 10:23

      hehe iya betul, dua-duanya di zaman sekarng ada. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya ya..

      Suka

  9. Penerbitan Buku 30 Juli 2016 / 02:22

    jangan sampai durhaka kepada ibu. terima kasih. Kunjungi blogku ya.

    Suka

  10. alya harun 16 Agustus 2016 / 23:17

    Sehabis baca ini jd sedikit dapat pencerahan😀
    Aku tinggal 1 rumah dgn ibu ku tapi sering perang dingin (diem-dieman)
    karena setiap ada kata-kata pasti ujung2 nya berantem hebat padahal masalahnya sepele..
    Yg aku rasakan dari kecil sampe sekarang..
    Ibuku selalu saja terlihat benci kepadaku

    Suka

    • ai eva 17 Agustus 2016 / 15:09

      Aku rasanya ada hal yang sama… boleh share gak “pencerahan” tadi…
      mksdnya gimana dan solusi nya spt apa?

      Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s