Braga Siang Itu

Kumpulan Cerpen Rasa Indonesia

cover Braga Siang Itu
cover Braga Siang Itu

Judul   : Braga Siang Itu

Penulis   : Triani Retno A

Editor  : Yashinta

Penerbit  : Sheila, Yogyakarta

Tahun Terbit  : Pertama, 2013

Jumlah Halaman  : 140  halaman

ISBN  :  978-979-29-4157-9

Harga   : 29.000,-

Peresensi  : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Pecinta  Buku Booklicious.

Kemiskinan menjadi masalah di banyak Negara, termasuk di Indonesia. Triani menulis cerpen tentang hal itu. Bercerita tentang Rahmi, anak keluarga miskin yang harus mencari uang di jalanan. Narator sebagai tokoh utama menyangka Rahmi, disayangi ibunya. Tidak seperti dia yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Namun, kenyataannya ternyata Rahmi selalu disiksa oleh ibunya. Sama saja dengan narator yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Bahkan dia tidak tahu ibunya, karena dia sewaktu bayi hidup di panti asuhan setelah ditemukan di sebuah tong sampah ( cerpen Bunda, Ibu yang Tak Pernah Ada hal 1-13). Ini masalah Indonesia sekali, namun masih belum bisa teratasi.

Ada juga kisah yang bercerita tentang seorang Malin. Kita akan teringat pada dongeng legenda khas Indonesia, tentang Malin yang durhaka pada Ibunya yang kemudian menjadi batu. Tidak begitu dengan karya Retno ini, dia menulis cerpen kebalikan dari legenda.

Retno menulis Malin adalah anak yang taat, namun ibunya yang suka marah dan tidak sayang pada Malin. Saat Malin akan menikah ibunya, marah-marah menyuruh Malin mencari uang sendiri. Ketika sudah menikah dengan Dewi, ibu Malin memberi hadiah pakaian kepada anak kembar Malin. Namun baju yang diberi oleh ibu Malin, masih kebesaran bagi anak kembarnya. Karenanya baju itu belum bisa dipakai, hanya karena itu ibu Malin marah dan membanting pintu. Malin pun bertanya, siapakah yang sebenarnya durhaka? Dia atau Ibunya? (cerpen Saat Malin Bertanya halaman 33-44).

Fenomena ini memang marak terjadi saat ini di Indonesia. Banyak anak yang mati dibunuh ibu atau bapaknya sendiri. Cerpen ini sebenarnya mirip dengan novel karya Triani Retno juga yang bercerita tentang ibu yang “durhaka” yang berjudul, Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya (Diva Press, 2012).

Retno dalam cerpen yang berjudul Sarapan mencoba merekam dan menggambarkan berita Televisi Indonesia saat ini yang begitu memuakkan. Kisah pasutri bernama Fajar dan Suci yang memiliki dua anak kecil bernama Yasmin dan Sarah. Ketika sarapan terbiasa bersama keluarga dan itu di depan televisi. Nah, seringkali televisi memberitakan ada banyak artis yang terjun ke dunia politik, seperti sekarang ini yang merembet ke permasalahan korupsi sang anak pun bertanya apa itu korupsi. Pencurian yang dilakukan oleh orang-orang berdasi. Ketika ada pemberitaan mutilasi, anak-anak pun bertanya perihal itu. Lanjut berita tentang bentrok massa, pindah channel tentang penyanyi dangdut yang dicekal karena goyangan erotis dan mengumbar syahwat, pindah channel iklan ramalan melalui sms. Pindah channek, tentang iklan pembesar payu dara, pindah channel tentang seorang gadis yang disiksa ibu tirinya yang jahat. Pindah channel lagi tentang seorang siswi SMP yang diperkosa enam pemuda. Pindah channel lagi, sinetron tentang dua remaja belia yang sedang pacaran di mal. Pindah channel  infotaiment lagi tentang artis yang menggugat suaminya karena berselingkuh dan berita lainnya yang tidak mendidik (halaman 45-56).

Saya rasa dalam cerpen ini Triani memberikan beberapa amanat bagi pembaca. Pertama, inilah fakta yang terjadi di Indonesia. Kacau balau, ada pemerkosaan yang dilakukan oleh anak dibawah umur, perceraian, dan tentu saja korupsi. Kedua, pemberitaan di TV yang sejak pagi saja sudah berbahaya bagi anak-anak, seperti cerita di atas anak-anak menanyakan tentang hal yang tidak diketahuinya yang mereka lihat di TV dan itu perihal negatif semua. Ketiga, menjadi sebuah pesan bagi pekerja TV agar lebih memperhatikan apa manfaat yang mereka produksi bagi khalayak bukan saja mengejar uang.

Ada juga kisah tentang Ren dan Dewi. Ren sering melihat Dewi mengumpulkan sansevieria atau biasa disebut dengan lidah mertua. Di halaman rumah Dewi yang berukuran sekitar lima belas meter persegi selain ada sebatang pohon mangga harum manis yang cukup rindang, hanya ada Sansevieria.

Ren mengira Dewi adalah kolektor dan akan menjualnya nanti. Namun, tak dinyana Dewi menebas lebih dari setengan panjang daun dari puluhan Sansevieria. Ternyata hal sebuah pelampiasan bagi mertuanya yang lidahnya tidak Dewi sukai. Pun suaminya yang tidak berbuat apa-apa malah mencari aman di ketiak ibunya (cerpen Sansevieria halaman 23-32).

            Kumpulan cerpen ini tidak saja bercerita tentang apa yang terjadi di Indonesia, namun juga tentang perempuan. Karena memang lima belas cerpen dalam buku ini berfokus pada perempuan yang telah menghiasi media lokal dan nasional. Jadi, kualitasnya tidak perlu ditanyakan lagi. Selamat membaca!

(46- dimuat di Indoleader)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s