Kami Tidak Lupa Indonesia

Kisah PRT di Malaysia

cover kami tidak lupa indonesia
cover kami tidak lupa indonesia

Judul                            : Kami Tidak Lupa Indonesia

Penulis                          : Kompasiana

Editor                          : Ryan Sugiarto

Penerbit                       : Penerbit Bentang Pustaka, Yogyakarta

Tahun Terbit                : Pertama, Maret 2014

Jumlah Halaman          : 242 halaman

ISBN                           :  978-602-291-004-6

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Pecinta Buku Booklicious.

2,5 juta warga Indonesia bermukim di Malaysia. Mayoritas dari mereka adalah para pekerja, mencari kehidupan lebih baik di negeri seberang. Beberapa lagi adalah para pelajar (mahasiswa). Mereka semua adalah perantau atau dalam bahasa sekarang disebut diaspora. Diaspora Indonesia.

Banyak cerita tentang diaspora Indonesia, khususnya mereka yang menjadi pekerja. Baik pekerja di sebuah perusahaan ataupun pembantu rumah tangga (PRT). Terutama, kisah tentang PRT ini seringkali tersiar di surat kabar ataupun televisi. Tak lain berita mereka yang mengalami masalah atau membuat masalah di tempatnya bekerja.

Namun, tentu saja tidak semua kisah mereka adalah penuh dengan masalah. Contohnya saja Anazkia. Di Malaysia menjadi PRT. Namun, dia tetap bisa berkarya melalui tulisan. Anazkia adalah seorang blogger, hampir di semua blog dia membuat akun. Namun, dia cukup aktif di Kompasiana, yang menjadi pilihannya karena lebih luas jangkauannya.

Di Kompasiana di menulis tentang kehidupan kerjanya di Malaysia, meskipun menurut pengakuannya juga ada tulisan yang tidak jelas. Di antara tulisannya di Kompasiana inilah yang kemudian dimuat dengan tulisan penulis lain di sebuah buku yang berjudul, Kami Tidak Lupa Indonesia.

Anazkia mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi PRT di Malaysia. Menjadi pembantu saja dia tidak mau. Namun, karena keadaan yang mendesak. Kebutuhan hidup harus dipenuhi, akhirnya dia pun bertekad untuk bekerja di Malaysia. Dia tetap bersikukuh untuk bekerja di Malaysia, meskipun ibunya sudah melarang. Lantaran khawatir Anazkia akan mengalami hal menyakitkan seperti TKI di Malaysia seperti yang ada di berita-berita.

Tak dinyana, ternyata Anazkia malah mendapatkan majikan yang baik. Anazkia boleh membawa hp. Meski di awal-awal dia tidak boleh keluar rumah. Akhirnya dia pun boleh ke luar rumah, meski cukup sering ditelpon oleh majikan ketika dia berada di luar rumah.

Anazkia juga boleh internetan, bahkan anak majikan mengenalkan internet lebih luas kepadanya. Dengan kebaikan-kebaikan yang tak terduga dilakukan oleh majikannya. Akhirnya, phobia Malaysia yang dia alami perlahan hilang. Dia merasa dapat hidup nyaman di Malaysia, tanpa dihantui kehidupan berat yang dialami beberapa TKI lainnya yang kurang beruntung.

Dalam tulisanna pula, Anazkia bercerita tentang hitam putih tentang tenaga kerja di Malaysia. TKI di Malaysia memang memiliki ragam cerita, jika Anazkia memiliki hidup di Malaysia yang bisa dianggap sebagai putih. Maka, ada yang merasakan hidupnya di Malaysia dengan warna hitam. Seperti kisah penembakan 3 orang warga Indonesia. Ketika ditanya lewat facebook atau dimention di twitter, Anazkia lebih memilih mengatakan “No comment.” Hal ini karena Anazkia tidak tahu menahu apa yang terjadi dalam kasus yang ada. Jadi, ketimbang sok tahu dia lebih baik mengatakan begitu.

Kisah hitam lain ada yang sukanya berfoya-foya sampai lupa waktu kerja, ini kesalahan pribadi TKI. Ada pula kesalahan majikan seperti tidak membayar gaji pekerja, PRT disiksa dan puncaknya dibunuh. Mengerikan memang. Tetapi, sekali lagi ini tidak terjadi pada semua TKI. Ya, ada TKI yang mendapatkan kisah putih, sebaliknya juga ada TKI yang merasakan hitamnya hidup di Malaysia.

Beberapa pekerjaan TKI di Malaysia adalah, sektor perkilangan (pabrik), pertanian, bangunan, PRT, juga sektor perkhidmatan selain ekspatriat tentunya. Ada banyak organisasi TKI di Malaysia, seperti FOKMA (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia) yang anggotanya adalah para akhwat yang mayoritas pekerja kilang, KONSLET (Komunikasi Solidaritas Antarteman) adalah paguyuban yang anggotanya dari berbagai pekerjaan seperti pekerja bangunan, kilang, maupun PRT baik pria maupun wanita. Meski Anazkia tidak aktif di organisasi Indonesia yang ada di Malaysia, namun dia biasa memantau kegiatan-kegiatan mereka lewat dunia maya. Jika ada kesempatan dia akan datang ke kegiatan organisasi TKI Indonesia di Malaysia.

TKI Malaysia mungkin tidak seperti TKI di tempat lain seperti di Taiwan, Hongkong, juga Singapura yang banyak orang mengatakan cukup maju. Bahkan di Hongkong, para TKI atau di sana disebut Buruh Migran Indonesia (BMI) di sana banyak yang menjadi penulis. Tetapi tidak tepat pula mengatakan TKI di Malaysia terbelakang. Padahal tidak, seperti Anazkia bahkan dia bisa aktif blogger. Bahkan banyak pekerja-pekerja kilang yang telah memiliki laptop juga tersambung dengan internet. Mereka juga online dari ponsel.

Kiranya begitulah kisah yang diceritakan oleh Anazkia dalam buku 242 halaman ini. Buku ini tidak hanya memuat kisah diaspora Indonesia di Malaysia tetapi juga di Amerika, Jerman, Turki dan lainnya. Buku yang menggugah pembacanya, untuk semakin cinta pada tanah air yang dipijaki kakinya. Selamat membaca!

(54- dimuat di Wasathon 18 September 2014)

4 thoughts on “Kami Tidak Lupa Indonesia

    • Muhammad Rasyid Ridho 23 September 2014 / 02:10

      Hehe mas Benny, ada karya buku baru mas?🙂

      Btw saya bertemu mas Benny lho pas Silaturrahim Mizan di JKT. Tapi mau nyapa ragu2 hehe

      Siap mas, mampir ke blog, blogger keren🙂

      Suka

  1. Akhmad Muhaimin Azzet 23 September 2014 / 02:26

    Saya selalu suka bila membaca buku yang di dalamnya banyak bercerita tentang sebuah pengalaman. Dari membaca resensinya ini, saya langsung jatuh cinta ingin membaca buku ini secara langsung. Makasih banyak ya, Mas.

    Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s