(45-Resensi Buku 2013-Mjeducation.co 26 Juli 2013) Panduan Menjadi Travel Writer Profesional

cover travel writer
cover diambil dari mjeducation.co

Judul : Travel Writer

Penulis : Yudasmoro

Penerbit : Metagraf

Tahun Terbit : Juli, 2012

Jumlah Halaman : 204 halaman

ISBN : 978-602-9212-44-0

 

Travelling mendadak menjadi hobi yang disukai banyak orang. Tak hanya itu, menuliskan kisah perjalanan pun mulai digemari orang. Ternyata, menjadi travel writer itu cukup menjanjikan. Karena bisa menghasilkan uang sekaligus jalan-jalan secara gratis pula. Siapa yang tidak mau mendapatkan kenyamanan dua kali lipat tersebut.

 

Namun, menjadi travel writer tidak semudah yang dibayangkan. Karena menjadi travel writer tidak hanya soal jalan-jalan sesuai hobi kemudian menuliskannya menjadi artikel. Sah-sah saja jika hanya ingin menjadi travel writer biasa kemudian diunggah ke blog. Tetapi tidak bagi freelancer di media semisal majalah National Geographicmisalnya. Travel Writer juga harus memperhatikan apa saja yang dibutuhkan oleh media yang dibidiknya, sehingga akan menarik hati sang editor.

 

Travel writer bukan hanya soal menulis, namun harus dikombinasikan dengan keahlian memotret. Menulis pun tidak asal menulis tetapi juga perlu memiliki pengetahuan jurnalistik. Menurut Yudasmoro, menulis artikel travel itu sama dengan membuat sebuah film dokumenter. Bedanya, kita tidak menghadirkan gambar bergerak dan karya kita tidak dipamerkan di gedung bioskop atau televisi (halaman 41).

 

Buku ini terdiri dari delapan destinasi. Destinasi pertama penulis mengenalkan apa itu travel writer. Dalam terjemahan langsung, travel writer bisa diartikan sebagai penulis wisata atau jurnalis wisata (halaman 3). Dalam buku ini penulis akan memandu untuk menulis travelling di media cetak (majalah), pengenalan pada konsep travel writer, dan panduan supaya tetap eksis di media sebagai travel writer profesional.

 

Dalam destinasi dua penulis memaparkan tentang jurnalisme sastra, jurnalisme naratif dan jurnalisme feature. Jurnalisme sastra adalah gaya jurnalistik yang mampu menghadirkan artikel yang terdiri dari olahan data yang sangat akurat, kemampuan mengoptimalkan bahasa dan alur cerita yang cenderung seperti tulisan novel. Sedangkan jurnalisme naratif adalah genre yang berkembang di Amerika Serikat dengan nama new journalism berusaha untuk menjembatani antara jurnalistik dan sastra yang sudah lebih dulu merambah di dunia jurnalistik. Perbedaannya, jurnalisme naratif lebih menyentuh masalah alur cerita, adegan atau plot. Sebagian orang menganggap tidak ada perbedaan antara jurnalisme naratif dan jurnalisme sastra, hanya berbeda sebutan saja. Feature adalah berita yang dikemas dalam bentuk cerita sederhana. Feature bisa digunakan untuk menulis tentang kehidupan sosial, human interest, dan gaya hidup. Karenanya, feature adalah dasar dari sebuah penulisan travel writing.

 

Pada destinasi ketiga, buku ini memaparkan tentang pengetahuan fotografi. Karena memang travel writer wajib mengetahui dasar-dasar fotografi agar mudah dalam melaksanakan tugasnya. Dengan semakin canggihnya teknologi kamera, maka itu akan semakin memudahkan travel writer memotret sesuai keperluannya. Nah,penulis juga menegaskan sebenarnya tak perlu memakai DSLR untuk menghasilkan foto yang bagus, cukup dengan kamera pocket, dengan kreativitas maka kita akan menghasilkan foto yang bagus. Untuk memudahkan buku ini pun memberi contoh foto-foto penulis yang bagus dan layak dinamakan dengan foto travel.

