Menatap Punggung Muhammad

Ketika Non-Muslim Bermimpi Muhammad

13127752731009664551
cover menatap punggung muhammad

 

Judul Buku: Menatap Punggung Muhammad
Penulis: Fahd Djibran
Cetakan: Agustus, 2010
Tebal Buku: 181 halaman
Penerbit: Litera Pustaka

Sebagai seorang muslim, tak dapat di sangsikan banyak di antara kita yang menginginkan bermimpi bertemu Muhammad, Rasul terakhir yang diutus untuk ummat sedunia. Karena, banyak anggapan dengan bertemu Muhammad maka kehidupan dan akhiratnya sudah terjamin dengan kebaikan.

Karena Apa? Karena dalam suatu hadits, dikatakan bahwasanya tak ada yang bisa menyerupai Muhammad dalam mimpi, termasuk syaitan atau iblis. Jika seseorang bertemu dengan Muhammad dalam mimpi, maka dari hadits tersebut dapat dikatakan bahwasanya itu benar-benar Muhammad dalam mimpinya.

Pertanyaannya, bagaimana jika yang bertemu Muhammad dalam mimpi itu adalah orang non muslim? Mengapa bukan orang-orang muslim yang memang sangat menginginkan bertemu Muhammad dalam mimpinya? Yang bahkan sebagian orang itu melakukan ritual-ritual yang berlebihan karena rasa keinginan yang sangat dalam mimpinya. Dan apakah itu benar-benar Muhammad yang mendatanginya dalam mimpi?

Ini adalah kisah dalam novel terbaru Fahd Djibran yang berjudul Menatap Punggung Muhammad, setelah best sellernya novel berjudul Rahim. Kisah di dalamnya tokoh Aku adalah lelaki non muslim yang mengirim surat setebal seratus halaman pada pacar yang di tinggalkannya, Azalea namanya.

Dia bercerita kenapa dia meninggalkan pacarnya itu. Alasan kuat apakah yang menyebabkan dia harus pergi meninggalkannya tanpa salam dan kabar selama beberapa bulan itu. Dalam suratnya dia bercerita bahwasanya dia sedang menjalani masa-masa mencari Muhammad.

Pencariannya terhadap Muhammad itu adalah efek dari, mimpinya yang bertemu dengan Muhammad saat malam yang sebelum tidur dia dan Azalea telah melakukan hal yang melanggar norma-norma agamanya apalagi dalam islam, zina atas nama cinta. Sebuah keanehan yang sangat ia rasakan, anehnya bahkan hal itu terjadi saat tidur setelah melakukan maksiat.

Dalam mimpinya itu, Rasulullah hadir dan menghampiri dirinya kemudian bertanya padanya, Apakah yang lebih besar daripada iman? Jawab dia, aku tak tahu. Kemudian Muhammad bertanya persis dengan pertanyaan pertama dan dia menjawab dengan jawaban yang sama pula. Kemudian, Muhammad memberinya minum seolah tahu tenggorokannya tercekat sejak tadi dan setelah itu Muhammad berkata, kebaikan yang biasa aku sebut ihsan, itu yang melebihi iman. Kemudian Muhammad pergi dan menjauh darinya. Terus menjauh dan dia merasakan ada kedamaian yang hilang darinya, dia merasakan ada kebaikan saat tadi bertemu Muhammad.

Dari mimpi itulah yang membuat dia harus mencari kebenaran atau mencari Muhammad. Padahal dia telah mencoba untuk menghilangkan mimpi itu dalam pikirannya, namun semakin dia mencoba menghilangkan mimpi itu dalam pikirannya, nyatanya dia semakin memikirkan mimpinya itu. Walhasil, dia harus meninggalkan rumah, keluarga dan juga pacarnya, yang kemudian beberapa bulan setelah itu dia mengirim surat seratus halaman itu pada kekasihnya, Azalea. Dari suratnya itu, tokoh Aku bercerita tentang perjalan pencariannya itu. Saat bertemu kembali dengan paman yang lama tak bertemu disebabkan pamannya menjadi muallaf yang tak diterima dalam keluarganya.

Dari pamannya itu kemudian dia share atas apa yang terjadi padanya. Pamannya pun memberi jawaban-jawaban yang bijak dan menambah banyak pengetahuan padanya. Konon, pamannya masuk islam sama persis karena apa yang terjadi pada dia, sehingga sampai saat ini pamannya ada dalam lingkungan pesantren dan mengajar di sebuah universitas islam swasta. Dia banyak Tanya tentang mimpi dan Muhammad.

