Kahar Muzakkar dan Kartosoewirjo

Menelisik Jejak Hidup Pahlawan Sekaligus Pemberontak

cover_kahar-muzakkar-kartosoewirjo-web
cover kahar muzakkar dan kartosoewirjo

Judul Buku                     : Kahar Muzakkar & Kartosoewirjo

Penulis                          : Prof. Dr. Suwelo Hadiwijoyo

Penerbit                       :Palapa-Diva Press

Tahun Terbit                : September, 2013

Jumlah Halaman          : 226 halaman

ISBN                           :  978-602-255-2581

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan Koordinator Klub Buku Booklicious, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

            Negara Islam Indonesia, beberapa tahun terakhir menjadi topik hangat yang sering dibicarakan. Tidak hanya karena sejarah kontroversialnya namun juga nama besarnya yang menjadi kambing hitam aktivitas sebuah lembaga untuk merekrut anggota baru di masa sekarang. Dibalik  berdirinya NII ada dua nama yang menjadi pembesarnya, banyak yang menyebutnya pahlawan dan banyak pula yang menyebutnya pmberontak.

Kahar Muzakkar begitulah namanya dikenal. Sejak kecil terkenal sebagai anak lelaki berkemauan keras. Dalam sebuah buku berbahasa Bugis miliknya Abdul Kahar menulis bahwa sejak kecil dia tidak pernah ditundukkan oleh lawan-lawannya dalam perkelahian. Dan sejak dewasa dia tidak pernah menjadi ‘Pak Turut’ pendapat seorang di luar ajaran Islam (halaman 28).

Ketika kecil Kahar Muzakkar dibesarkan dilingkungan yang notabene adalah keluarga Bugis Luwu yang dikenal memiliki tingkat keberanian tinggi dan berwatak keras. Kahhar dibesarkan oleh ayahnya, Malinrang, yang dipandang sebagai orang kaya dan terhormat di kampungnya.

Menginjak remaja sang Ayah meminta Kahar Muzakkar untuk merantau ke Jawa untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi. Tepatnya di pendidikan Mu’limin yang dikelola Muhammadiyah di Solo. Dalam masa pendidikannya Kahar hanya menempuh tiga tahun sekolah tanpa meneruskan lagi, bersebab seorang gadis Solo memikat hatinya. Kemudian gadis itu dinikahinya.

Hukum Suku Luwu adalah tidak boleh lelaki Luwu menikahi gadis suku lain, maka ketika ketahuan menikahi gadis Solo Kahar dihukum dengan diusir secara paksa dari tanah kelahirannya. Akhirnya, dia kembali ke Solo dan aktif sebagai aktivis Hizbul Wathan (Kepanduan Muhammadiyah).

Sejak itu dia aktif dalam sebuah gerilya perang, dan memutuskan untuk keluar dari organisasi. Bersama teman-temannya seperti Muhammad Idrus GP, Kahar mendirikan sebuah organisasi berkedok perniagaan untuk mengatur strategi melawan Belanda. Pertama kali nama gerakannya bernama Gerakan Pemuda Indonesia Sulawesi (GEPIS) kemudian berubah menjadi Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS) yang didukung oleh API (Angkatan Pemuda Indonesia) yang berperan ‘menculik’ Bung Karno dan Bung Hatta untuk menandatangani teks proklamasi.

Sejak itulah peran Kahar Muzakkar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan setelah proklamasi 17 Agustus 1945 dimulai. Setelah banyak perjuangannya untuk kemerdekaan bangsa, Kahar bisa saja disebut sebagai pahlawan walaupun ketentaraannya banyak disebut sebagai kebetulan karena tidak mengikuti pendidikan tentara formal.

Karena sikap tidak puasnya kepada pemerintah dan TNI kala itu yang tidak bisa mengabulkan keinginannya untuk menjadikan Kesatoean Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) masuk dalam tubuh TNI. Inilah yang menyebabkan dia mendirikan Tentara Islam Indonesia (halaman 64). Kemudian memberontak pada pemerintah yang menyebabkan dia meninggal pada 3 Februari 1965 (halaman 114).

