Membuktikan Cinta Dengan Menikah

cover bila kau cinta
cover bila kau cinta datanglah pada orang tuaku (dari web diva press)

Penulis                          : Muhammad Areya Laranta & Fathimah Anico Laranta

Penerbit                       :Safirah-Diva Press

Tahun Terbit                : Juli, 2013

Jumlah Halaman          : 198 halaman

ISBN                           :  978-602-255187-4

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Bagaimana tanggapan Anda jika ada seorang lelaki berkata, “Aku cinta padamu.” Apakah wajah Anda memerah dan langsung  mengiyakan cintanya? Menganggap apa yang dikatakannya itu benar? Lalu Anda mau saja bersamanya ke mana-mana dengan alasan cinta? Sepertinya, mayoritas wanita saat ini akan begitu.

Padahal semua itu belum tentu cinta. Bisa jadi cinta hanya diucapkan sebagai alat pemuas lelaki untuk mencicipi Anda. Maukah Anda menjadi sepah yang dibuang, setelah habis manisnya? Tentu Anda tahu dengan istilah, habis manis sepah dibuang. Sebenarnya, Anda sudah tahu bahwa menjadi sepah itu mengerikan dan tidak mengenakkan. Sayang, tetapi masih banyak yang gampang memilih rayuan setan berwajah manusia.

Menurut penulis buku Bila Kau Cinta, Datanglah Pada Orang Tuaku, mengiyakan perkataan cinta seseorang pada kita sebenarnya tidak tepat. Penulis mengatakan seharusnya Anda pun mengatakan sesuatu lebih tepatnya bertanya, “Lo serius?” Dan pertanyaan itu belum cukup, pertanyaan itu harus ditambah dengan kata perintah, “Kalo lo serius, ntar gue akan bilang ke bokap-nyokap bahwa lo serius ma gue. Udah gitu datanglah ke orang tua gue.” (halaman 8)

            Alasan mengapa harus mengapa harus bertanya tentang serius, adalah dikhawatirkan jangan-jangan hanya kamu saja yang serius mencintainya. Sedangkan dia hanya bermain-main dengan Anda. Sekali lagi Anda tidak mau kan menjadi sepah yang dibuang setelah habis manisnya? (halaman 10)

            Ketika Anda akan mengutarakan pada orang tua bahwa Anda mencintai dia dan dia juga mencintai Anda, dan kalian ingin serius dengan menikah pasti ada perasaan malu. Menurut penulis yang pernah  menjadi santriwan dan santriwati di sebuah pondok pesantren di Madura ini di bab dua buku ini, Anda tidak apa-apa malu. Kenapa? Lebih mulia Anda menjadi malu setelah mengutarakan niat nikah yang benar, ketimbang Anda harus malu ketika Anda sudah melanggar perintah Tuhan karena hubungan pacaran yang kebablasan. (halaman 25)

            Tidak lain semua ini adalah demi kebaikan Anda sendiri. Penulis mengungkapkan bahwa malu adalah fitrah. Tapi alasannya juga harus benar dan rasional. Tidak perlu ada rasa malu ketika Anda belum punya gebetan. Tidak perlu rasa malu ketika Anda mengatakan siap menikah. Dan Anda harus malu ketika Anda akan melakukan kemaksiatan. Contohnya, Anda harus malu ketika akan mengatakan. “Saya siap jadi pacar Anda.” Intinya, milikilah sifat malu ketika melakukan kemaksiatan dan sekaligus milikilah sifat malu untuk melangkah di jalan-jalan yang bakal mengantarkan kepada kemaksiatan. (halaman 34-36)

            Namun, ketika Anda meminta menikah pastilah akan ada alasan, “Kenapa kok langsung menikah? Padahal masih baru kenal, saya juga belum mapan, kita nikmatin saja dulu.” Penulis mengatakan apa yang dikatakan orang yang mencintai Anda itu adalah alasan yang aneh. Mengapa tidak? Bagaimana bisa menikmati yang jelas-jelas membawa ke neraka, sedangkan menolak pernikahan yang akan membawa pada keselamatan dan surga.

            Maka, sebenarnya Islam sudah menganjurkan apa yang harus dilakukan oleh orang yang sudah merasakan cinta pada seseorang. Jika belum siap menikahi, maka lakukanlah puasa, seperti yang tertera dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Khamsah.  Bukan malah pacaran, itu malah akan menjerumuskan pada jurang malu, hina dan neraka. (halaman 89-90)

            Jika Anda meminta alasan kenapa harus menikah, penulis buku ini mengungkapkan. Pertama, menikah adalah perintah Allah. Dengan menikah kita akan mendapatkan pertolongan dan rahmat-Nya. Rejeki akan lebih mudah mengalir (halaman 143-144). Kedua, menikah adalah mengikuti sunnah para Rasul dan Nabi terdahulu. Tidak ada kan Nabi dan Rasul yang pacaran? (halaman 149). Ketiga, menikah menjadi jalan memperoleh berkah. Karena, ada satu do’a yang Rasulullah ajarkan yang diucapkan bagi orang menikah saja. Barakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khairin, dalam hadits riwayat Tirmidzi (halaman 152-153). Keempat, menikah dapat menyempurnakan iman. Menikah adalah separuh agama dan separuhnya lagi dengan bertaqwa sebagaimana hadits riwayat Thabrani (halaman 154-156).

            Akhirnya, buku  198 halaman ini memberikan kesimpulan bahwa jalan satu-satunya keselamatan yang diberikan oleh Islam bagi orang yang mencintai adalah dengan menikah. Buku ini sangat cocok bagi Anda yang belum menikah, sebagai bekal menujunya dan juga bagi yang sudah menikah sebagai wawasan baru guna memperbaiki niat. Buktikan cinta Anda dengan menikah!

 (64-Resensi Buku 2013-Jateng Pos  November 2013)

           

2 thoughts on “Membuktikan Cinta Dengan Menikah

  1. Sii Isni 12 November 2013 / 15:36

    Wah, resensinya segar banget buat kawalamuda.🙂

    Bedewe, ini dimuat juga? Dimana?

    Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s