Jejak Raport Merah Para Penguasa

Judul                            : Menulak Lupa

Penulis                          : Faidi A. Luto

Penerbit                       : Palapa (Diva Press)

Tahun Terbit                : Mei, 2013

Jumlah Halaman          : 152 halaman

ISBN                           :  978-602-7968-00-4

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Ketua Jurnalistik Club Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Mesuji memanas lagi, karena ditangkapnya Kristiyadi yang biasa dipanggil Kang Yadi. Dia adalah tokoh penghuni register 45 Mesuji, ditangkap oleh aparat pada hari selasa (3/9). Tersebab itu gerombolan massa datang ke Mapolres Mesuji, mereka bersenjatakan pedang, golok, samurai dan senjata api rakitan. Mereka meminta agar bapak mereka (Kang Yadi) dibebaskan. (Jawa Pos, Kamis 5 September 2013).

Mesuji-Lampung memang daerah yang rawan terjadinya kekerasan sampai pada pembunuhan  yang sesekali bisa membara. Bahkan kasus tragedi berdarah  Mesuji tak hanya menyita perhatian masyarakat tanah air, tetapi juga dunia dikarenakan banyak memakan banyak korban. Namun begitu, pemerintah seperti tak pernah serius menanggapi tragedi guna menyelesaikan dan tak terulang lagi di masa depan.

Peristiwa Mesuji pertama kali terjadi pada tahun 2009. Persoalannya adalah perebutan kepemilikan tanah.  Di awali dengan perluasan lahan oleh PT Silva Inhutani (SI) sejak tahun 2003 silam. Sekelompok petani di Mesuji merasa dirugikan oleh PT SI terkait lahan seluas 3.600 hektar.

Sebagaimana rilis Komnas Ham tentang kronologi kasus di Mesuji, Ridha Saleh (tanggapnews.com) guna menemukan apa yang sebenarnya terjadi. Konflik di Desa Sungai Sodong adalah karena pelanggaran yang dilakukan oleh PT. Sumber Wangi Alam (PT. SWA) atas perjanjian dengan warga yang dilakukan pada tahun 1997. Isi perjanjian itu adalah kerja sama antara PT dan warga terkait 564 bidang tanah seluas 1.070 ha milik warga untuk diplasmakan selama 10 tahun dan setelah itu akan dikembalikan pada warga.

Selama kurun itu, setiap warga akan dijanjikan kompensasi. Namun, hingga terjadi kerusuhan perusahaan tetap tidak memberikan janjinya. Hingga pada April 2011, masyarakat Desa Sungai Sodong mengambil kembali tanah tersebut melalui pendudukan. Namun, usaha tersebut tidak juga membuat perusahaan mengembalikan tanah pada warga. Malah perusahaan menganggap warga sebagai penggangu.

Sampai pada tanggal 21 April 2011, terjadilah pembunuhan sadis terhadap dua orang warga yakni Indra (ponakan) dan Saytu (paman). Mereka keluar rumah sekitar pukul 10.00 WIB berboncengan untuk membeli racun hama. Mereka melewati perkebunan warga yang bukan kena sengketa dan di luar  Desa Sungai Sodong. Tanpa ada yang mengetahui peristiwanya, pada pulu 13.00 tersiar kabar ada dua orang meninggal. Indra terkapar tersayat lehernya dan ada 3 luka tembak. Sementara Saytu dalam keadaan sekarat ada di perkebunan sawit sekitar 70 meter dari mayat Indra. (halaman 43)

Namun, anehnya kasus ini tidak terusut. Pihak kepolisian seperti mengabaikan peristiwa ini. Bahkan, membiarkan PT Silva Inhutani yang merupakan milik warga Malaysia bernama Benny Sutanto membuat PAM Swakarsa sekaligus dibekingi oleh aparat kepolisian untuk mengusir penduduk. Pada kurun 2009 hingga 2011, sekitar 30 orang mati dalam pembantaian sadis di tanah Mesuji. Namun, sampai saat ini kasus yang terjadi di Mesuji belum terselesaikan karena tak adanya penegakan hukum. Bahkan, sesekali bisa membara lagi seperti pada tanggal 5 September lalu.

Selain kasus konflik Mesuji, buku karya Faidi A. Luto juga memaparkan raport merah penguasa yang lainnya seperti Tragedi Trisakti yang terjadi pada 12 Mei 1998. Hari berkabung bagi negeri ini karena terbunuhnya empat mahasiswa tak berdosa  Universitas Trisakti. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hartanto dan Hendriawan Sie.

Mereka terbunuh saat demo menuntut turunnya Soeharto dan meminta adanya pemerintahan yang demokratis dan memihak pada rakyat.  Penembakan sadis polisi membuat mereka berempat mati setelah peluru mengenai kepala dan dada, dan ratusan mahasiswa lainnya terluka. (halaman 19)

Setelah puluhan tahun berlalu, tragedi ini tak kunjung tuntas atau lebih tepatnya tidak ada upaya untuk menyelesaikan. Reformasi yang diharapkan bisa menyelesaikan kasus ini dan memberikan hukuman bagi pelakunya, seperti singa yang tumpul giginya. Naik ke permukaan untuk dibicarakan oleh pemerintah saja tidak ada.

Banyak kasus yang menjadi raport merah para penguasa terangkum dalam buku ini, termasuk kematian aktivis HAM Munir, peristiwa Semanggi, penculikan misterius Wiji Thukul, kekerasan di Papua, tragedy Idul Fithri berdarah di Ambon. Kumpulan kasus dalam buku ini masih belum ada titik terang untuk diselesaikan, bahkan tergantung diabaikan.

Maka adanya buku setebal 152 Halaman ini guna member informasi generasi muda Indonesia agar mengetahui sejarah bangsa yang di dalamnya ada raport merah para penguasa. Agar ke depannya bisa mengambil pelajaran dan tidak terulang. Termasuk pada generasi yang hidupnya di tahun kasus-kasus tersebut tidak lupa bahwa penguasa masih punya hutang untuk mengusut kasus-kasus tersebut. Semoga kita tidak lupa!

(54-Resensi Buku 2013-Jateng Pos 15 September 2013)

9746_686524024709643_1318877028_n
doc. pribadi

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s