Booklicious; Persahabatan dan Cinta dalam Kei

Akhirnya, datang juga hari untuk membahas Novel keren Pemenang Unggulan  Lomba yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Meskipun keadaan Malang dan sekitarnya listrik padam, Booklicious masih tetap bersemangat untuk membahas Kei karya Erni Aladjai 23 Oktober 2013 di Kafe Green Camp Us, Jalan Tirto Malang.

Sayang, tidak semua bisa hadir. Kalau pertemuan sebelumnya Ocha yang tidak bisa hadir, karena sakit. Hari ini Cicik yang tidak bisa hadir lantaran banyak tugas menjelang UTS. Walau begitu, keceriaan dan keseriusan membahas buku tetap ada.

Dengan ditemani pesanan masing-masing acara dimulai. Saya memesan jus apel, Ichal memesan teh anget, Amin  memesan jus tomat, Ocha memesan jeruk anget dan Ummul memesan kentang. Ichal membuka acara sekaligus menjadi notulen.

IMG_3661
Ichal Notulen (doc. pribadi)

 

Selanjutnya saya mengawali mengomentari Kei. Saya baru tahu bahwa Kei adalah nama sebuah pulau, dan saya tahu itu dari novel Kei ini. Selama ini kerusuhan tahun 1999 yang digemborkan oleh media adalah kerusuhan di Ambon saja. Tetapi, ternyata kerusuhan tersebut menjalar ke pulau-pulau kecil sekitar Ambon, salah satunya Kei.

Saya rasa Erni dalam Kei ini risetnya sangat dalam, sekali pantas saja novel ini bisa menjadi pemenang unggulan di lomba novel DKJ. Dengan riset yang dalam tersebut, Erni mampu mendeskripsikan keadaan latar dalam novel, dan ajaran adat latar dengan baik. Kita jadi mengerti dan dapat wawasan tentang adat yang adat yang ada di pulau Kei.

Di buku ini saya juga dapat asal usul nama Balikpapan, ada rasa yang wah jika membaca buku yang tidak sekedar menghibur seperti Kei ini. Dari buku ini saya juga saya mendapatkan bahwa Erni mencoba meyakinkan masyarakat bahwa selama ini yang terjadi di Ambon dan sekitarnya bukan kerusuhan dengan isu agama, namun isu-isu politis yang dilakukan oleh orang berduit-termasuk pemerintah membayar para preman-preman Kei yang sudah menetap di Jakarta. Bisa ditarik benang merah antara Kei dan kelompok Jhon Kei yang di Jakarta sekarang ini, mungkin memang sudah fakta bila orang daerah yang datang ke Ibu Kota kebanyakan akan menjadi preman. Bila membandingkan dengan novel lain, saya coba bandingkan dengan salah satu novel terbitan Gagas Media juga yang berjudul Lampau karya Sandi Firly. Ada persamaan di akhir novel yang menceritakan anak daerah ketika di Jakarta akan menjadi preman. Entah persamaan ini berdasarkan hasil riset yang sama, atau pesan editor kepada penulis, atau yang lainnya. Paling tidak pesan dalam novel ini salah satunya Ibu Kota negara kita tercinta hanya menjadi markas preman. Novel juga ada sisi persahabatan dan romantismenya.

IMG_3664
doc. pribadi
IMG_3663
doc pribadi

 

Ummul mengatakan Kei ini alurnya bagus. Alurnya apik, maju, mundur, maju. Dia awalnya sedikit bingung dengan nama tokoh. Sala itu laki atau perempuan. Menurut dia pemilihan nama juga berpengaruh bagi pembaca. Kalau perlu, menurut saya, karakter nama daerah itu juga dijelaskan dalam catatan-catatan kecil.

“Ahya, Warna bukunya bagus, dan lay-outnya juga unik. Dari segi tulisan, buku ini lebih banyak ditulis dengan gaya deskriftif, bukan naratif. Saya sendiri suka membaca deskriptif naratif. Kalau mau sekalian aja ditulis dengan gaya klasik, artinya, terfokus hanya di KEI, tidak perlu sampai Sala ke Jakarta. Secara keseluruhan, saya suka,” tambahnya lagi.

Hukum adat itu menjadi hukum bersama, yang mampu melindungi masyarakat bersama disana. Hukum adat yang menjadi jalan bersama agar keadaan tetap damai. Hukum adat dibangun dari nilai dan sangat berpengaruh untuk mengatasi banyak perbedaan suku dan agama di KEI.

Ichal mengatakan, “Selama membaca buku ini, perhatian saya terfokus pada wacana rekonsiliasi perdamaian atas kasus kekerasan dan kebebasan berkeyakinan.

             

Dalam hal ini, Erni dengan baik memaparkan bahwa sebenarnya rusuh di Ambon itu bukan didasari oleh issue konflik beragama, melainkan kasus-kasus sepele yang disulut oleh perbedaan keyakinan. KEI adalah daerah yang adatnya kuat, dan kena imbasnya.

 

Konflik kekerasan beragama ini menjadi issue sentral di media, dan memang banyak terjadi di sekitar kita. Saya membaca novel ini sambil mengingat dua hal. Pertama, Teori Sosial Struktural Konsensus, dan kedua, rekonsiliasi perdamaian atas kasus kekerasan keberagamaan.

 

Dalam teori Struktural Konsensus, perilaku manusia diatur oleh kebudayaan, dimana kebudayaan ini lahir dari nilai yang disosialisasikan terus menerus hingga melekat pada manusia. Erni menggambarkan dengan baik adat Larwul Ngabal, Ken Sa Faak, dll, adat yang disosialisasikan sejak empat abad lalu dan mengatur bagaimana orang-orang Kei berperilaku.