 

Tentang traveling sendiri penulis membahas di destinasi keempat. Pada bagian ini penulis menekankan bahwa traveling bukanlah melulu harus melihat air terjun yang lokasinya sulit dicapai. Traveling bukanlah mengendarai jip dengan pakaian macho menembus badai pasir dan traveling bukanlah sekadar pack your bag & hit the road (halaman 98). Penulis mengatakan bahwa traveling tidak bisa dipisahkan dari pariwisata, dan travel writer harus mengetahui bahwa pariwisata berarti industri dan industri berarti bisnis. Maka, tidak salah dikatakan bahwa menjadi travel writeradalah berbisnis. Maka, penulis berharap jangan sampai travel writer menelan mentah-mentah istilah let’s get lost. Karenanya, travel writer harus menyiapkan segalanya sebelum melakukan perjalanan. Tentang tujuan sepertinya sepele tetapi menurut penulis ini penting kita persiapkan sejak awal, agar di perjalanan menjadi mudah. Karena kita telah tahu ke mana akan melakukan perjalanan, seperti apa medannya, apa saja yang dibutuhkan dan sebagainya.

 

Hal-hal yang harus diperhatikan menurut Yudasmoro pertama adalah faktor cuaca.Travel writer harus mengetahui jika cuaca tidak baik misalkan hujan padahal rencana akan melakukan trip ke pantai dengan tujuan mendapatkan foto-foto yang indah. Maka perjalanan ke pantai saat itu lebih baik dibatalkan, ketimbang membuang tenaga, uang sia-sia karena kita tidak mendapatkan foto-foto yang diinginkan.

 

Kedua, musim liburan perlu diperhatikan oleh travel writer. Bagi banyak orang musim liburan adalah hal yang paling dinanti. Namun, tidak demikian bagi travel writer. Ketika liburan harga tiket bisa melambung dari biasanya, karena itu liburan bagitravel writer wajib diperhitungkan. Yudasmoro, memberikan alternatif agar kita tetap bisa eksis. Travel writing bukan hanya menulis perjalanan, tetapi juga bisa menulis profil sosok budayawan atau seniman. Bisa juga menulis tentang lenong betawi atau meliput komunitas sepeda fixie. Jadi, saat liburan kita bisa memanfaatkan yang objek-objek terdekat untuk ditulis, murah bahkan bisa gratis. Hal yang sama juga ketika bulan puasa dan dana terbatas, hal di atas bisa kita lakukan. Tambahan dari Yudasmoro, kekurangan dana bisa dikonsultasikan dengan pihak media apakah bisa membayar lebih tinggi atau tidak. Jika ya ambil saja, jika tidak atau hanya sebatas memberi kupon diskon dan hotel jangan diambil. Lebih baik ditunda, menunggu ada uang atau media yang bersedia membayar mahal. Perlu diingat oleh seorang travel writer: travelling is a business, not a vacation (halaman 105).

 

Menulis perjalanan bukanlah sekadar menuliskan perjalanan yang kita lalui, tetapi juga harus dengan berbagai teknik. Seperti dengan gaya bahasa yang menarik. Yudasmoro, membahas tuntas hal ini dalam destinasi kelima dengan contoh-contoh yang bisa kita pelajari dan langsung praktik menulis sesuai panduan yang diberi penulis.

Dalam destinasi keenam baru penulis memaparkan materi lengkap tentang menulis perjalanan. Bagaimana memulai tulisan, bagaimana membuat judul, bagaimana mengumpulkan data bahkan juga bagaimana mengirimkan tulisan? Buku setebal 204 halaman ini pun dilengkapi dengan contoh tulisan perjalanan penulis yang pernah dimuat di berbagai media di destinasi ketujuh. Menjadi travel writer berarti kita juga harus siap dengan deadline dari editor. Kita harus disiplin pas waktu, karena jika tidak begitu, maka kita tidak akan dipercaya lagi dan bisa saja jobs berikutnya bukan milik kita lagi. Sangat disayangkan bukan? Yudasmoro membahasnya di destinasi kedelapan.

 

Maka tak salah bagi Anda yang tak hanya ingin menjadi travel writer biasa untuk membaca buku yang masih langka di Indonesia ini, dengan memahaminya dan melakukan praktik terus-menerus pasti nantinya akan profesional seperti penulis buku ini. Semoga!

 

#link http://mjeducation.co/panduan-menjadi-travel-writer-profesional/comment-page-1/#comment-3723

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s