Kick Andy Heroes (Para Pahlawan Penembus Batas)

Inspirasi Dari Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah

cover Kick Andy Heroes
cover Kick Andy Heroes

Judul                            : Kick Andy Heroes (Para Pahlawan Penembus Batas)

Penulis                          : Wisnu Prasetya Utomo dan Tim Kick Andy

Editor                          : Ikhdah Henny & Qha

Penerbit                       : Bentang Pustaka

Tahun Terbit                : Pertama, Februari 2014

Jumlah Halaman          : 174 halaman

ISBN                           :  978-602-291-010-7

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Buku Booklicious, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jember.

“Jangan sekalipun kita menganggap bahwa dia yang tidak lulus adalah siswa yang bodoh. Nilai yang ada pada pelajaran bukan sebatas nilai UN. Perlu kita renungkan sekali lagi, UN telah membuat banyak siswa merasa tertekan, depresi, bahkan banyak yang gila karenanya. Tidakkah kita khawatir jikalau UN malah akan memengaruhi kecemasan psikologis anak?

Betapa sedihnya kami melihat beberapa siswa yang menangis histeris lantaran tidak lulus.  Bahkan, ada yang sampai terkulai pingsan di pangkuan temannya. Seperti ada rasa tersisih yang menyeruak di hati mereka. Kami mencoba untuk bersikap wajar dan menetralkan kesedihan kami. Benarkah semua itu sesuatu yang wajar?” (halaman 77)

Dua paragraf di atas adalah penggalan kalimat yang ditulis oleh anak setingkat SMP. Sangat kritis bukan? Mungkin Anda tidak percaya, tetapi ini betul-betul nyata.    Tulisan ini ditulis sebagai kewajiban mereka karena memaksa untuk mengikuti UAN pada tahun 2006.

Ceritanya, ada tiga siswi SMP alternatif Qaryah Thayyibah yang ingin mengikuti UAN. Awalnya, teman-teman setingkatnya menganggapm mereka berkhianat. Namun, pada akhirnya teman-teman menghapus label itu asalkan tiga orang tersebut melakukan penelitian partisipatif. Mereka mengikuti UAN sekaligus menulis dan memberi evaluasi tentang UAN yang mereka ikuti. Dan itulah penggalan kalimat dari penelitian mereka.

Tidak hanya itu tulisan mereka itu dalam versi pendek  dimuat di halaman opini Kompas, setelah sebulan mengikuti UAN. Tepatnya, 3 Juli 2006. Bahkan setahun kemudian dari ketiga anak berusia 15 tahunan itu terbit buku 82 halaman yang berjudul, Lebih Asyik Tanpa UAN. Sangat mengherankan bukan?

Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah digagas oleh Bahruddin. Kebetulan anak pertamanya, Hilmy pada Juli 2003 sudah lulus sekolah dasar. Karena Hilmy anak yang pandai dalam akademis. Akhirnya,  SMP 9 menjadi sekolah lanjutan anaknya. Sekolah terbaik kedua di Kota Salatiga.

Sebagai ketua RW, Bahruddin mengundang sekitar 30 warga yang memiliki kesamaan nasib, yakni yang memiliki anak baru lulus SD dan ada rencana untuk melanjutkan sekolah. Banyak obrolan pada waktu itu, mulai sekolah yang jauh di kota, pembiayaan yang mahal dan sebagainya. Hingga pada akhirnya, Bahruddin mengusulkan untuk membuat sekolah sendiri. Sekolah yang dibuat oleh warga, dan biaya juga terserah warga yang menentukan.

Awalnya banyak yang pesimis dengan akan didirikannya sekolah ini. Namun, Bahruddin dengan beberapa orang yang setuju, membuktikan bahwa mereka bisa membuat sekolah sendiri yang dekat, murah dan mudah diakes oleh warga-warga miskin di desanya. Qaryah Thayyibah secara harfiah berarti desa yang indah, baik, berdaya dan mandiri. Nama ini diambil dari nama Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah yang berdiri terlebih dahulu.

Sekolah alternatif ini adalah sekolah terbuka yang berada di bawah pengawasan SMP 10 Salatiga. Meski terbuka, lulusannya masih bisa diakui dengan mengikuti paker B atau C. Dananya didapat dari APBD Kota Salatiga, Sumbangan donatur dan konstribusi dari warga serta orangtua siswa.

Namun seringkali ada benturan dari sekolah induk, dari masalah beda kurikulum hingga jawaban yang beda dari kunci jawaban ujian disalahkan. Akhirnya, Bahruddin memutuskan untuk lepas dari sekolah induk, dan juga tidak memakai lagi sistem sekolah terbuka.

Bahruddin mempertahankan nama Sekolah Alternatif, karena memang kurikulum di dalamnya beda dengan sekolah pada umumnya. Sekolah Alternatif yang didirikan Bahruddin bertujuan membebaskan siswa-siswi untuk belajar apa yang dimaui dan diminati. Misal, berminat pada sastra maka akan didukung, berminat pada taekwondo maka akan didukung pula.

Meski dalam keterbatasan, Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah tidak berhenti berprestasi. Siswa-siswanya produktif dalam menghasilkan karya. Bahkan karena selalu berprestasi Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah yang membawahkan program-program pendidikan nonformal di Indonesia sangat mengapresiasi Sekolah Alternatif yang Bahruddin dirikan tersebut.

Buku ini juga berkisah tentang kehebatan 6 orang lainnya yang masih tetap berjuang meski dalam keterbatasan. Kisah ini juga mengingatkan pada buku lain yang bertema sama yang berjudul Guru Para Pemimpi karya Hadi Surya. Bedanya, karya Hadi Surya adalah novel, berdasarkan kisah nyata. Buku ini sangat dicocok dibaca oleh siapa saja. Khususnya, mereka yang belum bisa move on dari masalah yang membuat galau. Bisa jadi masalah kita lebih kecil dari masalah dari 7 orang inspiratif dalam buku ini, tapi terlalu dibesar-besarkan. Semoga buku ini membangkitkan semangat hidup kita semua. Selamat membaca!

10-20-10-2014_001

(59- Dimuat di Kabar Probolinggo 20 Oktober 2014)

One thought on “Kick Andy Heroes (Para Pahlawan Penembus Batas)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s