Buku karya Profesor Suwelo ini juga memaparkan kisah hidup Kartosowoerjo. Pendiri NII. Dia lahir di keluarga yang liberal. Ayahnya adalah seorang pribumi yang bekerja sebagai pegawai di gubernemen Hindia Belanda dengan jabatan mantra kehutanan. Karenanya, dia memakai nama ayahnya (Soekarmadji Maridjan) di depan namanya, karena ingin bisa memiliki pengaruh seperti ayahnya juga.

Pendidikan Kartosoewirjo banyak diajari oleh guru-guru luar negeri seperti Belanda, Portugal, dan Cina. Sehingga itu mempengaruhi pemikirannya. Sedangkan dia tidak meninggalkan pendidikan ilmu agama. Ilmu agama dia belajar langsung kepada ulama Muhammadiyah, Notodiharjo. Pada ulama tersebut dia belajar ilmu-ilmu keislaman modern yang banyak mempengaruhi kehidupannya.

Ketika menginjak dewasa Kartosoewirjo tidak terlalu peduli dengan pendidikan kedoterannya. Dia lebih aktif dalam organisasi pergerakan. Dia termasuk salah satu panitia yang menyelenggarakan sebuah acara pengumpulan pemuda dari seluruh Indonesia yang kemudian melahirkan sumpah pemuda (halaman 122). Kemudian dia bergabung dengan Sarekat Islam, Masyumi hingga membuat NII lantaran kekecewaannya pada pemerintah yang membuat undang-undang tidak sesuai Islam dan mudahnya pemerintah mengikuti perjanjian-perjanjian dengan Belanda yang banyak merugikan rakyat.

IMG_6674
dok pribadi

Walau begitu sejarah tetap menjadi alat sarat kepentingan. Kadang yang salah menjadi benar, yang benar menjadi salah. Sebutan pahlawan dan pemberontak pun bisa jadi kabur, karena penulisan sejarah. Akhirnya, buku ini bisa menjadi buku yang menambah wawasan Anda tentang khazanah sejarah Indonesia yang tanahnya pembaca pijak sejak lahir.

gambar diambil dari sini

(13-Dimuat di Harian Bhirawa 10 Januari 2014)

8 thoughts on “Kahar Muzakkar dan Kartosoewirjo

  1. ifaavianty1 28 Januari 2014 / 00:19

    Waaa… Ridho kalau meresensi emang detail dan bikin penasaranutk cari bukunya…. Thx Dho🙂

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 28 Januari 2014 / 00:43

      terima kasih juga mba Ifa sudah mampir dan baca. Hehe ini belum sedetail mba Ifa yang menulis resensi. Belum berimbang dan kurang kritikan masih, yaa Ridho masih belajar mba Ifa hehe

      Suka

  2. sarah amijaya 28 Januari 2014 / 01:40

    wew, aku punya sejarah buruk sama anggota NII nih *fiuuuh…..

    Suka

  3. tantri06 7 Februari 2014 / 10:15

    Review yang detail. Keren.
    Btw bener banget, mas. Sejarah selalu dibeberkan dari satu sudut pandang aja. Dan kita perlu juga tahu dr. sudut pandang tokoh lain yg diantagoniskan kayak gini biar bisa lebih objektif.
    Btw, salam kenal. Boleh nih kapan2 saya mampir ke gathering-nya booklicious?😀

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 9 Februari 2014 / 11:50

      masih belajar mba, ya bgitulah sejarah. MAsih mau baca versi lain saya nih. wah silakan mampir mba Tantri. Domisili di mana nih?🙂

      Suka

      • tantri06 10 Februari 2014 / 12:25

        Wah, saya anak GRI Malang kok. Hehehe

        Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s