Mensyukuri Hidup Agar Bahagia

cover sejenak-hening
cover sejenak-hening

Judul                            : Sejenak Hening

Penulis                          : Adjie Silarus

Penerbit                       : Metagraf-Tiga Serangkai

Tahun Terbit                : Agustus, 2013

Jumlah Halaman          : 310 halaman

ISBN                           :  978-602-9212-85-3

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan Koordinator Klub Buku Booklicious, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

If you let go a little, you will have a little peace. If you let go lot, you will have a lot peace.” Begitu kata Ajahn Chah. Eckhart Tolle juga mengatakan kita menciptakan dan mempertahankan masalah karena masalah tersebut memberi identitas siapa diri kita sebenarnya. Sehingga, seringkali tanpa sadar kita menikmati masalah yang kita alami, meskipun masalah itu di luar kemampuan kita.

Apakah ada yang salah dengan masalah yang menghampiri kita? Jika membaca perkataan Eckhart Tolle, menurut dia masalah memiliki nilai positif yakni agar kita tahu siapa identitas kita sebenarnya. Bahkan, dia mempertahankan masalah tersebut sesuai perkataannya.

Sebenarnya, perkataan itu tidak salah. Karena, sejatinya hidup ini adalah gudang masalah. Di mana-mana kita akan menemukan masalah. Masalah akan selalu mengiringi hidup manusia. Mustahil ada manusia yang hidup tanpa masalah. Karenanya, di dunia ini semakin banyak jasa-jasa untuk menghindarkan manusia dari masalah. Seperti motto Pegadaian, mengatasi masalah tanpa masalah.

Namun kebanyakan kita malah stres dengan adanya masalah. Sehingga menyebabkan kita lesu, tanpa semangat meneruskan hidup bahkan sakit. Maka, menurut Adjie Silarus dalam bukunya Sejenak Hening, walau masalah itu membuat kita marah, sedih, dan lain sebagainya yang bersifat negatif itu. Kita bisa mengambil kekuatan dari kelemahan tersebut, jika kita bisa mengolah rasa tersebut (halaman 233).

Jika tidak bisa mengolah rasa tersebut, maka akibatnya akan menjadi stress dan itu bahaya sekali jika sampai menjadi stress berat. Karena dalam sesi tanya jawab di buku ini yang dijawab oleh Deborah Dewi (CIA Handwriting Analyst) mengatakan bahwa stres menjadi pemicu utama orang menjadi terjangkiti kanker. Informasi ini Deborah dapat langsung dari para penderita kanker ketika mengunjungi dan berbicara dengan mereka (halaman 270).

Jadi bagaimana agar masalah kehidupan tidak menjadi bukan masalah dalam diri kita? Dalam buku ini Adjie juga member konsep teori untuk itu, yakni dengan cara ‘terima dan kasih’. Konsep ini menjadi kebalikan konsep yang banyak orang tentang banyak memberi. Seharusnya,  selain kita belajar member sebaiknya kita pun belajar kebalikannya yakni belajar menerima. Kenapa?

Karena, ketika kita ingin belajar memberi biasanya masih ada ganjalan yang menggagalkan niat untuk memberi. Karena itu, sebelum membiasakan memberi, belajar menerima akan membantu kita untuk memberi. (halaman 142)

sejenak hening di jateng pos 22 des 13
dok pribadi

Namun, menerima pun bukan sekedar menerima. Menerima yang paling dasar adalah menerima diri sendiri, apa adanya diri kita. Sebagai ilustrasi, ada seorang yang berpenghasilan Rp1 juta dalam sebulan mau sedekah, sedangkan yang berpenghasilan Rp10 juta tidak mau sedekah.

Mengapa bisa terjadi seperti itu? Menurut Adjie, hal itu bisa terjadi karena yang berpenghasilan 1 juta sudah menerima dirinya apa adanya bahwa pendapatan tiap bulannya Rp1 juta. Sedangkan yang berpenghasilan Rp10 juta belum menerima dirinya bahwa pendapatan tiap bulannya Rp10 juta. Kekayaan yang berlimpah belum tentu menjadi faktor orang bisa menerima dirinya sendiri apa adanya.

Maka dari itu Adjie memberikan kebiasaan agar menjadi penerima. Pertama, membiasakan diri  berterima kasih. Berterima kasih atas segala hal, kecil maupun besar. Misal saja, biasa mengucapkan terima kasih kepada tukang parkir yang menjaga sepeda motor atau mobil kita.

Kedua, mengingat dan kalau perlu menuliskan anugerah-anugerah yang kita peroleh dalam hidup. Tentu banyak sekali anugerah yang kita dapatkan dalam hidup ini, sekecil apapun itu. Salah satunya, masih bisa bernapas hingga detik ini. Namun seringkali kita masih memprotes hal-hal yang terjadi karena tidak sesuai dengan keinginan. Mari diingat anugerah yang ada!

Terakhir, terbuka. Maksudnya, jujur akan situasi atau kondisi yang kita alami. Kalau memang baru sedih, ya kita harus mengakui bahwa kita baru sedih. Untuk mengatasi perasaan sedih diawali dengan menerima dengan jujur bahwa kita baru sedih. Memang dibutuhkan keberanian.

Akhirnya, Sebenarnya inti dari berterima kasih adalah mau bersyukur akan apa yang dimiliki pada detik ini. Mari benahi diri dengan rasa syukur.  Tak pelak, saya merekomendasikan buku 310 halaman yang sangat inspiratif ini. Buku Adjie ini tidak sekedar berisi kumpulan renungan-renungan kosong. Namun, memberi arti dan motivasi  bagi diri, untuk menghadapi hidup lebih optimis dan bahagia. Selamat membaca!

(75-Resensi Buku 2013-Jateng Pos 22 Desember 2013)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s