Tak hanya itu, dia juga akhirnya bertemu dengan seorang muslim di sebuah perpustakaan, yang akhirnya bisa menjadi teman share dan diskusi dengannya, masih dengan perihal yang sama, tentang mimpi dan Muhammad. Dari orang itu pula akhirnya dia mendapatkan banyak masukkan dan ilmu. Dia semakin tertarik membaca buku-buku tentang mimpi dan Muhammad. Semua literature barat dan timur tentang Muhammad dia baca dan itupun dia ceritakan pada kekasihnya.

Novel ini banyak memberikan pandangan dan pemaknaan dalam ber-islam yang mungkin belum kita ketahui, salah satunya dalam surat tokoh Aku bercerita tentang apa yang telah diskusikan pamannya. Yaitu, dalam perkataan sufi mengatakan bahwasanya kita bisa menjadikan sifat-sifat keMuhammadan dalam diri kita dengan dua syarat. Pertama, Kita harus menjadi Abdul Muthalib, yaitu hamba yang terus berubah dan terus menerus mencari kebenaran. Hal itu harus karena islam menolak berislam karena kebiasaan, bisa kita kaitkan dengan banyak dari kita berislam karena orang tua kita islam maka kita pun islam namun hanya sampai di situ saja tanpa mau menambah dan mencari bagaimana islam dan ajarannya itu sendiri.
Kedua dan terakhir adalah Abdullah, melalui proses pencarian itu kita pun belajar menjadi pelayan, pelayan yang baik pada Tuhannya. Bagaimana pelayan yang baik itu? Yaitu, ketika dia menjalankan perintah dan menjauhi larangan majikan-Tuhan-nya, serta menunjukkan sikap-sikap yang sesuai dengan sikap majikannya itu. Maka, jika pelayan kita Tuhan, adalah kebaikan yang seharusnya menjadi sikap dan akhlak kita.

Jadi, setelah itu -Muhammad- sifat yang terpuji ada dalam diri kita, karena pelayan yang baik adalah yang menampilkan sifat-sifat majikannya. Menampilkan sifat-sifat Allah, asma’ul husna. Jika kita telah menampilkan sifat itu, kita bisa menjadikan sifat kemuhammadan dalam diri kita. Itulah mungkin, kenapa harus ada Abdul Muthalib (Kakek Nabi), Abdullah (Bapak Nabi), kemudian baru ada Muhammad.

Nah, buku ini sangat cocok untuk siapapun, muslim ataupun non muslim. Seperti kata Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dalam endormenstnya untuk buku ini, “Novel ini mengajak kita merenung, menyibak tirai pikiran dan emosi negatif yang menutupi sumber cahaya Illahi, baik yang ada dalam diri maupun di alam semesta.” Kita akan menemukan kebaikan dan makna di dalamnya, tanpa harus mempertanyakan surat itu asli atau hanya karangan Fahd Djibran saja, seperti kata dia yang menjadi tagline buku ini, “Apapun agamamu, kebaikan tak mungkin kau tolak!” Selamat membaca kebaikan.

Repost setelah pernah saya tulis di almarhum multiply. cover diambil dari sini

(9-15 Januari 2014)

5 thoughts on “Menatap Punggung Muhammad

    • Muhammad Rasyid Ridho 15 Januari 2014 / 23:52

      iya mba. sepertinya sekarang beredar judul baru mba. Kalau nggak salah seribu malam untuk muhammad.

      Suka

  1. Gusti A.P. 24 Maret 2016 / 03:00

    Whoa. dialog2 antara muslim dan non muslimnya seru? Ga langsung diterima begitu saja kan? Ada proses pencarian lagi setelah dialog itu terjadi kan?

    *soalnya beberapa kali baca cerita yg non muslimnya “kurang memberikan” perlawanan dalam debat argumen. Padahal biasanya bisa panjang gitu bahasannya. Mulai dari yg nyambung sampai pengalihan isu😄

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 24 Maret 2016 / 03:06

      Saya lupa-lupa ingat Mbak. Buku ini direpublish kok, dengan judul beda. Insya Allah nanti saya nyetok, dana belum cukup😀

      Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s