Kisah Cinta dan Fitnah Terhadap Penangsang

cover Penangsang Kidung Takhta Asmara
cover Penangsang Kidung Takhta Asmara

Judul                            : Penangsang; Kidung Takhta Asmara

Penulis                          : NasSirun PurwOkartun

Penerbit                       : Metamind (Penerbit Tiga Serangkai)

Tahun Terbit                : Pertama, 2011

Jumlah Halaman          : 672 halaman

ISBN                           :  978-602-9251-01-2

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

Sejarah seringkali mengalami distorsi dan penyelewengan dari kisah yang sebenarnya. Hal ini dikarenakan sejarah bisa menjadi alat untuk mempengaruhi khalayak, maka yang berkepentingan dan berpengaruh bisa saja membuat sebuah catatan sejarah sesuai kepentingannya saja dan menutupi sejarah yang bertolak belakang dengan kepentingannya. Atau lebih dari itu yang berkepentingan tidak hanya menutupi namun memutar balikkan fakta, yang benar dianggap salah dan salah dianggap benar. Sehingga generasi penerus yang membaca tulisan sejarah tersebut akan terpengaruh dan sejarah yang dibuat-buat itu terkenal dan seolah-olah benar.

Penangsang, dalam sejarah Jawa yang terkenal adalah orang yang tidak baik dan salah. Sedangkan Joko Tingkir atau Mas Karebet adalah tokoh yang baik dan benar. Namun, ditangan seorang penulis bernama Nassirun Purwokartun sejarang Penangsang menjadi terbalik. Penangsang adalah tokoh yang baik dan benar sedangkan Mas Karebet adalah tokoh yang tidak baik dan salah.

Kang Nass, sapaan akrab penulis buku ini merasa aneh dengan sejarah Jawa yang ada di Babad Jawi. Mengapa Penangsang yang merupakan murid kepercayaan Sunan Kudus adalah orang yang berbuat kejahatan dan bersalah? Setelah membaca berbagai literature, akhirnya Kang Nass membuat sebuah novel tentang Penangsang yang berkebalikan dengan kisah Penangsang yang terkenal di masyarakat. Kang Nass menyimpulkan Babad Jawi yang dibuat pada zaman Mas Karebet menjadi raja, bisa jadi menjadi alat untuk membuat propaganda bahwa orang yang bersalah adalah Penangsang dan Mas Karebet adalah orang yang baik. Sehingga hal itu bisa terkenal sampai saat ini.

Setelah sebelumnya Kang Nass menulis novel Penangsang Tembang Rindu Dendam, penulis melanjutkan novel tersebut dalam Penangsang Kidung Takhta Asmara. Dalam novel ini mengisahkan kisah Penangsang yang semakin terpojok keadaannya karena fitnah sebagai pembunuh Sultan Trenggono. Fitnah yang dihembuskan oleh Mas Karebet dkk.

Keadaan Demak juga semakin genting lantaran tidak adanya pemimpin. Setelah kematian Sultan Trenggono, masih belum ada yang menggantikannya di pucuk kepemimpinan Demak Bintoro. Namun, melihat keadaan yang tidak semakin baik ini para waliyyul amri dari para ulama bersepakat untuk menunjuk Raden Mukmin anak Sultan Trenggono menjadi sultan Demak berikutnya.

Namun ketika itu keadaan Raden Mukmin sakit-sakitan dan buta. Raden Mukmin menolak pemilihan waliyyul amri tersebut karena khawatir tidak bisa menjalankan amanah dengan keadaannya yang seperti itu. Karena waliyyul amri para sunan tidak ingin menarik lagi ludah yang sudah dikeluarkan, mereka memaksa Raden Mukmin untuk menjadi Sultan

Pada akhirnya, pada saat pelantikan Raden Mukmin mau datang ke Demak, dengan alasan dia akan menyerahkan puncak kekuasaan pada Penangsang yang bisa dipastikan datang pada saat itu. Namun, karena Penangsang, Sunang Gunung Jati dan Sunan Kudus tidak datang pada waktu itu. Terpaksa Raden Mukmin menerima pelantikannya sebagai sultan.

Surat undangan terhadap Penangsang, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati ternyata tidak sampai ke kediaman mereka masing-masing lantaran telah diambil oleh orang-orang yang disuruh Mas Karebet untuk menggagalkan pengiriman surat undangan pelantikan tersebut dengan cara mengaku sebagai utusan Demak untuk surat susulan ke Jipang, Kudus dan tempat Sunan Gunung Jati. Karena, mereka mengambil surat-surat itu, maka undangan pelantikan pun tidak akan sampai pada tujuan. Sehingga, isu Penangsang tidak hadir dalam pelantikan dan menjadi pembangkang Demak semakin berhembus.

Novel ini juga menceritakan kisah pernikahan Penangsang dengan Retno Puspito (halaman 558). Santriwati di pesantren Sunan Kudus yang ternyata juga perempuan yang dicintai oleh adik Penangsang, Penuntun. Setelah tahu bahwa Retno akan menikah dengan Penangsang, Penuntun sakit dan kemudian hilang belum ditemukan.

Di akhir novel, penulis menceritakan pembunuhan terhadap Sultan Mukmin oleh suruhan Mas Karebet, karena Mas Karebet ingin segera menjadi Sultan Demak. Akhirnya, Penangsang adalah Novel berlatar sejarah yang sangat menarik, dan sangat dinantikan buku sekuelnya. Selamat membaca!

(70-Resensi Buku 2013-Rimanews.com 26 November 2013)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s