My Avilla ; Kisah Sang Pencinta Mencari Tuhan (Lomba Menulis Resensi Buku Indiva 2013)

cover My Avilla
http://wasathon.com/resensi-/view/2012/09/24/kisah_sang_pencinta_mencari_tuhan

Judul                            : My Avilla

Penulis                          : Ifa Avianty

Penerbit                       : Afra-Indiva Media Kreasi

Tahun Terbit                : Februari, 2012

Jumlah Halaman          : 184 halaman

Ukuran                             : 20 cm

ISBN                           :  978-602-8277-49-5

Harga buku                   : Rp 26.000

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Buku Booklicious, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Tema pencarian Tuhan selalu saja tak pernah lekang oleh waktu untuk dibahas dalam sebuah buku. Baik dalam buku nonfiksi atau fiksi semacam novel. Dari buku-buku penulis barat seperti Karen Armstrong sampai penulis Indonesia pun semangat menuliskan tema tersebut dalam karyanya.

 

My Avilla, sebuah novel karya Ifa Avianty. Novelis yang banyak melahirkan karya-karya Islami. Aktivis Forum Lingkar Pena ini dengan kekhasannya dalam merakit sebuah novel percintaan dan keluarga yang tak berarti picisan, namun ada kumpulan hikmah yang bisa kita cicipi ketika membacanya.

 

Begitupun novel ini bercerita tentang kisah cinta segitiga Antara Margriet, Trudy, dan Fajar. Masing-masing tokoh bercerita dengan sudut pandang aku di setiap babnya. Seperti biasa walaupun novel ini kental dengan pencarian Tuhan setiap tokohnya, namun seperti dalam buku-bukunya yang lain novel ini masih saja mampu ditulis dengan gaya bahasa yang renyah, namun tetap berisi dengan penuturan yang simple dan interesting.

 

Fajar Lintang Bagaskara Sudiyanto. Salah satu tokoh utama ini adalah teman sekelas Trudy yang masih kelas 1 SMA di Jakarta. Ia adalah anak yang cerdas, penderita low vision (minus 10), dan agamis berdasarkan dua agama. Ia lahir dalam keluarga yang berbeda agama. Ayahnya Islam dan Ibunya Katolik. Dia remaja yang lebih dewasa dari usianya, Dia seringkali berpikiran bahkan bisa dikatakan mengimpikan untuk menjadi pelayan Tuhan seperti para pendeta di Gereja-Gereja dan meninggalkan semua yang bersifat duniawi. Itu sering terjadi ketika dia khusyuk solat dan mendengarkan merdunya nyanyian gereja.

 

 Trudy Carissa Hasan merupakan adik kandung dari Margriet Avilla Hasan. Jika dibandingkan soal kecantikan, Trudy masih lebih cantik ketimbang Margriet. Nah di sinilah letak cinta segitiga mereka. Trudy yang cantik, model, sering bergonti-ganti pacar akhirnya diam-diam menyukai Fajar yang orangnya cenderung pendiam.

 

Namun berbeda dengan Trudy, Fajar justru diam-diam menyukai kakak Trudy. Margriet Avilla Hasan cukup berbeda dengan adiknya, sangat pandai, suka sekali ketika membaca buku, organisatoris, suka seni, pintar memasak, cantik, ramah dan mandiri. Kuliah di sastra UI semester 4, aktif di Rohis Jurusan, mengajar privat, dan masih tetap menjadi pembimbing eksul di SMAnya dulu, sekolah Fajar dan Trudy.

 

Dari inilah Fajar mengenalnya. Rasa kagum itu semakin menggunung ketika ternyata dia harus datang ke rumah Trudy untuk mengerjakan tugas Bahasa Inggris bersama. Dia sempat berbicara atau lebih tepatnya berdiskusi dengan Margriet tentang banyak hal. Paling penting dan paling banyak dia bicarakan tentang Tuhan. Ya, dia galau memikirkan Tuhan. Hasil pembicaraannya dengan Margriet dia semakin kagum padanya lantaran jawaban demi jawaban terhadap pertanyaannya cukup memuaskan yang berarti wawasan dan kemampuan beragama Margriet yang luas dan banyak. Akhirnya tanpa dia sadari kagum itu pun semakin menjadi rasa yang bernama cinta. Bahkan dia pun menginginkan-mengangakan- Margriet menjadi istrinya dan membimbingnya kepada jalan Tuhan.

 

Banyak sekali usaha Fajar untuk menyatakan cintanya pada Margriet dari menyetel lagu-lagu romantis yang dikhususkan pada Margriet saat dia siaran, sampai nekat datang ke kampus Margriet untuk memberinya sebuah cincin. Semakin shock saja Margriet dengan tingkah anak SMA ini, bahkan ketika dia menolak Fajar berkata akan menunggunya sampai menerimanya. Namun di sisi lain, semakin Fajar mengejar-ngejar Margriet, rasa haus ingin dekat dengan Tuhan pun ia rasakan. Ia bingung, ia galau dibuatnya. Di sini ruh pencarian Tuhan dalam sebuah cinta terasa.

