Persahabatan dan Cinta di Tenda Pengungsian

cover Kei
diambil dari web gagas media

Judul                            : Kei

Penulis                          : Erni Aladjai

Penerbit                       : Gagas Media

Tahun Terbit                : Pertama, 2013

Jumlah Halaman          : 254 halaman

ISBN                           :  978-979-780-649-9

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Kerusuhan tahun 1999 lalu yang banyak tersiar di media adalah di Kota Ambon. Kerusuhan yang bisa disebut pembantaian saat warga Ambon  Muslim shalat idhul fitri ditembak. Sensivitas SARA menjadi tersulut waktu itu, hingga ada istilah kelompok putih (Islam) dan kelompok merah (Kristen).

Namun, sebenarnya kerusuhan waktu itu tak hanya melanda Ambon saja, tetapi juga pulau-pulau sekitarnya. Salah satunya pulau Kei. Pulau kecil yang jarang terekspos media walau ternyata kerusuhan sampai menjalar ke pulau-pulau kecil di sekitar Ambon.

Kei adalah fiksi yang berkisah tentang persahabatan dan juga cinta yang terjalin di tenda pengungsian kerusuhan di Pulau Kei. Namira dan Mery berbeda agama, Namira beragama Islam dan Mery beragama Kristen. Namun, perbedaan agama tersebut tidak menghalangi persahabatan di antara mereka. Mereka bahkan sangat akrab dan toleran sejak Sekolah Dasar di kampungnya, Elaar. Namun, mereka harus berpisah karena Mer pindah ke Evu ikut bapaknya pindah kerja. (halaman 133-134)

Namun, walau mereka harus berpisah namun  mereka saling merindukan, karena persahabatan mereka masih tetap. Ketika kerusuhan juga sampai ke pulau Kei. Mereka sedang mengikuti sebuah upacara adat Tutup Sasi Laut. Hukum Sasi sebuah hukum adat yang mengatur masyarakat Kei dalam mengambil sumber daya alam yang ada di pulau tersebut. Hukum Sasi melarang masyarakat untuk mengambil sumber daya alam di laut dalam jangka enam bulan. Hukum adat ini juga melarang setiap orang mengganggu ekosistem laut. Tutup Sasi membantu untuk memberi waktu makhluk hidup untuk tumbuh, berproduksi sekaligus melindungi ekosistem. Semua pulau di Kei memiliki adat Sasi untuk laut, karena penduduk pulau Kei hidup dari laut (halaman 14-15).

Ketika kerusuhan mereka berpisah, termasuk Namira harus berpisah dengan bapak-ibunya yang menghilang tidak diketemukan. Acara upacara adat yang seharusnya meriah namun menjadi bersimbah darah. Akhirnya, semua penduduk Elaar harus menjadi pengungsi di desa sebelah. Di sebuah gereja di Ohoinol-Langgur (halaman 58)

Di dalam tenda pengungsian itu Nala bertemu dengan orang berbagai agama, namun tetap bisa berdampingan walau isu kerusuhan yang terjadi adalah peperangan dua agama, Islam dan Kristen. Dia bertemu dengan Esme dari Dobo, juga bertemu dengan Nala pemuda Kristen Watran dan temannya Max. (halaman 69)

Sejak pertemuan itu Namira dan Nala menjadi dekat seperti adik dan kakak walau beda agama. Bahkan lebih dari itu, mereka ternyata saling jatuh cinta. Nala senang dengan sikap Namira yang senang membantu sesama pengungsi. Begitupun Namira juga kagum dengan pemuda seperti Nala yang  menjadi salah satu penggerak di tenda pengungsian.

Namun Namira dan Nala juga harus berpisah, keadaan di Langgur juga sudah tak aman. Mery dari Evu mendatangi Langgur untuk menjemput Namira dan para pengungsi lainnya. Namun, Nala masih di tetap di Langgur dan dia berjanji akan menjemput Namira di Evu untuk menikahinya (halaman 127).

Pada Mei 1999, kerusuhan juga menjalar ke Evu. Namira yang masih menunggu kedatangan Nala pingsan ketika terjadi kerusuhan dan ketika itu dia ditolong orang yang akan mengungsi ke Sulawesi dengan kapal. Sampai akhirnya, Namira terdampar di Sulawesi dan ditolong oleh keluarga muslim di sana.

Kei di Koran Singgalang 8 Des 2013
dok pribadi

Nala yang mengetahui di Evu juga terjadi kerusuhan, langsung menuju Evu untuk menjemput Namira. Sayang, dia terlambat. Namira telah menyeberang ke Sulawesi. Nala pun sedih dan putus asa. Untuk menghilangkan kesedihannya tersebut, Nala mau diajak kenalannya untuk bekerja di Jakarta. Kota impian, yang ternyata membawa masalah baru baginya.

Di Jakarta, bukannya mendapat pekerjaan yang baik. Dia harus menjadi pembunuh bayaran yang diketuai oleh orang Kei yang lebih dulu di Jakarta. Novel, yang sarat dengan penelitian yang tak biasa ini memberikan banyak informasi seperti mata rantai premanisme di Ibu Kota yang ternyata banyak berasal dari orang-orang pelosok ketika mencoba mencari keuntungan di Jakarta dan terjerumus ke dalamnya. Penulis lewat novel ini juga menunjukkan bahwa sebenarnya yang terjadi di Ambon dan sekitarnya waktu itu bukan kerusuhan antar agama, namun kerusuhan yang dilakukan oleh orang Kei yang menjadi preman di Jakarta disebabkan unsur politis.

Buku setebal  254 halaman tidak hanya menampilkan imajinasi penulis, namun juga berdasarkan fakta dari beberapa literatur yang penulis baca. Novel yang akan menawarkan wacana baru seputar kerusuhan Ambon dan sekitarnya tahun 1999. Tak pelak, novel ini menjadi pemenang unggulan dalam lomba novel yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta. Sangat layak dibaca dan diapresiasi!

(74-Resensi Buku 2013-Harian Singgalang 8 Desember 2013)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s