Sejenak Hening

Terapi Kelereng Kebahagiaan

Judul                            : Sejenak Hening

Penulis                          : Adjie Silarus

Penerbit                       :Metagraf-Tiga Serangkai

Tahun Terbit                : Agustus, 2013

Jumlah Halaman          : 310 halaman

ISBN                           :  978-602-9212-853

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan Koordinator Klub Buku Booklicious.

            cover sejenak-heningSemakin hari kehidupan terasa semakin cepat dan menggerahkan saja. Semakin runyam kehidupan, banyak konflik di mana-mana. Semakin ramai kehidupan, semakin banyak kendaraan pemicu kemacetan. Banyak orang berpacu dengan waktu untuk bekerja, bersaing mencari penghasilan agar bisa mencapai bahagia  bersama keluarga. Banyak orang juga yang menganggur, banyak pula yang stres.

            Secara logika mereka yang stres, tidak punya pekerjaan, kena macet di jalan, akan menjadi tidak bahagia karena ketidaknyamanan. Pertanyaannya apakah yang bekerja sehari-hari itu akan pasti menjadi bahagia? Belum tentu. Banyak dari mereka yang pikirannya hanya bekerja, bekerja dan bekerja sehingga tidak mampu menikmati keajaiban hidup walau hanya sedetik. Sehingga tidak ada waktu untuk membahagiakan keluarga bahkan tidak ada waktu untuk membahagiakan diri sendiri walau hanya istirahat sejenak. Akibatnya,  bisa jadi akan stres dan tidak punya semangat lagi.

            Maka kehadiran buku Sejenak Hening karya Adji Silarus ini  dalam rangka mengajak pembaca untuk sejenak berhenti. Sejenak meninggalkan segala aktivitas, sejenak untuk untuk puasa gadget, sejenak  puasa televisi, sejenak puasa media sosial untuk menenangkan diri dan menikmati detik keajaiban hidup.

            Seharusnya, setiap detik kehidupan tidak boleh terlewati dengan kesan biasa saja. Seharusnya setiap detik diupayakan selalu ada kesan yang membahagiakan. Dalam bukunya Adjie memiliki konsep terapi kelereng. Sebuah terapi, bagaimana pembaca menggunakan waktu yang ada untuk kebahagiaan sendiri, keluarga dan lingkungan.

            Terapi ini Adjie tulis melalui sebuah cerita. Cerita tentang seorang tua bijak dan anak muda kantoran. Si tua bijak mengatakan dengan yakin bahwa anak muda kantoran ini sibuk dengan pekerjaannya, dan si tua juga yakin perusahaan tempat dia bekerja member dia gaji yang banyak. Namun, satu hal yang disayangkan oleh si tua adalah anak muda kantoran selalu menghabiskan 60 sampai 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, hanya untuk menonton pertunjukan tarian putrinya saja tidak sempat.

            Maka, si tua bijak menceritakan teori 1000 kelereng yang membantunya untuk mengatur dan menjaga prioritas apa yang seharusnya dia lakukan dalam hidup. Si tua suatu hari menghitung rata-rata manusia hidup sampai 75 tahun. Lalu dia kalikan 75 dengan 52 minggu dalam setahun. Hasilnya, 3900. Angka 3900 ini merupakan jumlah hari sabtu rata-rata yang dimiliki setiap orang dalam hidupnya.

            Si tua mengatakan bahwa hal tersebut baru terpikirkan ketika dia berumur 55 tahun, yang berarti dia sudah melewatkan 2860 hari sabtu. Angka  itu dia dapatkan dari hasil kali 55 tahun umurnya dikali 52 hari sabtu. Yang berarti bila umurnya hanya sampai 75 tahun, maka sisa hari sabtunya sekitar 1040 yang akan dia nikmati.

            Lalu dia pergi ke toko mainan, dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Sampai pada toko mainan yang ketiga, Si tua mendapatkan 1040 kelereng. Setelah sampai di rumah, kelereng itu ditaruhnya di meja kerjanya. Setiap sabtu, sejak saat itu si tua selalu mengambil satu kelereng kemudian membuangnya. Dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, dia memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupnya. Karena hal itulah dia mengawasi anak muda tersebut dan merasa sayang jika waktunya hanya habis untuk bekerja. Dia berharap bisa menolong anak muda itu membenahi dan meluruskan prioritas dalam hidupnya.

            Ada pesan si tua kepada anak muda sebelum dia keluar bersama keluarganya untuk mencari sarapan. “Pagi ini, kelereng telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya dan kubuang. Aku berpikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan dating, maka Tuhan telah memberiku sedikit waktu tambahan, waktu ekstra dengan orang-orang yang kusayangi.” Mendengar itu anak muda, tertegun sekaligus tersadar. Bahwa keluarga adalah lebih dari apapun, sehingga dia harus mengatur kembali prioritas hidupnya.

            Dengan cerita rekaan Adjie di atas tak pelak pembaca pun akan tersadar bahwa banyak waktu yang mungkin terbuang sia-sia karena salah prioritas. Maka, saya tak ragu untuk merekomendasikan buku inspiratif ini untuk Anda baca. Karena, buku ini penuh dengan renungan-renungan inspiratif sarat motivasi. Cocok menemani waktu luang Anda, agar semakin bahagia bersama orang tercinta. Selamat membaca!

gambar diambil dari sini

(24-Dimuat di Indoleader 4 Maret 2014)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s