Buku Pintar Sejarah Islam

Napak Tilas Sejarah Islam

dok pribadi
dok pribadi

Judul                            : Buku Pintar Sejarah Islam

Penulis                          : Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh

Penerjemah                   : Zainal Arifin

Editor                          : M. Husnil

Penerbit                       : Penerbit Zaman, Jakarta

Tahun Terbit                : Pertama, 2014

Jumlah Halaman          : 1218 halaman

ISBN                           :  978-602-17919-5-0

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Pecinta Buku Booklicious-Malang.

Satu buku sejarah dalam lembarannya (isi) seringkali berbeda dengan lembaran buku sejarah lainnya yang satu tema. Sejarah apapun itu. Karena sejarah bisa menjadi alat propaganda, alat yang akan membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar misalnya.

Begitupun dalam buku-buku sejarah Islam. Beberapa buku sejarah Islam memang sesuai dengan aslinya dan ada yang sengaja dijauhkan dari kebenarannya dengan berbagai alasan. Seperti beberapa buku sejarah yang ditulis oleh beberapa penulis orientalis yang melenceng, kendatipun banyak yang menyukai karya mereka lantaran dianggap lebih ahli dalam meneliti.

Kini telah hadir Buku Pintar Sejarah Islam yang ditulis oleh Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh dengan judul asli, Al-Mawsu’ah al-Muyassarah fii al-Tarikh al-Islami. Buku ini dalam bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Penerbit Zaman.

Buku Pintar Sejarah Islam ditulis dengan runtut sejak awal mula Nabi lahir hingga menjadi Nabi dan kiprahnya dalam dakwa Islam hingga hari wafatnya. Walaupun ditulis dengan singkat namun, hal itu sudah mencukupi untuk menambah wawasan pembaca tentang kenabian Muhammad Saw, dari kesedihan, kesenangan hingga peperangan yang ada di di zamannya (halaman 19-94).

Penulis buku menulis dengan adil, yakni tidak menyalahkan sahabat Nabi yang kadang dalam buku sejarah Islam lain dianggap bersalah. Seperti kisah Mu’awiyah yang meminta kepada Ali agar kematian Utsman tidak ditangguhkan pencarian pembunuhnya. Sehingga Mu’awiyah tidak mengakui pembaiatan Ali sebagai khalifah, itu bukan karena dia ingin menjadi penguasa setelah Ustman. Akan tetapi murni karena ingin saudaranya (utsman), mendapatkan haknya. Menurut penulis, kekeliruan Mu’awiyah memang dalam ketidakmauannya membaiat Ali. Karena Ali bukan mengulur waktu dalam mengusut pembunuh Utsman tetapi ada masalah lain yang lebih besar. Yaitu, kaum pemberontak yang masih menguasai Madinah yang harus segera dituntaskan.

Dalam banyak buku sejarah lain ada banyak penulisan tentang kisah tahkim yang terjadi saat perang shiffin. Pada saat itu Mu’wiyah hampir kalah, lalu ‘Amr bin ‘Ash meminta tahkim. Atas permintaan para sahabat Ali pun pun menerima tahkim tersebut.

Dalam beberapa buku dan riwayat banyak menyatakan ‘Amr bin ‘Ash membohongi Abu Musa al-Asy’ari. ‘Amr membuat Abu Musa mau mengumumkan keputusan penurunan Ali. Setelah pengumuman itu maka ‘Amr menyetujui pengumuman Abu Musa dan mengangkat Mu’awiyah menjadi khalifah. Menurut penulis buku ini, riwayat tersebut tak lebih dari sekedar riwayat dusta. Karena sanad-sanadnya lemah dan tak bisa dipertanggungjawabkan. Begitu juga dengan riwayat-riwayat serupa (halaman 228).

Dalam hal ini penulis buku ini menyandarkan kepada apa yang dikatakan al-Qurthubi. “Tidak pantas menisbahkan kesalahan kepada salah seorang sahabat secara pasti. Sebab, mereka semua mengijtihadkan tindakan yang mereka lakukan dan sepenuhnya mengharap ridho Allah. Bagi kita, semua sahabat adalah panutan. Kita hendaknya tak mempersoalkan perselisihan di antara mereka. Kalaupun menyebutnya, kita hendaknya menyebut dengan cara sebaik-baiknya. Ini karena penghormatan kita atas kedudukan mulia mereka yang menemani Nabi, juga karena Nabi melarang kita mencela mereka. Allah telah mengampuni mereka dan juga mengabarkan bahwa Dia meridhoi mereka. (halaman 233)”

Hadits Nabi yang melarang mencaci atau mencela sahabat adalah berikut. “Janganlah kalian mencela para Sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud tidak akan menyamai satu mud infaq salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)”

Penulis juga menulis tentang Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah yang memiliki banyak sumbangan terhadap dakwah Islam. Di masa dinasti Umayyah ada seorang zuhud dan ahli fikih yang menjadi khilafah. Dia masih keturunan Umar bin Khattab dari anaknya yang bernama ‘Ashim. ‘Ashim memiliki anak perempuan, dan perempuan itulah ibu sang khalifah yang banyak dibilang sebagai khalifah ar-Rasyidah kelima, Umar bin Abdul Aziz (halaman 274).

Pada masa bani Abbasiyah pun dibuat sebuah perpustakaan terlengkap saat itu yang bernama, Baiyt al-Hikmah. Secara keseluruhan buku ini mencatat sejarah Islam hingga masuknya Islam pada bangsa Mongol, dinasti Turki Utsmani, di Asia Tenggara yang ada Indonesia di dalamnya, hingga Afrika. Penulis juga melampirkan warisan peradaban Islam pada dunia di akhir buku. Akhirnya, buku ini akan mengajak pembaca menapak tilasi sejarah kegemilangan Islam dan menghidupkan kembali semangat kebangkitan Islam di masa depan. Buku yang tak hanya menarik namun juga menggerakkan. Selamat membaca!

(66- dimuat di Kabar Probolinggo 13 Oktober 2014)

Resensi lain atas buku ini

https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2014/10/12/buku-pintar-sejarah-islam/

cover buku pintar sejarah Islam
cover buku pintar sejarah Islam

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s