Penangsang: Tarian Rembulan Luka

Rekontruksi Kepahlawanan Penangsang

cover penangsang tarian rembulan luka
cover penangsang tarian rembulan luka

Judul   : Penangsang: Tarian Rembulan Luka

Penulis   : Nassirun Purwokartun

Penerbit  : Metamind-Tiga Serangkai

Tahun Terbit  : Pertama, 2013

Jumlah Halaman  : 648 halaman

ISBN  :  978-602-9251-18-0

Peresensi  : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Pecinta  Buku Booklicious.

Bagaimana bisa Haryo Penangsang yang menjadi murid kesayangan Sunan Kudus menjadi salah satu musuh kesultanan karena tertuduh melakukan berbagai kejahatan, pengkhianatan dan pembunuhan? Apakah semua tuduhan kepadanya itu terbukti dan benar?

Begitulah hidup Penangsang yang dalam Babad Tanah Jawi dianggap sebagai orang bersalah, sosok yang gila kekuasaan. Sedangkan Mas Karebet Hadiwijaya dianggap sebagai orang baik dan pahlawan Jawa.

Bukankah bisa jadi ini adalah kejanggalan Babad Tanah Jawi yang notabene kitab sejarah yang dibuat pada zaman Karebet. Tak menutup kemungkinan penulisan sejarah waktu itu hanya berdasarkan keinginan penguasa kala itu, Mas Karebet. Sehingga membuat baik-baik hanya ada pada dirinya, dan meninggalkan kesan tidak baik pada musuh-musuhnya termasuk Penangsang pada penulisan sejarah yang dia gagas.

Nassirun Purwokartun yang merasa ini sebuah kejanggalan sejarah. Kemudian membaca lagi berbagai literatur sejarah yang berkaitan dengan Demak Bintoro, Haryo Penangsang, Mas Karebet, Wali Songo dan mendatangi langsung tempat-tempat bersejarah yang ada. Hingga dia berkesimpulan bahwa Babad Tanah Jawi tidak bisa dijadikan satu-satunya pijakan sejarah tentang tanah Jawa, karena bisa saja bermuatan tidak sesuai kebenaran sejarah, namun hanya benar sesuai pemilik kekuasaan.

Akhirnya, Nassirun pun menulis Novel tentang Penangsang dengan penafsiran baru. Penangsang; Tarian Rembulan Luka ada buku ketiga setelah Penangsang; Tembang Rindu Dendam dan Penangsang; Kidung Takhta Asmara. Dalam Seri Tarian Rembulan Luka ini Nassirun bercerita tentang akhir Demak Bintoro yang dipindahkan ke Pajang oleh Hadiwijaya.

Setelah kematian Sultan Mukmin yang dituduhkan pada Penangsang sebagai pembunuhnya tak terselesaikan Pangeran Hadiri pun harus mati di tangan Laskar Soreng pembela Jipang (halaman 15).

Lagi-lagi setelah kejadian ini yang menjadi terpojok dan tertuduh adalah Penangsang. Karena siapa lagi yang menyuruh Laskar Soreng mencegat dan membunuh rombongan Pangeran Hadiri selain pimpinannya yang tak lain adalah Penangsang. Surat panggilan dari kesultanan pada Penangsang pun tidak disampaikan oleh Patih Matahun dengan alasan tak ingin mengganggu kebahagiaan Adipatinya yang akan memiliki anak (halaman 162).

Namun kesalahan kecil Patih Matahun menjadi besar karena Sultan Wali yang dipegang Karebet menjadi semakin sok berkuasa. Kekuasaan Demak semakin ditinggalkan oleh pemilik sah kesultanan yakni dari trah Raden Patah seperti Retno Kencono malah memilih berdiam diri di bukit Danaraja (halaman 285). Sehingga, kekuasaan mudah diambil alih oleh Hadiwijaya dan dengan pongahnya dia membuat keputusan hukuman mati untuk Penangsang karena telah beberapa panggilan kesultanan tidak digubris sama sekali.

Pada surat ini akhirnya Patih Matahun menjelaskan semuanya sekaligus merasa bersalah. Kadipaten Jipang yang semula tenang kini agak rusuh karena kabar akan datangnya Pasukan Pajang untuk membawa Penangsang. Hingga ada kabar bahwa Demak akan dipindahkan ke Pajang, hal ini yang membuat Penangsang kembali memikirkan Demak yang dulu takhta kesultanannya dia sia-siakan.

Akhirnya, diadakanlah semacam musyawarah di kediaman Sunan Kudus. Semua saudara Penangsang, Mataram, Panuntas hadir. Kecuali Panuntun yang sudah setahun sejak pernikahan Penangsang dia menghilang. Dalam musyawarah yang tak jarang ada  perdebatan sengit. Akhirnya mereka memilih mengikuti petunjuk Sunan Kudus bahwa sudah saatnya Penangsang hijrah seperti Rasulullah dulu. Hal ini bukan berarti kalah, namun untuk kebaikan bersama dan demi menyongsong kemenangan di masa depan. Ada beberapa tempat yang cocok untuk hijrah antara lain Cirebon tempat Sunan Gunung Jati dan Palembang tempat hidup beberapa saudara Penangsang.

Tempat terpilih adalah Palembang dan Penangsang akan berangkat bersama Panuntas. Sedangkan, Mataram akan tetap di Jipang sebagai pengganti Penangsang (halaman 448). Meskipun ada surat tantangan Hadiwijaya pada Penangsang, surat tantangan untuk duel satu lawan satu dengan bahasa yang kasar. Penangsang tetap melanjutkan perjalanan, namun yang tersulut marah adalah Mataram dan Patih Matahun.

Tantangan itu pun dihadiri oleh Mataram dan Patih Matahun. Mataram mencari Hadiwijaya namun tidak ada, malah dia disambut oleh pasukan Pajang. Sebenarnya inilah kelicikan Pajang, seolah-olah tantang duel namun ternyata jebakan. Untung saja Mataram bukan pasukan biasa, dia memiliki ilmu beladiri yang baik. Patih Matahun pun ikut ke tengah, dan dibunuh secara sadis dan dilihat dengan mata telanjang oleh anaknya yang berkhianat Ronggo Maruto.

Untuk menebus kesalahannya, dia memakai baju kebesaran Penangsang dan menaiki kuda Gagak Rimang. Kemudian menyerang pasukan Pajang,  melihat Penangsang datang Pasukan Pajang membiarkan Mataram dan menyerang Maruto yang memakai baju Penangsang dan akhirnya terbunuh oleh Sutawijaya (halaman 634).

Inilah penafsiran baru atas Penangsang. Sebagai penulis kisah fiksi, Nassirun melawan sejarah lama dengan membuat penafsiran atas sejarah Penangsang yang baru. Sebuah usaha yang tentu banyak memeras keringat dan waktu. Atas usahanya tersebut, novel ini layak kita apresiasi, karena tak hanya menyuguhkan hiburan namun juga sejarah kerajaan Islam di Jawa dari masa jaya menuju terpuruknya. Selamat membaca!

(48- dimuat 20 Agustus 2014 di Indoleader)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s