(46-Resensi Buku 2013-Rimanews.com 30 Juli 2013) Cinta di Tengah Konflik Arakan

Di Edisi terbaru Majalah Times, memuat headline dengan cover biksu Budha Myanmar sebagai teroris. Sehingga, majalah tersebut dilarang beredar di sana. Mungkin sebagian masyarakat dunia sudah tahu, perihal hak asasi manusia muslim Rohingya yang berada di Arakan Myanmar sedang dirongrong oleh pemerintahnya sendiri. Namun, bisa saja masih ada saja yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sana. Salah satu penyebabnya, karena corong berita media lokal telah dikuasai pemerintah dan media asing dihalangi untuk masuk ke daerah konflik. Akibatnya, berita tentang Arakan Rohingya tidak bisa diakses oleh masyarakat dunia. Majalah Times membuat gebrakan yang menggegerkan dunia.

 

Sebelum dipartisi oleh penguasa Myanmar luas wilayah Arakan 21.694 mil persegi, namun sekarang hanya tersisa 18.500 mil persegi. Meliputi pegunungan, bukit, batu karang, dataran pulau, dan sungai. Namun, setengah dari luas wilayahnya adalah hutan dan hamparan bukit batu kapur sepanjang empat mil di Pulau Ramree. Wilayah yang berlimpah dengan sumber daya alam dan kaya bahan baku. (halaman 5)

Arakan yang dipisahkan dari daratan Myanmar oleh Arakan Roma (Arakan Range), sebagian telah dihuni oleh warga imigran dari Bangladesh atau India pada abad ke-8 Masehi. Pengaruhnya, bisa terlihat dalam banyak aspek, budaya, sastra, musik dan masakan.

 

Di sepanjang pantai lepas Arakan tanahnya menyimpan timbunan minyak. Di tempat lain menandakan bahwa Arakan adalah tanah potensial sumber daya alamnya seperti batu Bara di Townsip Sittwe, marmer di Taung Kook Township, dan pembuatan garam surya di Thantwe, Taungup serta Kyaupru. Tak pelak, Perusahan gas Cina, Chevron AS dan Total Prancis masuk ke daerah ini.

 

Rupanya, tanah yang begitu berlimpah sumber daya alam tidak memberikan kebahagiaan bagi rakyat Rohingya sebagai penghuni asli tanah tersebut. Sebab, selain dikuasai oleh asing, pihak pemerintah pun tergiur dan hanya ingin menguasi sendiri kekayaan alam tersebut tanpa sedikit pun orang Rohingya mencicipinya. Inilah alasan yang menjadikan pemerintah dan komunitas Budha bersatu menganggap Muslim Rohingya adalah penduduk ilegal dan memaksa mereka untuk keluar dari ibu pertiwi. Bahkan ada yang dikabarkan dibunuh karena tidak keluar dari Arakan. Diskriminasi lainnya adalah tidak mendapatnya Muslim Rohingya keadilan dan layanan dari pemerintah, seperti pendidikan juga kesehatan.

 

Hal inilah yang membuat sebagian Muslim Rohingya berjuang untuk mendapatkan keadilan. Mahmud Shiko salah satunya. Di masa mudanya, dia sering bergerilya berpindah dari satu tempat ke tempat lain agar terhindar dari penangkapan militer. Beranjak tua, dia kembali ke daerah asal dan menemani anaknya yang beranjak dewasa, Jahid Zew Oo.

 

Harapan apa yang pernah diperjuangkannya untuk Muslim Rohingya bertumpu pada anak satu-satunya tersebut. Dia ingin Zew Oo keluar Arakan untuk melanjutkan studinya di sebuah Universitas. Namun, ternyata Zew Oo tidak mau meninggalkan tanah kelahirannya walaupun dengan alasan sekolah. Karena, menurutnya untuk mendapatkan ilmu tidak harus dengan sekolah. Dia bisa mendapatkan ilmu langsung dari buku. Dia ingin tetap di Arakan, dan membuat sanggar. Sanggar baca dan diskusi untuk masyarakat Arakan seluruhnya, khususnya Muslim Rohingya yang sulit mendapatkan pendidikan formal. Setidaknya mereka masih bisa membaca dan menambah wawasannya dan tingkat keintelektualnya. Dari inilah Zew Oo memulai perjuangannya.

Apa yang diragukan ayahnya, menjadi lenyap karena ternyata respon dari masyarakat sekitar positif dan mendukung. Semakin banyak yang datang ke sanggar untuk membaca dan diskusi.

 

Tidak hanya bercerita perjuangan, namun sebagai pemuda Zew Oo juga merasakan jatuh cinta. Pertemuan Zew Oo dengan Mya Hatike, seorang anak perempuan Biksu terkenal vokal terhadap pengusiran Muslim Rohingya menyebabkan dia semakin dewasa dalam menjalani hidup (halaman 35). Konflik cerita pun ada di sini ketika Ayah Mya yang tidak setuju dengan hubungan mereka yang saling suka.

 

Namun, mereka tetap teguh, sampai Mya Hatike datang ke rumah Zew Oo. Bertepatan dengan kerusuhan yang terjadi dan datangnya rombongan para biksu ke daerah Muslim Rohingya. Karena kemarahannya yang sudah tak terbatas, ayah Mya tidak menganggap Mya sebagai anaknya lagi. Sedangkan ayah Zew Oo memberikan kesempatan untuk mereka berdua untuk menjalin hubungan yang baik.

 

Novel 422 halaman ini mengisyaratkan sebenarnya jika ada di cinta di hati masing-masing manusia di Arakan. Maka konflik di daerah tersebut bisa saja teratasi. Karena ketamakan, egoisme terkikis oleh cinta. Seperti kisah sepasang kekasih tersebut. Dengan cinta, harapan yang baik masih ada untuk mereka. Walau di tengah konflik sekalipun.

 

Judul     : Debu-Debu Rakhine

Penulis    : Zhaenal Fanani

Penerbit   : Laksana, Diva Press

Tahun Terbit   : Mei, 2013

Jumlah Halaman  : 422 halaman

ISBN    :  978-602-255-063-1

Peresensi   : Muhammad Rasyid Ridho, Ketua Journaslistic Club Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

 

#link http://www.rimanews.com/read/20130730/111979/cinta-di-tengah-konflik-arakan

cover debu-debu rakhine
cover diambil dari rimanews.com

 

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s