(44-Resensi Buku 2013-Koran Jakarta 25 Juli 2013) Kisah Dua Insan Meraih Cinta dan Cita-Cita

cover coba tunjuk satu bintang
cover diambil dari goodreads

Judul                            : Coba Tunjuk Satu Bintang

Penulis                          : Sefryana Khairil

Penerbit                       : Gagas Media

Tahun Terbit                : Pertama, 2013

Jumlah Halaman          : 210  halaman

ISBN                           :  978-979-780-647-7

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Ketua Journalistic Club Ikom UMM dan anggota  Forum Lingkar Pena Malang Raya. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMM.

Dio dan Marsya, saling mencintai dan telah merencanakan pernikahan mereka berdua. Suka cita di antara keduanya, mereka mempersiapkan semua yang dibutuhkan pada hari pernikahannya. Sayangnya, pernikahan harus dibatalkan. Parahnya lagi, yang membatalkan adalah Dio, calon mempelai pria.

Hal ini disebabkan dilema yang menghampiri dirinya. Tuntutan orang tua dan  saudaranya untuk membuktikan bahwa dia bisa mandiri akan dia jawab dengan mengambil kesempatan untuk bekerja di Hamburgh. Tak pelak keputusan Dio menghancurkan semua, Marsya pantas berduka. Sedangkan Dio tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah pada keadaan.

Hari-hari Marsya menjadi kalut. Marsya yang suka melukis, mendapati perbedaan dari lukisan yang dibuatnya. Keceriaan kini tak menghiasi lukisannya. Lukisannya menjadi agak gelap dan terasa seperti aura kesedihan.

Namun, perubahan dan kesedihan itu perlahan menghilang karena datangnya Andro, kolega Marsya yang gagal membuat pameran lukisan karena batalnya pernikahan Marsya. Rupanya Andro menyukai Marsya dan mengambil kesempatan atas batalnya pernikahan Marsya untuk memulai langkah dari nol (halaman 35).

Tidak sia-sia ternyata upaya Andro membuahkan hasil. Cintanya bersambut. Marsya pun mencoba mencintai Andro. Marsya berharap dengan mencintai dan memilih Andro maka hal itu akan menghilangkan segala patah hatinya dan segala kenangan bersama Dio.

Tidak disangka, Dio yang memutuskan untuk mengambil tawaran kerja di Hamburg merasakan kesepian dan penyesalan karena telah membatalkan rencana pernikahan dan meninggalkan Marsya, kesuksesan kerjanya di Hamburg seakan sia-sia. Maka, Dio memutuskan liburan kerjanya adalah untuk pulang ke Indonesia. Dengan satu niatan, bertemu Marsya meminta maaf padanya dan memulai kisah cinta mereka berdua kembali (halaman 20-21).

Sayangnya, kepulangan Dio ke Indonesia terlambat. Marsya semakin dekat dengan Andro dan mereka merencanakan pertunangan.  Ketika Dio akan memberikan sebuah cincin sebagai tanda lamaran ke rumah Marsya, Dio harus menerima kekalahannya karena pada saat itu Andro dan Marsya menyelanggarakan acara pertunangan. Hal tersebut menyebabkan Dio patah hati. Dia mengemudikan mobilnya menjadi tidak konsentrasi dan menyebabkan kecelakaan. Dio harus dirawat di rumah sakit.

Kecelakaan yang dialami Dio menyebabkan Marsya menyadari bahwa apa yang dia lakukan dan putuskan salah. Marsya pun merasakan dilema, ternyata dia tidak bisa sepenuhnya melupakan Dio yang berarti pula tidak bisa sepenuhnya mencintai Andro. Marsya merasakan sakit hatinya semakin menusuk, lantaran dia tahu alasan utama Dio pulang ke Indonesia hanyalah dia. Dia bingung harus memilih apa sedangkan pertunangan sudah terjadi antara dia dan Andro. Dilema luar biasa menghampiri benaknya.

Singkat cerita, akhirnya Andro mengetahui bahwa Marsya masih mencintai masa lalunya, setelah menemukan liontin yang terjatuh di mobilnya. Liontin yang sama juga dimiliki oleh Dio. Mengetahui itu Andro menyesal karena ternyata dia telah mengambil cinta orang lain, dan dia pun mengikhlaskan Marsya kembali pada Dio dan membatalkan pertunangan antara mereka (halaman 172-173).

Dalam novel ini penulis yang sebelumnya sudah menerbitkan lima novel ini, menghiasi novel ini dengan pengetahuan rasi-rasi bintang sehingga menjadi unik. Sekilas judul buku ini mirip dengan salah satu lagu band yang populer di era 90an Sheila on Seven, tetapi itu hanya kebetulan saja karena tidak ada satupun hubungan novel ini dengan lagu tersebut. Penulis mengamanatkan bahwa cita-cita dan impian seharusnya berjalan seiring dengan cinta, dengan begitu kehidupan akan semakin indah. Selain itu, novel 210 halaman ini juga mengisyaratkan bahwa cinta akan memilih siapa yang sejati bagi diri kita, ketika hati telah memilih maka berusahalah. Ada baiknya kalimat berikut, “Sebenarnya kita tidak ke mana-mana. Hanya berdiri di tempat yang sama. Kita berhenti berusaha. Kita sama-sama tidak percaya pada yang apa kita punya.” (halaman 177).

#naskah asli sebelum diedit editor koran jakarta,  http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/124911

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s