The Five Ancestors; Tiger

Ketika Kuil Chanzhen Dihancurkan

cover The Five Ancestors 1 - Tiger 1Judul                            : The Five Ancestors; Tiger

Penulis                          : Jeff Stone

Penerbit                       : Teen Noura-Noura Books

Tahun Terbit                : September, 2013

Jumlah Halaman          : 270 halaman

ISBN                           :  978-602-7816-404

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Pecinta Buku Booklicious, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

            Kuil Chanzhen yang berada di Provinsi Henan-China adalah kuil yang banyak tidak diketahui orang, baik tempat maupun aktivitasnya. Namun, siapa sangka tiba-tiba kuil tersebut diserang oleh prajurit kerajaan. Semua bangunan dibakar dihancurkan hingga tersisa puing-puing.

            Tidak hanya itu para prajurit kerajaan juga membasmi semua biksu pendekar penghuni Kuil tersebut. Tidak menyisakan satu pun. Namun, atas perintah Mahaguru lima biksu pendekar pilihannya diminta sembunyi sebelum para prajurit semakin jauh memasuki kuil. Kelima biksu pendekar tersebut sembunyi di dalam sebuah tong yang kosong.

            Namun, persembunyian mereka diketahui oleh salah satu prajurit. Yang memaksa mereka berlima untuk keluar. Sang Mahaguru pun keluar dari persembunyiannya. Di saat itu pula datang otak penyerbuan prajurit kerajaan ke Kuil Chanzhen. Kelima biksu dan Mahaguru kaget karena pemimpin penyerbuan ke kuil adalah mantan biksu yang dulu juga menghuni Kuil Chanzhen.

            Terlebih orang tersebut adalah salah satu dari enam biksu pendekar yang berbakat istimewa di antara seluruh biksu penghuni Kuil. Mereka adalah Fu (macan), Malao (monyet), She (ular), Hok (bangau), Long (naga) dan yang telah keluar dari kuil adalah Ying (elang).

            Mahaguru meminta kelima muridnya yang taat itu pergi dan menghindari Ying, karena mereka berlima tidak akan bisa mengalahkan Ying yang lebih hebat dari mereka. Fu, menjadi satu-satunya yang memaksa ingin menghadapi Ying. Namun, keempat biksu lain dan Mahaguru tidak membolehkan. Dia selalu berpikir apa yang dikatakan Ying padanya dulu, “Jika kau bukan bagian dari solusi, kau adalaj bagian dari masalah.” (halaman 27)

            Dia ingin menjadi solusi, namun dengan keadaan yang sulit sangat tidak mungkin dia menghadapi Ying. Dia berpikir lagi, dan memutuskan untuk segera pergi bersama keempat biksu lainnya. Setelah kepergian kelima biksu, maka Mahaguru yang berhadapan dengan Ying. Yang mengakibatkan Mahaguru meninggal.

            Dari titik inilah kelima biksu mulai berkelana di dunia luar kuil. Dalam novel ini tokoh yang lebih banyak diceritakan adalah Fu, sesuai judulnya adalah Tiger. “Ingatlah selalu, kau mewakili Changzhen.” Itu yang diingat Fu, dari perkataan Mahaguru saat terjadi penyerangan.

            Fu tidak langsung pergi meninggalkan kuil, namun masih berkeliaran di sekitar kuil. Dia mengambil gulungan naskah naga yang dipegang oleh salah satu prajurit. Dalam perjalanannya Fu bertemu dengan kawanan pemburu yang melukai macan. Fu menyelamatkan macan itu, karena nama dia sendiri berarti macan dalam bahasa Kanton.

            Dari menyelamatkan macan, melukai salah satu anak pemburu itulah perjalanan yang harus dilalui oleh Fu bermasalah. Tak dinyaya ternyata pemburu itu adalah gubernur daerah tersebut dan mengapa dia dan anaknya membunuh ibu macan yang Fu tolong karena ibu macan itu membunuh istri gubernur.

Fu dikurung dalam sebuah tempat di sana ia bertemu dengan pemabuk aneh namun memiliki ilmu silat yang hebat. Bahkan yang aneh juga prajurit yang membawa gulungan naskah naga yang kemudian direbut oleh Fu, beberapa kali menolongnya dari keburukan. Novel yang hanya menceritakan Fu ini masih menyisakan pertanyaan dan penasaran bagi pembaca. Seperti apa alasan sebenarnya Ying menjadi pengkhianat Kuil Changzhen?

Kisah lima pendekar yang ditulis bukan oleh penulis China bagus. Renyah cocok untuk remaja, kisah pertarungannya seru. Penerjemahannya juga bagus, nyaman dibaca tanpa harus mengerutkan kening karena bingung penerjemahannya yang tidak baik. Sangat cocok untuk menjadi buku hiburan namun juga penuh filosofi. Selamat membaca sambil menunggu sekuelnya.

gambar diambil dari sini

Dimuat di indoleader.com
(6-Dimuat di Indoleader 8 Januari 2014)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s