Persekongkolan Merusak Kelestarian Alam

cover kesturi & kepodang kuning
diambil dari web gramedia

 

Judul                            : Kesturi & Kepodang Kuning

Penulis                          : Afifah Afra

Penerbit                       :Elex Media Komputindo

Tahun Terbit                : Cetakan Pertama, 2013

Jumlah Halaman          : 312 halaman

ISBN                           :  978-602-255-2505

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan Koordinator Klub Buku Booklicious, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

            Saat ini sangat jarang ada manusia yang bisa akrab dengan binatang. Akrab yang dimaksud adalah saling mengasihi dan tidak menyakiti. Bahkan bukan hanya menyakiti binatang, manusia juga seringkali merusak habitatnya tanpa sadar. Maka, Afifah Afra dalam novel barunya akan memotret keakraban manusia dengan burung, tepatnya burung kepodang.

            Tidak seperti novel Afra lainnya yang seringkali membuat tokoh utamanya seorang keturunan trah atas atau orang kaya. Namun, dalam novel Kesturi dan Kepodang Kuning, agaknya Afra mencoba memberi nuansa lain bagi novel barunya ini. Tokoh utamanya adalah anak yatim piatu yang tinggal di sebuah gubuk peninggalan kedua orang tuanya yang bernama Sriyani.

            Sriyani yang memiliki dua orang adik harus dititipkan ke panti asuhan karena itu lebih baik ketimbang tetap tinggal di gubuk yang lembab yang merupakan salah satu penyebab ibunya meninggal karena TBC (halaman 20). Sedangkan, Sriyani mencoba berharap pada kebaikan yang ditawarkan oleh seorang mantra yang bernama Suseno untuk menjadi pembantu di rumah dinasnya. Agaknya, harapan Sriyani terkabulkan, karena dia merasa terangkat dan mendapatkan kebaikan ketika bersama sepasang suami istri Pak Suseno dan Bu Martini (halaman 24).

            Namun, siapa sangka ternyata kebaikan itu hanya sementara. Sebuah musibah datang kepada Sriyani. Bu Martini harus menginap lama di Solo karena kehamilannya yang kurang baik. Hal inilah yang memicu ketertarikan Pak Suseno untuk berbuat tak senonoh pada Sriyani. Sehingga membuat Sriyani hamil.

            Setelah mengetahui kehamilan Sriyani, Pak Suseno menikahkannya dengan Pardi yang memang mencintai Sriyani. Namun, setelah tahu Sriyani hamil duluan Pardi meninggalkannya. Akhirnya, Sriyani mengasuh anaknya yang bernama Kesturi sendirian (halaman 104). Di rumah gubuk peninggalan orang tuanya.

            Cara sederhana Sriyani menghibur Kesturi dengan bernyanyi Jawa dan kedatangan Kepodang Kuning, membuat takjub seorang pecinta lingkungan bernama Satrio. Hal ini yang membuat Satrio mendekati gubuk Sriyani dan berkenalan dengannya.

            Konflik novel ini terletak pada rumah burung Kepodang dan rumah gubuk Sriyani. Hanya untuk keperluan menyenangkan rekan bisnis, Rajendra kakak Satrio harus membunuh kesturi yang sering bermain dengan Kesturi. Apalagi bisnis ini adalah kongkalingkong antara penguasa dan pemilik uang untuk membuat daerah wisata dengan merusak kelestarian alam.

            Perseteruan antara kakak dan adik ini semakin memanas. Rajendra seorang dokter yang terjun ke dunia bisnis tanpa peduli apa yang dilakukannya benar atau tidak, sedangkan Satrio adalah ekolog aktivis lingkungan tentu menjadi pihak yang menolak bisnis kakaknya yang merusak kelestarian alam.

            Percintaan tentu saja selalu menjadi bumbu yang sedap dalam sebuah cerita. Sriyani sempat berharap orang kaya seperti Satrio akan menjadi suaminya. Namun, harapan itu menipis ketika Sriyani tahu bahwa Satrio juga dekat dengan seorang dokter cantik bernama Alisa (halaman 224). Alisa adalah teman kakak Satrio Rajendra. Mereka berdua sempat saling mencintai, namun belakangan kisah mereka menyusut karena Rajendra seperti menjauhi Alisa.

            Awalnya, saya mengira Sriyani bakal menjadi pasangan Satrio, namun ternyata Afra membuat mati Sriyani sebelum akhir cerita selesai. Karena, Sriyani menolak rumahnya dan rumah kepodang yang dia beri nama Janaka ditebang. Siapa sangka, akhirnya pohon trembesi yang ditebang oleh pekerja proyek mengenai tubuh Sriyani dan membuatnya meninggal dunia (halaman 305).

            Bagaimana akhir Perseteruan Satrio dan Rajendra beserta kongkalingkong bisnisnya? Bagaimana kelanjutan cinta Rajendra dengan Alisa? Silakan membaca novel setebal 312 halaman. Akhirnya, tak pelak novel ini menjadi rekomendasi untuk mengisi waktu luang Anda dengan bacaan yang tak hanya menghibur namun juga berisi. Paling tidak memberi pelajaran, bahwa selayaknya manusia itu menjaga kelestarian alam yang Allah berikan dalam kehidupan ini. Karena manusia adalah khalifah yang harus mengatur dengan sebaik mungkin. Mari jaga kelestarian alam kita!

(69-Resensi Buku 2013-Koran Bhirawa 21 November 2013)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s