Memetik Inspirasi dari Guru Berprestasi

Judul                            : Kisah Dahsyat Guru Berprestasi Selangit

Penulis                          : Marjohan, M.Pd

Penerbit                       : Diva Press

Tahun Terbit                : April, 2013

Jumlah Halaman          : 188 halaman

ISBN                           :  978-602-255-117-1

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Ketua Jurnalistik Club Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Siapapun di dunia ini pasti menginginkan kesuksesan, tak ada pengecualian. Termasuk, orang yang di masa lalunya mengalami banyak kesedihan dan kegagalan. Sebut saja Marjohan, guru yang menulis kisah suksesnya menjadi guru berprestasi yang pernah meraih sebagai juara dalam lomba nasional guru teladan.

Diceritakan Johan lahir sebagai anak broken home dan tidak sadar pendidikan. Ayahnya adalah anak yang jauh dari orang tuanya, tersebab dia kabur dari rumah takut dimarahi karena telah membuang saus cabai dan sisa makanan ke seprai kasur. Sejak saat itu ayahnya menginap di rumah saudaranya di sebuah desa dekat Padang Panjang.

Kehidupan ayahnya sejak itu juga tidak baik-baik saja. Ayahnya menikah berkali-kali. Pernikahan pertama dengan perempuan sekampungnya kandas karena terlalu muda dan masalah ekonomi. Namun tak berselang lama, pernikahan kedua terjadi. Karena tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangganya ayah Johan lagi-lagi harus cerai dengan istri keduanya.

Pernikahan ketiga terjadi sejak ayahnya mengikuti kelompok militer liar, yang pro dengan pemerintahan Ahmad Hosen yang akan membuat negara PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Gerilya yang dilakukan sampai Lubuk Alung, mempertemukan ayahnya dengan ibu Johan yang kala itu masih memiliki suami sah. Setelah perselingkuhan  itu tercium, ibu Johan diceraikan oleh suami pertamanya. Ibunya sedih sekaligus senang, kemudian terjadilah pernikahan ibu dan ayah Johan.

Dari pernikahan itu lahirlah Marjohan. kehidupan ekonomi keluarganya membaik dengan diterimanya ayah menjadi polisi. Namun sikap keras ayahnya tetap membuat keluarga menjadi panas. Sering terjadi percekcokan antara ibu dan ayahnya, ditambah lagi ayahnya masih mudah jatuh cinta dan akhirnya tidak pulang ke rumah karena telah terpikat dengan wanita lain.

Sejak saat itu sosok ayah yang Johan idolakan seperti sirna. Namun dia tetap berusaha tegar dan berusaha membuat ibunya tenang dan memafkan ayahnya. Walau kejadian suram terjadi padanya, namun tetap Johan menjadi anak yang berprestasi. Setelah lulus SMA, Johan ingin melanjutkan kuliah di universitas favorit di Jawa. Namun sayang, karena keadaan keluarga yang tak kunjung baik juga dana yang tidak ada, dia terpaksa kuliah di Padang (halaman 19).

Sejak kuliah Johan sudah berusaha mandiri, dia bekerja sambil kuliah. Johan menjadi pemandu wisata di wilayah Sumatra Barat juga menjadi guru les privat bahasa Inggris bagi anak-anak orang kaya. Johan banyak memandu bule dari berbagai negara. Karena sikap ramahnya, Johan disukai banyak bule.

Setelah kedua orang tuanya tiada, Johan menjadi guru. Walaupun sempat mengalami skin hunger (penderita karena kekurangan kasih sayang orang tua), Johan menjadi pribadi yang penuh simpati. Dia tidak ingin orang lain mengalami seperti apa yang pernah dia alami. Termasuk kepada anak didiknya, dia memberikan dengan tulus rasa simptinya kepada setia murid. Dia tidak pernah marah-marah kepada anak didiknya, dia memiliki filosofi, “Terimalah karakter anak didik apa adanya.” Dengan itu dia menjadi dekat dengan anak-anak didiknya.

Johan dipindah mengajar ke SMA Negeri Batusangkar. Kepala sekolah, Pak Rosfairil mengusulkan dan menyarankan agar dirinya mengikuti seleksi lomba guru berprestasi. Sebelumnya, 14 tahun yang lalu Johan pernah meraih peringkat kedua guru teladan tingkat Provinsi Sumatra Barat. Karenanya, dia menolak tawaran tersebut sekaligus memberikan  peluang kepada guru-guru muda.

Namun, karena kepala sekolah masih tetap menganjurkan Johan pun akhirnya menyetujui untuk mengikuti seleksi guru berprestasi tahun 2012. Pada awalnya Johan mengikuti seleksi di tingkat kabupaten. Karena ujian tulis, presentasi dan portofolionya mendapatkan skor tertinggi. Dengan itu Johan mendapat kesempatan untuk bersaing dengan kabupaten lain dalam seleksi tingkat Provinsi Sumatra Barat.

Karena motivasi diri yang kuat dan menjadi penulis di surat kabar dan beberapa buku yang dijual di berbagai toko buku. Johan juga memahami banyak bahasa antara lain Inggris, Prancis dan Arab. Selain itu Johan juga memiliki karakter guru yang beda dengan lainnya, salah satunya dengan pembelajaran dengan pendekatan humanisme pada muridnya. Yaitu PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan).

Karena beberapa hal itulah kemudian yang membawa Johan meraih predikat sebagai guru berprestasi nasional tingkat SMA tahun 2012. Buku setebal 188 halaman ini memang banyak menceritakan pengalaman Johan dalam meraih prestasinya yang banyak. Maka tak pelak, buku ini layak Anda (khususnya guru) baca untuk memetik inspirasi yang ada di dalamnya, sehingga kembali bergairah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

(55-Resensi Buku 2013-Harian Bhirawa 2013)

cover Kisah-Dahsyat-Guru-Berprestasi-cover-web
cover buku

 

3 thoughts on “Memetik Inspirasi dari Guru Berprestasi

    • Muhammad Rasyid Ridho 23 Februari 2016 / 14:29

      sama-sama Pak, terima kasih sudah mampir dan membaca resensi sederhana saya, semoga berkenan ya Pak. Sepertinya di fesbuk saya sudah berteman dengan bapak juga. Sukses selalu untuk bapak, produktif🙂

      Suka

      • marjohanusman@yahoo.com 24 Maret 2016 / 01:43

        bila Muhammad Rasyid Ridho ingin mampir ke padang atau tanya tanya tentang padang kirim saja sms ke 085264340180….trims

        Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s