 

Kedua, dalam usaha rekonsiliasi damai atas kasus kekerasan beragama, salah satu strateginya adalah mendata struktur yang ada di tubuh masyarakat, lalu mencari struktur yang paling berpengaruh untuk menjadi aktor-aktor aktif dalam mengusahakan perdamaian. Erni juga menggambarkan dengan baik bagaimana para pemuka agama lintas agama berperan dalam mensosialisasikan perdamaian, bahwa agama mereka mengajarkan kedamaian, bahwa adat mereka harus dipegang teguh sebagai Kalimatun Sawa Bainana Wa Bainakum. Ini terlepas dari Hubungan antara Namira dan Sala yang sampai tidur bareng dan melakukan penyatuan sampai Sala hapal tahi lalat di perut Namira.

 

Saya berpendapat, novel-novel ya harusnya yang bergizi seperti ini. Kisah cinta dibalut dengan manis meski issue yang dibawa cukup berat. Jadi, makanan bergizi itu tidak selalu harus tidak begitu lezat. Lezat, namun bergizi.”

Amin mengatakan, “Kalau boleh jujur, ini novel pertama yang saya selesaikan dengan seksama. Saya membacanya dalam waktu sehari semalam. Wah.”

            “Saya dapat banyak pengetahuan di dalam novel ini, terutama nama-nama pulau, suasana dalam pulau KEI. Terutama karena basik pendidikan saya ada di pertanian, saya suka ketika penulis juga punya pengetahuan yang kaya akan tetumbuhan obat. Penulis mendeskripsikannya dengan sangat hidup, mulai dari istilah, pulau, adat istiadat, dan lain-lain. Sampai warna piring dan coraknya juga dijelaskan dengan baik.”

            “Saya kagum dengan pemikiran penulis tentang perpolitikan Indonesia, bagaimana dia menyindir kaum elite politik yang bisanya ngomong tapi tidak punya kontribusi apapun dalam usaha rekonsiliasi. Penulis sepertinya banyak membaca riset yang dalam, sehingga mampu menguak banyak kasus kekerasan yang sebenarnya bukan dikarenakan issue agama, melainkan kasus yang lain.”

           

IMG_3665
foto bareng dengan Kei (doc.pribadi)

 

 

Ketika semua masih terdiam berpikir kira-kira apalagi komentar terhadap buku ini saya menambahkan quote bagus dari Ibu Sala, “Sebenar-benarnya lelaki adalah yang marah karena melihat kehormatan perempuan direndahkan.” Prinsip yang sangat teguh dan mengakar. Namun, sayangnya, kisah cinta Sala dan Namira tidak sampai.

 

Amin juga mengatakan, “risetnya serius ya, sampai-sampai Ibunya Namira tahu Presiden Liberia yang pertama. Ini sedikit aneh buat saya. Dan menurut saya, ending ceritanya sedikit menggantung. Saya bahkan berpikir novel ini ada serie keduanya.”

 

Saya menanyakan lagu terlalu manis, itu tahun berapa. Apakah tahun 1999 sudah ada? Ternyata setelah Ichal browsing lagu itu tahun 92.

 

Ical kembali menambahkan, “Saya rasa agak terburu-buru si Erni menyelesaikan novelnya. Ada perbedaan tajam perlompatan dari tahun 1999 ke 2001 (waktu Namira ngungsi ke Makassar dari Evu). Ganjul juga kedekatan Kumala dan Namira yang sangat cepat.”

Saya juga mengomentari tentang cover. Sebenarnya kalau Cover, kurang menarik ya. Yang bikin menarik itu ya Pemenang Unggulannya.

 

Ummul berpendapat lain,  “Justru saya suka. Covernya surealis banget. Supaya kesan misterius dan menariknya kelihatan.” Ical juga komentar  “Kalau saya, ndak ngerti cover ya.”

            Saya coba bertanya pada Amin yang baru pertama kali novel yakni membaca Kei. “Dari awal penasaran gak sama novelnya?” Amin jawab, “Dari awal sih enggak.” Kalau Ichal malah mengatakan dia penasaran dari awal, pengantarnya bagus dan membuat tertarik, menyiratkan kedalaman riset.

Amin menambahkan “Saya agak risih juga dengan kenyataan bahwa hukum agama disana adalah nomer dua. Hukum adatlah yang nomer satu.”

            Menurut Ichal wajar saja. Karena fanatisme identitas adalah ciri orang timur, dan dengan itu saja mereka bisa saling membunuh. Adat yang mengatur perilaku bersama harus dinomer satukan, wajar saja. Jika tidak begitu, agama malah menjadi alat untuk menyakiti satu sama lain.

IMG_3667
cover Kei (doc.pribadi)

 

            Jam di dinding café sudah menunjukkan jam 22.00, diskusi kami selesaikan dan membahas untuk pertemuan berikutnya. Rencana ke depan, kami tidak hanya membahas buku namun juga mendatangkan penulis yang ada di Malang sekitarnya untuk membahas proses kreatif yang mereka lakukan dalam menulis buku mereka.

            Kami berharap Booklicious akan terus berlanjut sampai 1000 pertemuan

IMG_3666
doc pribadi

 

 

2 thoughts on “Booklicious; Persahabatan dan Cinta dalam Kei

  1. rasita 5 November 2013 / 23:58

    Sepertinya seru banget ngebahasnya..jadi pengen beli Kei..penasaran..tapi ceritanya terlalu berbobot sepertinya🙂

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 6 November 2013 / 00:07

      seru memang mba ngebahasnya, ayo kapan2 ikutan nimbrung ngomongin buku🙂 bagus mba novelnya, keren n nggak berat kok🙂

      Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s