 

Cerita pencarian Tuhan semakin meruncing dan  terasa kental pula ketika teman sesama Dosen Margriet yang ateis mengejar-ngejarnya, hingga singkat cerita Phil menjadi seorang muslim yang taat dan menikah dengan Margriet. Akhir dari kisah ini mungkin cukup disangka karena nantinya cinta Fajar dan Avilla bersatu dan Trudy pun mulai menyadari bahwasanya bahagia itu begitu sederhana. “Kini tiba saatnya untuk menjelang kebahagiaanku sendiri. Entah di mana dan kapan. Yang jelas, kini aku tahu bahwa kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada di dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan.” (Hal 182)

cover zukhruf kasih
diambil dari goodreads.com

Novel bertema sama tentang pencarian Tuhan, juga pernah ditulis oleh penulis FLP pula, Azzura Dayana yang berjudul Zukhruf Kasih. Bedanya, novel Dayana bercerita tentang tokoh utama yang keluarganya Nasrani semua. Tokoh utama mencari Tuhan dan belajar Islam kepada temannya yang aktif dalam kegiatan keislaman di sekolah.

Jika ditelisik novel tentang peralihan agama (muallaf), dari tidak tahu agama menjadi lebih baik secara agama banyak ditulis oleh penulis FLP. Bagi sebagian khalayak memang novel seperti ini sudah mengalami kejenuhan. Namun, tidak dapat disangsikan hingga saat ini masih selalu saja ada pembaca setia novel semacam ini. Walau secara marketing tidak bisa menjangkau semua pembaca, pembaca setia dari aktivis rohis yang semakin bertambah seharusnya memang tetap dijaga. Jika memang penulis juga termasuk penerbit ingin jangkauan pembaca semakin luas dari berbagai kalangan, maka harus melakukan inovasi dalam menulis. Tetap menulis kebaikan, namun dengan cara dan tema-tema yang lebih kreatif.

Menyoal setting tempat dalam novel ini mungkin kurang dieksplor oleh penulis. Jika Jakarta, Oslo, Vatikan bisa digambarkan jelas oleh penulis, maka akan membuat novel ini semakin sempurna. Jika setting bisa dideskripkan lebih, maka akan semakin mantap novel ini.  Terlepas dari kekuranganya, novel ini layak untuk dimiliki dan dibaca banyak kalangan. Walaupun agama tak membolehkan semua hal tentangnya dirunut dengan akal pikiran, namun tetap ada beberapa tentangnya yang bersifat ta’aqquli-untuk dipikirkan dengan akal. Sehingga dogma tak hanya menjadi landasan beragama, namun dengan keyakinan akal akan terlengkapi dan merasuk keseharian pemeluknya. Cover novel ini lembut menyentuh dan cocok sekali dengan isinya. Novel rekomendasi untuk Anda semua, selamat membaca🙂

* Resensi ini diikutkan lomba menulis resensi buku indiva 2013

Lomba resensi indiva 2013
http://www.afifahafra.net/2013/10/lomba-menulis-resensi-buku-indiva-2013.html

 

faktur indiva
faktur pembelian

*Resensi ini juga pernah dimuat di wasathon.com 24 September 2012 http://wasathon.com/resensi-/view/2012/09/24/kisah_sang_pencinta_mencari_tuhan

 

22 thoughts on “My Avilla ; Kisah Sang Pencinta Mencari Tuhan (Lomba Menulis Resensi Buku Indiva 2013)

  1. linda satibi 27 Desember 2013 / 10:32

    Jadi pingin baca novelnya Azzura Dayana itu. Judulnya Zukhruf Cinta atau Zukhruf Kasih?

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 27 Desember 2013 / 10:40

      Allah, untung saja diingatkan Mamah Linda🙂 hehe yang benar Zukhruf Kasih. Saya ingat mba Dayana pernah bilang waktu saya undang mengisi pelatihan menulis di pondok pesantren tempat saya mondok dulu kalau suka surat Az-Zukhruf makanya salah satu novelnya diberi judul itu🙂

      Suka

  2. Fardelyn Hacky 27 Desember 2013 / 12:13

    Saya suka banget novel my Avilla, terlepas ada beberapa bagian yang kurang. saya juga sudah membaca novel Azzura Dayana. Good luck mas Ridho. semoga menang🙂

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 27 Desember 2013 / 15:55

      aamiin, sama-sama mba. terima kasih sudah membaca mba, punya mba Fardelyn panjang banget dan lebih panjang yaaa🙂

      Suka

  3. sandiiswahyudi 27 Desember 2013 / 14:46

    mantap ini abang sesepuhnya Booklicious. Em, memang kalau novel seperti pencarian Tuhan sudah banyak yang membuat serta hampir semuanya memiliki muara yang sama. Berarti tinggal bagaimana saja membuat sesuatu yang kreatif.

