Inspirasi Mengajar Ala Harvard University

 

Metode Mengajar Kreatif Ala Universitas Harvard

cover_Inspirasi-Mengajar-ala-Harvard-University-webJudul                            : Inspirasi Mengajar Ala Harvard University

Penulis                          : Juma de Putra

Penerbit                       :Diva Press

Tahun Terbit                : September, 2013

Jumlah Halaman          : 178 halaman

ISBN                           :  978-602-7968-141

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

            Mengajar itu mudah sekaligus susah. Karena mengajar itu bukan sekedar mengajari sesuatu terhadap murid ataupun mahasiswa, namun mengajar itu ada caranya. Mengajar adalah seni, jadi memang para pengajar harus mempelajari seni dalam mengajar. Agar hasil dari apa yang diajarkannya bisa mencapai tingkat maksimal.

            Strategi, keahlian, dan seni mengajar dibutuhkan oleh seorang guru dalam rangka memberikan nuansa nyaman dan memudahkan siswa dalam menerima pelajaran. Sebab tidak sedikit siswa/ mahasiswa yang mengalami kebingungan dalam menerima materi pelajaran yang disampaikan guru/ dosen. Kegagalan siswa dalam menerima materi lebih banyak diakibatkan tidak sesuainya gaya mengajar guru yang diterapkan di kelas.

Oleh karena itu guru ataupun dosen menjadi elemen penting dalam proses transfer pengetahuan. Guru menjadi subyek pembelajaran yang mampu memahami dan melihat siswa sebagai subyek pembelajaran. Paradigma ini menempatkan guru sebagai pendamping guru sebagai pendamping dan pelayan siswa. Siswa bukan hanya obyek yang menerima materi atau bahan perkuliahan, tetapi juga  menjadi rekan yang saling menguntungkan dalam proses transfer pengetahuan (halaman 20).

Gaya dan seni mengajar tidak tepat justru membuat suasana kelas menjadi tidak kondusif. Di universitas Harvard, seorang dosen selalu melakukan inovasi mengajar untuk membuat suasana kelas menjadi kondusif. Dalam satu kesempatan, seorang dosen kadang mengajak mahasiswanya bermaind an menjelajah dunia maya, tetapi dalam kesempatan lain, dosen dapat mengaja berdiskusi perihal materi yang harus dipecahkan.

Dalam satu materi, seorang dosen kadang mengajar dengan beberapa gaya untuk membuat suasana kelas kondusif. Hal ini sangat penting, karena proses pembelajaran tidak akan berjalan monoton. Mahasiswa juga dapat menikmati dengan nyaman kegiatan belajar mengajar. Harvard University memberikan sebuah gambaran bahwa dalam mengajar, seorang dosen tidak boleh membebani mahasiswa, akan tetapi harus membebaskannya (halaman 24).

Ada banyak seni mengajar yang biasa digunakan di Universitas Harvard, di antaranya Simulasi. Salah satu tekhnik yang biasa digunakan dalam simulasi adalah bermain peran (role playing). Tekhnik ini menekankan pembelajaran pada pola permainan dalam bentuk dramatisasi. Dramatisasi dilakukan oleh sekelompok mahasiswa dengan mekanisme yang diarahkan pengajar. Simulasi ini menitikberatkan pada pengingatan masa silam yang dimungkinkan akan terjadi di masa datang atau peristiwa aktual dan bermakna bagi kehidupan sekarang (halaman 33).

Selain simulasi yang sering digunakan sebagai gaya mengajar di Universitas Harvard adalah Diskusi, tepatnya di Fakultas Hukum. Diskusi sebagai media belajar merupakan sebuah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih yang melakukan interaksi saling bertukar pikiran dan pendapat atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah. Sehingga mendapatkan kesepakatan di antara mereka. Belajar-mengajar yang menggunakan diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (halaman 41).

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mengintegrasi teori dengan praktis. Tidak jarang, siswa yang pandai di kelas, tidak mampu menginternalisasikan pengetahuannya ke kehidupan nyata. Sebaliknya, siswa yang pandai bergaul di masyarakat, terkadang kurang memahami berbagai teori kemasyarakatan. Pendidikan bukan soal fragmentasi atau bagian yang terpotong-potong. Pendidikan mengintegrasikan seluruh elemen kehidupan manusia. Pendidikan harus mampu menjawab semua yang dikerjakan pengetahuan. Dan metode yang digunakan merupakan metode kontekstual.

Sistem pendidikan dan pola pengajaran yang ideal adalah yang melibatkan langsung siswa ke alam nyata, berinteraksi dengan masyarakat, dan berusaha berkontribusi bagi masyarakat. Pembelajaran kontekstual memiliki landasan filosofis konstrutivisme, yang mana proses belajar mengajar tidak hanya menitikberatkan pada proses hafalan, tetapi juga membangun pengetahuan dan keterampilan baru melalui fakta atau proposisi yang dialami dalam kehidupan nyata. Hakikat konstruktivisme adalah siswa mampu membangun atau merekonstruksi pemahaman dengan cara menimba pengalaman baru berdasarkan pengetahuan yang diperoleh melalui proses interaksi sosial dan asimilasi-akomodasi. Implikasi dari metode kontekstual adalah konstruksi pembelajaran harus mengarah pada konstrukstivisme, bukan menerima pengetahuan dari guru (halaman 64-65).

Akhirnya, buku 178 halaman ini memberikan banyak pengetahuan baru guna memperbarui metode mengajar. Tak pelak, buku ini sangat wajib dibaca bagi calon guru maupun guru dan dosen sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, jika ingin menghasilkan produk yang istimewa seperti mahasiswa-mahasiswa Universitas Harvard. Semoga!

gambar diambil dari sini

(18-Dimuat di wasathon.com 5 Februari 2014)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s