Buku Saku Rahasia Keberkahan

Hidup Berkah Dengan Ilmu

cover buku
cover buku

Judul                            : Buku Saku Rahasia Keberkahan

Penulis                          : Taufiq Ali Zabady

Penerjemah                   : Jemi Handoko

Editor                          : Dedi Slamet Riyadi

Penerbit                       : Penerbit Zaman, Jakarta

Tahun Terbit                : Pertama, 2014

Jumlah Halaman          : 297 halaman

ISBN                           :  978-602-1687-07-9

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Pecinta Buku Booklicious-Malang.

Dalam Islam, ilmu adalah sesuatu yang berharga. Pemilik ilmu tidak hanya dianggap tinggi derajat di mata manusia, pun Allah meninggikan derajat para ulama. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Mujadilah ayat 11, “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Maka derajat tinggi yang dimiliki oleh pemilik ilmu (‘alim) adalah berkah dari ilmu yang dimilikinya. Namun, perlu disadari bahwa tidak semua orang berilmu yang ditinggikan derajatnya atau tidak mendapatkan keberkahan. Keberkahan ilmu seseorang hanya akan didapatkan dan dirasakan oleh orang lain jika disertai dengan amal perbuatan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Allah SWT menyuruh dua hal kepada Rasul, yaitu berilmu kemudian mengamalkan. Hal ini menunjukkan tingkatan ilmu didahulukan sebelum amal. Selain itu, ilmu juga syarat sah ucapan dan perbuatan atau amal sehingga ucapan dan perbuatan tidak dipandang atau tidak akan berdampak jika tidak disertai ilmu. Dengan kata lain, berilmu mesti didahulukan ketimbang berbicara dan beramal. Sebab, ilmu mengesahkan niat, dan niat adalah tindakan hati yang meluruskan niat (Dalam Fathul Bari, kitab berilmu sebelum berama).

Tentang hal ini Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Wahai para pengemban ilmu, amalkanlah ilmu kalian. Sebab, orang yang disebut alim adalah orang yang mengetahui ilmu lalu mengamalkannya, dan ilmunya sejalan dengan amalnya. Kelak akan muncul sekelompok kaum yang memikul ilmu ini, tetapi ilmu itu tidak mampu melebihi kerongkongan mereka. Batin mereka berlawanan dengan lahir mereka. Amal dan tindakan mereka bertolak belakang dengan ilmu yang mereka ketahui. Mereka duduk dalam majelis ilmu untuk saling berdebat satu sama lain sehingga ada yang marah kepada rekannya, lalu beralih mendukung orang lain dan meninggalkan rekannya. Amalan mereka dalam majelis tersebut tidak bisa naik kepada Allah ta’ala (diriwayatkan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayan al’Ilmu wa Fadhlihi).

Tak pelak, perkataan sahabat Ali tersebut harus diingat selalu oleh penuntut ilmu. Itulah kenapa, menuntut ilmu yang berkah tidaklah mudah. Bisa jadi kita mudah dalam menguasai sebuah ilmu, namun belum tentu ilmu yang kita kuasai tersebut berkah. Taufiq Ali Zabady dalam bukunya Buku Saku Rahasia Keberkahan menuturkan, ada lima upaya dan faktor yang mesti ditempuh dan diperhatikan oleh penuntut ilmu agar mendapatkan ilmu yang berkah.

Pertama, seorang hamba memohon kepada Allah agar dikaruniai ilmu yang bermanfaat. Selain itu ia senantiasa meminta pertolongan Allah dan menampakkah bahwa ia fakir dan butuh kepada-Nya. Allah telah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk memohon agar selalu dianugerahi tambahan ilmu (Surat Thaha ayat 114).

Kedua, untuk mendapatkan ilmu yang berkah, seseorang harus bersungguhs-sungguh menuntut ilmu, selalu merindukan ilmu, dan menjaga niat yang benar dalam menuntut ilmu, yaitu semata-mata menginginkan ridho Allah Swt. Di samping itu ia juga harus mengerahkan segala upaya untuk mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah. (halaman 59)

Ketiga, menjauhi segala kemaksiatan dan menjaga sikap takwa kepada Allah Swt. Sebab, ketakwaan termasuk faktor paling mendasar untuk memperoleh ilmu, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 282, “Dan Bertakwalah kalian kepada Allah, niscaya Allah akan mengajari kalian. Dan Allah mengetahui segala sesuatu.” Dalam surat Al-Anfal ayat 29, Wahai orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, Dia akan menjadi kalian pembeda antara hak dan yang batil. (halaman 60)

Keempat, jangan bersikap sombong dan jangan malu untuk terus menuntut ilmu. Karena itulah Aisyah r.a. berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Karena mereka tidak pernah dihalangi rasa malu untuk mendalami agama.” (halaman 62)

Terakhir, inilah faktor yang paling berpengaruh dan mendasar dalam upaya menuntut ilmu yang berkah. Yaitu, keikhlasan dalam menuntut ilmu. Rasulullah bersabda, “Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari Ridho Allah, tetapi ia hanya ingin meraihn tujuan dunia. Maka ia tidak akan mencium bau surga kelak di hari kiamat (diriwayatkan Abu Daud dalam sunan-nya, kitab ilmu, bab menuntut ilmu karena Allah).

Maka tak ayal buku 297 halaman ini adalah buku yang patut direkomendasikan untuk dibaca, khususnya oleh pelajar, mahasiswa dan penuntut ilmu tanpa tingkatan formal. Semoga para penuntut ilmu mampu menjadi cahaya bintang yang lebih terang dari ahli ibadah, karena kemanfaatannya yang  menjangkau banyak manusia. Selamat membaca!

Resensi lain atas buku ini https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2014/11/04/buku-saku-rahasia-keberkahan/

(68- 9-11-2014)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s