    Suka

      • sandiiswahyudi 27 Desember 2013 / 16:06

        hahaha. sip mas. Itu mimpi. Sekarang lagi buat pondasi-pondasinya😀

        Suka

      • Muhammad Rasyid Ridho 27 Desember 2013 / 16:09

        mantap-mantap. Saya tunggu brooo, belajar dari novel orang-orang dulu. dibaca dan diresensi gitu yaaa🙂

        Suka

      • sandiiswahyudi 27 Desember 2013 / 16:11

        hehe sip mas. pokoknya terus belajar dan membaca. Gooo Booklicious hehehe

        Suka

  4. Ahmad Asrof Fitri 28 Desember 2013 / 07:19

    Good luck Mas Rasyid.. saya doakan jadi juara 1..🙂

    Suka

  5. belalang cerewet 28 Desember 2013 / 10:40

    Buku ini sebenarnya mengangkat tema yang abadi dalam kehidupan manusia. Siapa yang tak butuh Tuhan? Di bagian awal buku ini tampak menjanjikan, misalnya saat terjadi percakapan awal antara Fajar dan Margriet tentang Tuhan. Namun sayang teknik bercerita dengan menggunakan korespondensi saya rasa kurang jitu Ifa pakai dalam menyuguhkan cerita. Dalam beberapa segmen saya melihat penulis kikuk karena harus menyisipkan komentar pada penggalan surat panjang.

    Teknik ini dipilih penulis tentulah untuk menghindari pertemuan langsung dua manusia lawan jenis. Jika ini menjadi pertimbangan, saya membayangkan percakapan mereka berlangsung melalui media chatting daring. Tik-tok argumen masing-masing rasanya akan jauh lebih mengesankan ketika terjadi secara langsung layaknya berbalas pantun.

    Untuk sebuah novel dengan tema yang berat, saya kira buku ini terlalu tipis. Masih banyak yang bisa dipaparkan dan digali oleh penulis. Misalnya perjalanan atau perspektif ketuhan Phil yang atheis, atau pergulatan Fajar selama belajar di Roma. Untungnlah Ifa diselamatkan oleh gaya bercerita yang mengalir, lincah dan ringan. Kalau saja esensi bisa diperdalam dengan intensif, buku ini bakal dahsyat!

    Tentang deskripsi lokasi atau setting, saya sepakat. Entah karena terbatas waktu (karena buku ini ditulis untuk sayembara) atau disengaja, latar tempat seperti Roma dan Oslo bisa dielaborasi dengan lebih detail, saya makin suka karena mendapat suntikan informasi baru tentang dua negara manca tersebut. Pun juga dengan Pondok Indah (Jakarta Selatan) yang menjadi lokasi rumah Margriet juga tidak dibumbui detail yang berpotensi menyulap novel menjadi lebih hidup.

    Secara umum, baguslah novel ini, Saya pun tak sanggup menulis karya serupa. salut buat Indiva Kreasi yang berani menerbitkan buku yang tidak populer di tanah air. Semoga menang Mas. Salam dingin dari Bogor🙂

    Suka

    • linda satibi 28 Desember 2013 / 13:40

      wah, Mas Belalang Cerewet komennya bisa jadi resensi juga kayaknya..🙂
      Aku belom baca resensi utuhnya..

      Suka

      • Muhammad Rasyid Ridho 28 Desember 2013 / 18:46

        iya mamah bisa jadi resensi yang keren tuh komentar mas Belalang🙂

        Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 28 Desember 2013 / 18:45

      Wah resensi mas Belalang lebih cerewet dan mantap. Rasanya mas yang bakal menang. terima kasih ya mas doanya🙂 Malang juga dingin🙂

      Suka

      • belalang cerewet 29 Desember 2013 / 07:29

        saya ga ikutan mas, cuma bisa cerewet aja ga bisa nulis hehe. semoga menang mas dalam kontes resensi ini😉

        Suka

      • Muhammad Rasyid Ridho 29 Desember 2013 / 07:31

        hehe kalau ikutan bisa paling seru nih resensinya mas Belalang Cerewet🙂 iya mas aamiin, terima kasih🙂

        Suka

  6. yantist 29 Desember 2013 / 22:06

    Endingnya terlalu terburu2 kalau menurut saya. Pada bagian Fajar menikah dengan Margriet banyak padahal yang bisa digali. Tapi hanya diceritakan singkat. Walaupun begitu, saya suka novel ini🙂
    Good Luck, Mas🙂

    Suka

  7. tokoqudsiah 4 Februari 2014 / 02:07

    bagus mas, resensinya…

    Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s