(08-Resensi Buku 2013-Koran Kampus Bestari Maret 2013) Kiprah Petani Peradaban Menyemai Bibit Bangsa

Judul                            : Menjadi Guru Inspiratif (Man Jadda Wajada 2)
Penulis                         : A. Fuadi, dkk
Penerbit                     : Bentang
Tahun Terbit             : Pertama, Desember 2012
Jumlah Halaman        : 186 Hal
ISBN                            : 978-602-8811-80-4
Peresensi                   : Muhammad Rasyid Ridho, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMM. Ketua Journalistic Club Ikom Universitas Muhammadiyah Malang dan bergiat juga di Forum Lingkar Pena Malang Raya.
Banyak yang mengatakan guru adalah singkatan dari digugu dan ditiru.  Ada pula yang menyatakan,without teachers we are nothing. Nama guru pula tak jauh dari kehidupan kita, sejak awal pertumbuhan biasanya yang kita kenal adalah guru ngaji (ustad) karena mulai belajar Al-Qur’an di mushala terdekat. Kemudian menginjak usia lebih bertemu guru di Taman Kanak-Kanan (TK), Sekolah Dasar dan seterusnya. Betapa sangat jarang kita merasa jika melihat diri kita sekarang, semua itu sungguh ada pengaruh dari apa yang pernah disampaikan guru-guru kita terdahulu.
Ahmad Fuadi penulis novel best seller Negeri Lima Menara, mengambil tema tentang guru untuk buku Man Jadda Wajada series kedua. Ahmad Fuadi mengenang semua ustadz terutama Kiai pondok pesantren yang memberikan banyak jasa baginya, Pondok Modern Gontor. Karena, tarbiyah (pendidikan)  di sanalah, dia bisa menjadi seperti sekarang. Itulah kenapa tema yang dipilih adalah guru.
Ahmad Fuadi mengatakan guru adalah petani peradaban. Guru menyiapkan bahan dan lahan belajar di kelas, memelihara baik-baik bibit penerus bangsa, menyirami mereka dengan ilmu dan memupuk jiwa mereka dengan karakter yang luhur. Bila tiba masa kelulusan, guru akan tersenyum bahagia ketika anak didiknya meninggalkan sekolah, tumbuh besar, dan memberi manfaat buat orang lain. Guru yang ikhlas adalah petani yang mencetak peradaban (halaman 1-2).
Berbeda dengan kisah Ahmad Fuadi di Negeri Lima Menara, Muhammad Al Aliy Bachrun yang juga santri Pondok Modern Gontor bercerita tentang tradisi Ping Sewu di pondok tersebut. Ketika ustad menyampaikan topik tentang kebaikan, keikhlasan, semangat, kerja keras, pengorbanan dan hal positif lainnya selalu dilakukan berulang-ulang dalam setiap kesempatan. Itulah yang dimaksud dengan Ping Sewu, seribu kali menyampaikan kebaikan.
Awalnya Aliy bertanya-tanya dan merasa bosan kenapa mesti selalu diulang-ulang sampai seringkali. Baru, setelah mengajar dia mengerti dan paham mengapa mesti sampai seribu kali menyampaikan kebaikan. Tepatnya, ketika dia pun telah menjadi ustad, apa yang disampaikan ustadnya berkali-kali dulu bagaikanmusic player yang berputar (halaman 55). Sehingga, dia dengan mudah menyampaikan kepada santrinya kini apa yang dulu ustadnya sampaikan kepadanya. Betapa Ping Sewu begitu mengena dalam sebuah proses belajar mengajar.
Kita akan mendapatkan pula kisah Drs. Suhardi, M.Pd, yang diceritakan oleh anaknya sendiri Faradhilla Dhevi yang berjudul Istana Impian. Dalam tulisannya, Dhevi menceritakan sang Ayah yang ditugaskan sebagai pegawai TK-ST (Tenaga Kerja Sukarela Terdidik) di sebuah desa transmigrasi yang belum tertulis di peta, Sungai Bahar.
Ayah Dhevi memiliki keinginan agar anak-anak di Sungai Bahar bisa meneruskan ke jenjang pendidikan SMA. Inilah istana impian yang dimaksud, istana putih abu-abu. Karena jauhnya jarak SMA di daerah itu, akhirnya banyak impian anak-anak yang ingin melanjutkan ke SMA kandas di tengah jalan. Dengan penuh semangat Pak Suhardi berjuang mencari dukungan agar bisa mendirikan istana impiannya itu. Dimulainya dia mendatangi kades setempat. Ternyata Pak Kades sangat setuju. Berkat pengarahan Pak Kades pula, warga pun bersedia untuk membantu apa yang mereka bisa untuk membangun SMA. Mereka rela jika hasil panen sawitnya dipotong untuk iuran. KUD pun turut menyumbang.
Namun begitulah, tugasnya tak berhenti di situ. Setelah, terpilih menjadi kepala sekolah yang berarti menjabat rangkap sebagai kepala sekolah SMP dan SMA. Hambatan yang menurutnya adalah anugerah. Dia harus menghadapi berbagai macam guru berikut sifat dan sikapnya. Pak Suhardi, melewati semua itu dengan sabar. Akhirnya, para guru-guru itu pun tersadar dan menyamakan visi dan misinya.
Selain tiga tulisan di atas, buku ini juga memuat 11 tulisan lain yang tentu saja tak kalah menginspirasi tentang perjuangan seorang guru  yang masih tetap pendiriannya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Buku ini sangat layak dibaca oleh calon sarjana pendidikan untuk merecharge semangat membangun peradaban bangsa juga bagi guru agar tak luntur pengabdiannya dalam menyemai bibit bangsa.
*naskah pemenang pertama lomba menulis resensi dalam rangka ulang tahun Bestari

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s