Perjalanan Mengalahkan Waktu

Meraih Sukses Dengan Ridho Orang Tua

cover perjalanan mengalahkan waktu
cover perjalanan mengalahkan waktu

Judul   : Perjalanan Mengalahkan Waktu

Penulis   : Fatih Zam

Penerbit  : Qanita-Mizan

Tahun Terbit  : Pertama, November 2013

Jumlah Halaman  : 404 halaman

ISBN  :  978-602-1637-09-8

Peresensi  : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan Koordinator Klub Buku Booklicious, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Tanpa orang tua tak mungkin kita ada. Tanpa orang tua tak akan begini adanya kita. Begitulah, orang tua adalah orang yang sangat berjasa bagi kita. Bahkan katanya, surga terdapat di telapak salah satu orang tua kita, yaitu ibu. Apakah itu berlebihan? Tidak, setidaknya bisa kita bayangkan bagaimana perjuangan selama sembilan bulan, hingga melahirkan, menyusui dan merawat kita anaknya.

Kiranya itulah salah satu maksud ditulisnya novel Perjalanan Mengalahkan Waktu oleh Fatih Zam. Untuk mengakui sekaligus mensyukuri adanya kelahiran kita di dunia tidak hanya kepada Sang Pencipta, tetapi juga kepada kedua manusia di dunia, Ayah dan Ibu.

Diceritakan Ardiansyah adalah anak desa yang hidup kekurangan. Selain itu sikap orang tuanya kepada dia kurang perhatian. Terutama bapaknya, yang tidak pernah memberinya waktu untuk menghabiskan masa kecil dengan bahagia. Bermain kelereng bersama teman-temannya dilarang sampai membawa golok untuk menakutinya (halaman 20).

Ketika mulai masuk sekolah, Ardi termasuk anak yang rajin dan pintar. Dia selalu menjadi peringkat tiga besar. Dengan harapan agar orang tuanya semakin sayang padanya dan mengucapkan selamat saja pun cukup. Namun, yang terjadi tidak ada ucapan selamat. Orang tuanya cuek, seperti tak ada yang istemewa di peringkat tiga besar.

Malah, peringkat tiga besar yang Ardi peroleh hanya menimbulkan masalah baginya. Dia diejek teman-temannya karena tak mendapatkan hadiah dari orang tuanya walaupun mendapatkan peringkat yang baik. Sedangkan temannya yang tidak mendapat peringkat bagus bisa mendapatkan hadiah layangan. Nah, ketika layangan temannya itu putus, Ardi mengambilnya. Lalu temannya marah, dan terjadilah pertengkaran yang mengakibatkan datangnya ibu Ardi yang kemudian memarahinya.

Menginjak SMP dan SMA pun sikap orang tua Ardi tidak berubah. Sekalipun Ardi mendapatkan nilai yang lebih baik dari nilai saat dia SD yakni peringkat pertama. Orang tua Ardi bahkan tetap tidak peduli dengan nilai Ardi dan Ardi terpaksa menandatangani sendiri tanda tangan yang seharusnya dibubuhkan oleh bapaknya.  Bahkan pernah bapaknya datang ke sekolah untuk mengambil raport, dengan pakaian sembarangan. Hal ini sangat mengecewakan Ardi.

Ketika akan meneruskan kuliah, Ardi mengalami penolakan dari orang tuanya seperti yang pernah dialami oleh kakaknya. Walau kakaknya menjadi seperti orang gila karena stress tidak bisa meneruskan pendidikan, bapaknya masih bersikeras melakukan penolakan kepada kemauan Ardi, bahkan lebih parah.

Tersebab itulah Ardi meninggalkan rumah dan pergi ke Bandung. Di Bandung dia bertemu dengan Pak Tua penjual koran yang menampung Ardi sementara di rumahnya. Selama bersama Pak Tua Ardi mendapatkan banyak inspirasi dan motivasi. Salah satunya pertemuannya dengan Pahat.

Pahat adalah pemuda miskin, ayahnya pengangguran namun suka marah-marah sedangkan ibunya adalah pembantu rumah tangga. Pahat   datang ke Bandung ingin hidup lebih baik. Untuk menyambung hidup awalnya dia pernah mengamen, menyemir, menjual kantong keresek, bahkan mencopet. Hasil dari kerja kerasnya itu dia bisa menyelesaikan SMP dan melanjutkan SMA tanpa sepengetahuan orangtuanya. Dia banyak mendapat motivasi dari mahasiswa-mahasiswa yang menjadi relawan di rumah singgah yang biasa dia datangi sepekan sekali (halaman 181). Hingga akhirnya dia bisa meneruskan kuliah dan sebagai bentuk syukurnya dia pun membuat rumah sebagai tempat tinggal sekaligus sekolah bagi anak jalanan.

Selain itu Ardi juga bertemu dengan Leo. Lelaki kekar, klimis dan ganteng. Setelah pindah dari rumah Pak Tua. Leo memberinya tumpangan. Bahkan memberinya pekerjaan sebagai fasilitator sebuah EO Out Bond yang dibuat oleh Leo. Namun yang tidak Ardi ketahui ternyata Leo dulunya adalah seorang gay, dan saat itu lagi berusaha berubah untuk menjadi normal lagi. Dia juga bertemu Larasati yang tetap tegar bahkan mendapatkan beasiswa ke luar negeri walau penuh masalah dalam hidupnya, yakni tidak pernah bertemu ayahnya. Titik balik kesuksesan ketiga orang yang Ardi temui adalah orang tua mereka.

Seperti novel-novel sebelumnya, baik Khadijah maupun Jawara Fatih Zam masih tetap memikat dengan kekayaan diksinya. Pun soal puisi yang mengawali setiap bab dia tetap pertahankan. Bahkan dalam novel ini ada soundtrack yang semakin memberi efek lebih selain kover yang unik dan fresh.

Ada beberapa yang bisa pembaca dapatkan dalam novel ini. Pertama, orang tua menjadi kata kunci bagi keberhasilan tiga orang yang pernah Ardi temui tersebut. Kedua, kepedulian kepada mereka yang tidak beruntung juga mendahului memahami keadaan orang lain bukan langsung menjudge. Apakah Ardi akan mendapatkan apa yang dia inginkan dari kepergiannya termasuk beasiswa kuliah? Apakah dia akan kembali ke rumah orang tuanya? Selamat membaca novel yang sangat saya rekomendasikan ini!🙂

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

(49- dimuat di Koran Pendidikan)

2 thoughts on “Perjalanan Mengalahkan Waktu

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s