Soekarno’s Wife

Para Perempuan Di Balik Kesuksesan Putra Sang Fajar

                                                                       Judul                           : Soekarno’s Wife

cover Soekarnos Wife
cover Soekarno’s Wife

Penulis                         : Rachmat Darsono

Editor                          : Kaka Alvian Nasution

Penerbit                       : Buku Biru-Diva Press

Tahun Terbit                : Pertama, Februari, 2014

Jumlah Halaman          : 190 halaman

ISBN                           : 978-602-255-435-6

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Pecinta Buku Booklicious.

Sering kita dengar perkataan, “Di balik kesuksesan lelaki ada perempuan (istri) hebat di belakangnya.” Sepertinya perkataan itu tak salah, Soekarno Putra Sang Fajar mendapatkan kesuksesan bukan karena usahanya saja, namun juga karena ada support dan motivasi dari istri-istrinya.

Berbicara Soekarno, kita akan mengingat seorang yang gagah, tampan, pidato serta perkataannya yang menggelegar dan tajam menggerakkan. Seperti, perkataan “Bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Selain itu ternyata Soekarno juga seorang yang banyak memikat hati wanita bukan, tentu dengan alasan yang telah tersebut di atas, sekaligus Soekarno pun mampu membuat kata-kata yang melelehkan hati wanita atau biasa disebut romantis.

Dalam buku Soekarno’s Wife karya Rachmat Darsono disebutkan, Soekarno telah menikahi sembilan wanita. Mungkin darah bangsawannya yang membuat sang Bapak Proklamasi ini begitu mudah mencintai banyak wanita. Inilah sisi manusiawi Soekarno dibalik kharismanya yang gagah dan disegani para pemimpin lain. Bisa jadi ini adalah kelemahannya, terlalu mudah mencintai wanita yang ditemui.

Istri pertama Soekarno adalah Siti Oetari. Oetari adalah putri dari pahlawan nasional pemimpin Sarekat Islam, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Pada waktu itu Oetari masih berumur 16 tahun. Sedangkan Soekarno belum genap 20 tahun. Sebenarnya, Soekarno tidak terlalu mencintai Oetari karena telah menanggap anak Tjokroaminoto tersebut sebagai adik sendiri. Namun, karena adik Tjokro yang meminta Soekarno untuk menikahi salah satu anak pemilik rumah yang dia tempati tersebut (halaman 20).

Namun, sayang pernikahan mereka kandas karena Bung Karno harus pindah ke Bandung karena melanjutkan sekolah ke THS (sekarang ITB). Sedangkan, Oetari lagi menikmati masa-masa remajanya. Mereka pun berpisah.

Perpisahan dengan Oetari, ternyata membuat Soekarno bertemu dengan Inggit Garnasih. Walaupun Inggit adalah seorang janda, namun mampu membuat hati Soekarno luluh. Mereka menikah pada 23 Maret 1923 di Bandung. Saat itu umur Bung Karno 22 tahun dan Inggit 36 tahun.

Inggit memiliki posisi penting dalam hidup Bung Karno, karena telah menemani dia saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Inggit adalah orang yang setia, tegar dan tabah. Ketika Bung Karno dipenjara di Sukamiskin Inggit selalu mengunjunginya. Membawa makanan ataupun buku-buku yang dipesan oleh Bung Karno. Dari buku-buku yang dibawa Inggit maka lahirlah teks pidato Soekarno yang berjudul Indonesia Menggugat.

Inggit berusaha menghidupi anak-anaknya sendiri, dengan membuka usaha kecil-kecilan seperti menjual BH, bedak, rokok dan menjadi agen sabun dan cangkul (halaman 50). Inggit selalu memotivasi Bung Karno agar bersabar dan menunggu masa lepas dari tahanan dan kembali memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Namun, pernikahan ini pun harus berakhir karena Bung Karno kembali mencintai wanita lain ketika diasingkan ke Bengkulu. Perempuan itu bernama Fatmawati, anak dari Hassan Din dan Siti Chadijah yang menjadi tokoh Muhammadiyah di Bengkulu kala itu. Dalam masa pengasingan Bung Karno menempati rumah Hassan Din. Dan ternyata Bung Karno mencintai anak Hassan Din, Fatmawati.

Ketika telah kembali dari Bengkulu, Bung Karno sering murung dan merasa kangen pada Fatmawati. Karenanya, dia ingin menikahi Fatmawati namun Inggit kurang senang dan meminta Soekarno mengembalikannya ke Bandung saja. Bung Karno yang waktu itu masih mencintai Inggit juga, hanya bisa mengiyakan saja.

Maka, menikahlah Bung Karno dengan Fatmawati pada bulan Juni 1943. Dari pernikahan ini lahir Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Fatmawati terkenal sebagai penjahit bendera pusaka merah putih yang ternyata telah dia jahit setahun setengah sebelum kemerdekaan (halaman 66). Dialah Ibu negara pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah kelahiran Guruh Putra 15 Januari 1953. Bung Karno meminta izin pada Fatmawati untuk menikahi Hartini. Fatmawati mengizinkan namun, dia tak mau dipoligami. Akhirnya, Hartini dinikahi di Istana Cipanas pada 7 Juli 1953. Bung Karno berjanji akan menjadikannya istri terakhir, karenanya Hartini memberikan seluruh kesetiaannya pada Bung Karno. Namun, ternyata Bung Karno menyalahi janjinya dan menikah lagi dengan Ratna Sari Dewi yang seorang Jepang (1961), Haryati (Mei 1963), Yurike Sanger (Agustus 1964), Kartini Manoppo (1959) dan Heldy Djafar (1966).

Semua wanita yang pernah ada dalam hidup Bung Karno memberikan dampak dan kontribusi bagi kehidupan Bung Karno dalam memimpin negeri ini. Bisa jadi darah birunya yang membuat Soekarno mudah tertarik pada wanita yang ditemuinya. Namun, paling tidak ini menjadi kelemahan yang ada pada sang proklamator yang juga manusia biasa. Buku yang sarat dengan pengetahuan, cocok dibaca siapapun untuk mengetahui siapa saja istri Putra Sang Fajar, kontribusi mereka terhadap Negara, dan kesuksesan Bung Karno dalam memimpin negeri. Selamat membaca!

Copy of PARA PEREMPUAN
dokumentasi pribadi

cover diambil dari fesbuk Diva Press

(28-Dimuat di Malang Post 30 Maret 2014)

 

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s