Hanya Sebutir Debu

Cover Hanya Sebutir Debu
Cover Hanya Sebutir Debu

Misteri Hidup Sebutir Debu

Judul                            : Hanya Sebutir Debu

Penulis                          : Sandi Firly

Penerbit                       : Quanta (Elex Media)

Tahun Terbit                : Pertama, 2014

Jumlah Halaman          : 184 halaman

ISBN                           :  978-602-02-3762-6

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Buku Booklicious-Malang.

Tuhan telah menetapkan aturan, sebab-akibat, dan cara-cara demi semua yang mencariNya di bawah langit biru ini. (Jalaluddin Rumi)

Guru Aran adalah pengasuh sebuah pesantren di sebuah daerah di Kalimantan Selatan tepatnya di sebuah kota yang terkenal sebagai kota intan dan kota santri Martapura, Banjar. Kepada Rozan (anaknya), Guru Aran selalu bercerita bahwa dia ingin sekali menjelajahi dunia, mendatangi kota-kota yang belum pernah dia lihat. Naluri yang menurut Guru Aran banyak diinginkan oleh banyak orang, terutama oleh laki-laki yang menyukai bertualang.

Sayang, karena telah beristri dan menjadi pengasuh di sebuah pondok pesantren akhirnya datang penyesalan karena belum melakukan impiannya. Agar Rozan tidak merasakan penyesalan yang sama, maka Guru Aran selalu mengatakan bahwa Rozan harus melakukan perjalanan dari rumah dan pondok agar tahu bagaimana keadaan dunia luar. Dunia yang sebenarnya, yang memungkinkan dia akan mendapatkan pelajaran.

Pada usia enam belas tahun menuju tujuh belas tahun, Guru Aran telah menyuruh Rozan agar melakukan perjalanan. Guru Aran meminta Rozan agar pergi ke Rantau. Rozan sempat merasa menjadi anak yang tidak disayang oleh kedua orangtuanya lantaran menyuruhnya untuk pergi dari rumah. Namun, akhirnya dia berusaha untuk positif thingking. Bahwa perjalanan yang akan dilaluinya akan memberinya hikmah dan pelajaran.

Guru Aran menyuruh Rozan untuk bertemu dengan Guru Zaman. Seorang guru di sebuah Langgar ar-Rahim. Di langgar itu dia mendapat tugas turut mengajar mengaji para santri di sana. Selain itu sebagaimana Rantau adalah daerah yang terdapat batu bara, maka Rozan pun merasakan panasnya hiruk-pikuk kota yang disebabkan oleh batu bara.

Seperti sejak kedatangannya di Rantau, Rozan telah disuguhi dengan truk-truk pengangkut batu bara yang berjalan di jalanan umum yang menerbangkang debu-debunya. Akibatnya, udara jadi tidak segar dan banyak rumah-rumah yang tertutupi debu.  Selain itu batu bara yang tidak dikelola oleh rakyat setempat, menyebabkan ketimpangan ekonomi. Pengelola menjadi kaya raya, sedangkan rakyat setempat hidup seadanya, bahkan hanya mendapat sisa yang tak berguna bahkan berbahaya yaitu debu batu bara.

Karena ketimpangan tersebut maka lahirlah preman-preman yang membutuhkan uang. Tidak hanya satu kelompok namun dua kelompok yang berseberangan. Kelompok Pak Sawang dan Udin Tungkih. Dua kelompok tersebut pun memiliki tameng dari bos (pengelola) yang tak lain adalah suami istri, Pak Ismail dan Ibu Diyang. Ada juga Jantra yang berada dalam kelompok Pak Sawang yang menarik perhatian Rozan karena kebaikannya.

Penulis mencoba membuat konflik yang membuat Rozan semakin tertekan, kontra antara kelompok Pak Sawang dan Udin Tungkin tidak selesai setelah dimediasi oleh Guru Zaman dan dia. Rozan juga bersinggungan dengan kehidupan Pak Ismail dan Bu Diyang dengan menjadi guru mengaji Kira (anak Pak Ismail dan Bu Diyang). Dalam konflik inilah kemudian terbongkar bahwa Rozan bukan anak kandung Guru Aran. Lalu anak siapakah Rozan? Sebaiknya, Anda membaca sendiri novel ini.

Awalnya, saya mengira ini adalah semacam novel travelling karena Guru Aran yang menginginkan Rozan melakukan perjalanan. Ternyata, perjalanan Rozan hanya ke kota sebelah yakni Rantau. Namun meskipun begitu, pelajaran yang didapatkan Rozan cukup banyak dari masalah-masalah yang ada di Rantau.

Pelajaran yang didapatkan Rozan pun menjadi pelajaran yang bisa diambil oleh pembaca seperti. 1. Kehidupan itu misteri dan nanti akan dijawab oleh waktu di saat yang tepat. 2. Indonesia adalah negeri yang kaya raya. Seperti di Rantau yang menjadi sumber batu bara, akan tetapi rakyat sekitar miskin dan yang kaya adalah bos pengelola. Akhirnya, terjadi kekacauan yang ditimbulkan oleh preman-preman yang lahir karena ketimpangan sosial-ekonomi.

Sebagai buku debut yang bisa membawa penulisnya mengikuti Festival di Ubud, maka buku ini tentu adalah buku yang bagus. Namun, sebagai pembaca saya merasa novel ini tidak sesuai ekpektasi. Awalnya, saya mengira buku ini akan membuat saya merasakan hal yang waw. Ternyata, setelah menamatkan novel ini saya merasa biasa saja. Kecuali ada beberapa kalimat yang mengena.

Salah satunya berikut. Hanya ada dua kalimat yang indah, bahkan lebih indah dari puisi, yang diharapkan seorang perempuan. Pertama pinangan, dan kedua saat sang calon suami mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu. (hal. 52)

Meski tidak membuat saya mencapai ekspektasi saya yang tinggi terhadap buku ini, buku ini tetap layak dibaca dengan alasan berikut. 1. Novel ini memiliki amanat yang memberikan pelajaran bagi pembaca. 2. Ada kalimat-kalimat dalam novel ini yang mengena pembaca. 3. Jika Anda ingin mengikuti Festival di Ubud, tak ada salahnya Anda membaca buku ini sebagai referensi novel seperti apa yang disukai oleh festival tersebut. Dan, akhirnya selamat membaca!🙂

(43- 3 Agustus 2014 )

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s