(41-Resensi Buku 2013-Rimanews.com 9 Juli 2013) Membaca Jawara dalam Fiksi

Banten dengan segala apa yang ada di dalamnya memang menakjubkan. Pesantren, padepokan silat dan jawara bahkan santet. Untuk melestarikannya agar tak menjadi punah dan menjadi kebanggaan generasi berikutnya. Fatih Zam menulis sebuah novel yang berjudul Jawara, Angkara di Bumi Krakatau.

 

Jawara di tanah Banten sangat terkenal. Bukan hanya pemilik ilmu bela diri ciri khas Banten. Namun, sebagai tameng dan penjaga ulama yang lagi mensyiarkan Islam. Pihak pesantren dan padepokan persilatan dalam talian persaudaraan yang damai. Namun, perdamaian itu mulai terusik. Dikarenakan ada oknum yang memakai nama jawara merusak keamanan daerah juga mengancam akan menyerbu pesantren.

 

Santri dan Kiai mulai siap siaga, ketika tahu masyarakat mulai tak nyaman dengan kerusuhan yang dilakukan begundal ‘oknum’ yang mengaku jawara apatah lagi mereka ingin menghancurkan seluruh pesantren di tanah Banten. Setelah kematian Kiai Subadra, anaknya Kiai Sumanta mengirim Jaka salah satu santrinya untuk berguru pada kakek Lie Ching, salah seorang pendekar yang dikenal Kiai Subadra.

 

Jaga memerlukan ilmu bela diri untuk mempertahankan pesantren dan mengalahkan Angkara, nama yang selalu diucapkan oleh para begundal yang terkenal hebat ilmu kanuragannya. Menurut cerita Angkara hanya bisa dikalahkan dengan memahami ilmu di sebuah kitab yang bernama Cikadeunlah. Jaka berharap dengan berbekal ilmu dari Kakek Lie Ching dia bisa mendapatkan Kitab Cikadeunlah.

 

Setelah melewati masa sulit di “kawah candradimuka”, akhirnya Jaka lulus dari pengajaran Kakek Lie Ching. Jaka menjalani hari-hari yang lebih sulit dari masa penggemblengan ilmu bela diri bersama Kakek Lie Ching. Karena, bukan cuma dia yang menginginkan Kitab Cikadeunlah. Semua jawara di tanah Banten, menginginkan dan saling berebutan.

 

Sebutlah saja, Badai yang lahir di Pandeglang juga mencari kitab yang sejak kecil selalu menjadi kisah pengantar tidurnya. Dia mulai berkelana mencari kitab legendaris tersebut. Dalam perjalanannnya dia bertemu dengan pemilik padepokan yang juga membuat golok yang tak lain adalah adik seperguruan gurunya. Ketika akan melanjutkan perjalanan Badai, diberi hadiah salah satu golok yang bernama Salam Nunggal.

 

Dengan golok itulah Badai mampu mengalahkan para begundal yang juga mengincar Kitab Cikadeunlah. Dalam perjalanan, Badai bertemu dengan Jaka dan Sulastri salah satu murid pembuat golok yang mendapat tugas untuk menemani perjalanan Badai.

 

Dalam perjalanan mereka bertemu dengan begundal dan juga Jawara asli. Ketika kebanyakan para begundal sudah mati, ada jawara yang masih memegang idealismenya. Dia menyalahkan pihak pesantren akan menyerang padepokan silat sedangkan di pihak pesantren waspada akan kedatangan jawara yang kabarnya akan membumi hanguskan pesantren.

 

Akhirnya, mereka sepakat untuk kembali bersatu dan mengatakan bahwa semua ini adalah tipu daya para begundal oknum yang mengaku jawara untuk merusak keharmonisan pesantren dengan jawara. Mereka bersama-sama mencari Kitab Cikadeunlah.

 

Selain  kisah pencarian Kitab Cikadeunlah ada kisah lain yang tentang Gojali dan Saefudin. Mereka adalah dua sahabat, Gojali yang akan menikah dengan Sumi harus gagal karena Sumi tidak ingat dengan Gojali, alias lupa. Kabarnya, dia lupa karena mendapat pelet dari Ki Johani.

 

Di antara dua kisah di atas sayang sekali di akhir kisah Fatih Zam tidak memberikan korelasi. Selain tidak ada benang merah, juga dua kisah di atas sama-sama menggantung dan di akhiri dengan meletusnya gunung Krakatau. Novel ini bahkan tidak menguak siapakah Angkara itu sebenarnya. Pertanyaan lain, kisah pertarungan tiba-tiba sudah selesai. Sangat disayangkan, jika epilog novel lebih jelas tentu lebih menarik.

 

Terlepas dari beberapa kekurangan novel ini, novel ini tetap layak diapresiasi. Fatih Zam mampu menuliskan kisah silat yang sangat menarik yang seakan-akan ada di depan pembaca. Selain itu pembaca akan mengetahui seluk beluk Banten, misteri jawara, golok sebagai senjata khas Banten, begitu pula Banten yang tidak lepas dari isu santet. Buku setebal 530 halaman layak Anda baca, terutama Anda yang suka dengan cerita silat.

________________________________

Judul                            : Jawara

Penulis                          : Fatih Zam

Penerbit                       : Metamind, Tiga Serangkai

Tahun Terbit                : Desember, 2011

Jumlah Halaman       : 530 halaman

ISBN                           :  978-602-9251-09-8

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Ketua Journaslistic Club Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

dimuat di http://www.rimanews.com/read/20130709/109721/membaca-jawara-dalam-fiksi

Screenshot_070913_043442_AM
cover diambil dari rimanews.com

2 thoughts on “(41-Resensi Buku 2013-Rimanews.com 9 Juli 2013) Membaca Jawara dalam Fiksi

  1. Fatih Zam 9 Juli 2013 / 15:56

    Terima kasih atas review-nya Kang Ridho. Selalu, menambah semangat bagi saya. Lanjutkan!🙂

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 9 Juli 2013 / 16:14

      sama-sama kang Fatih Zam. Yaa bisanya cuma nulis resensi dan sedikit ngrtik, semoga berkenan dan saya bisa mengikuti jejak Kang Fatih bisa bikin Novel😀

      Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s