Doa Ajaran Ilahi: Kumpulan Doa Dalam Al-Qur’an beserta Tafsirnya

Kekuatan Doa Bagi Kehidupan Manusia

cover doa ajaran ilahi
cover doa ajaran ilahi

Judul                            : Doa Ajaran Ilahi: Kumpulan Doa Dalam Al-Qur’an beserta Tafsirnya

Penulis                          : Anis Masykur dan Jejen Musfah

Editor                          : Zainal Abidin H

Penerbit                       : Penerbit Noura Books, Jakarta

Tahun Terbit                : Pertama, Juni 2013

Jumlah Halaman          : 196 halaman

ISBN                           :  978-602-7816-93-0

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Pecinta Buku Booklicious.

“Berdoalah kepadaKu, niscaya aku kabulkan doamu itu.” (QS. Al-Mu’min ayat 60)

Manusia hidup tidak selalu datar-datar saja, tentu ada problema yang akan menguji manusia. Dalam hal ini, manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh  Khalik (Sang Pencipta). Telah ada fasilitas dari Sang Khalik untuk manusia, jika ingin meminta-minta kepada-Nya. Baik meminta pertolongan, kemudahan, kekuatan, kekayaan dan lain sebagainya. Yakni, dengan berdoa.

Dewasa ini berdoa dianggap hanya bagi orang yang membutuhkan Tuhan saja. Manusia yang merasa bisa hidup tanpa Tuhan, tidak mau berdoa karena menganggap hal itu membuat dia terasa lemah.  Padahal doa merupakan sarana penting bagi manusia sebagai makhluk. Karena, naluri (fitrah) manusia selalu butuh akan kekuatan yang Maha Tinggi dan Maha Kuat. Doa juga merupakan pengakuan akan kelemahan manusia sebagai makhluk di hadapan Khaliknya (halaman v). Sehingga, berdoa sudah seharusnya dilakukan oleh makhluk.

Doa berasal dari bahasa Arab du’a. Dalam Al-Qur’an banyak sekali disebut lafaz du’a ini. Artinya berbeda-beda antara lafaz satu dengan yang lainnya. Antara lain: al-‘ibadah, yakni ibadahnya makhluk untuk Khalik (‘ibadat al-makhluq li al-khaliq), al-isti’anah atau al-istighatsah, yaitu memohon pertolongan atau bantuan kepada Zat yang Maha Kuasa. An-Nida’: memanggil, yakni panggilan hamba terhadap Allah yang Maha Mendengar. As-Su’al, yakni permintaan atau permohonan dari makhluk yang rendah kepada Khalik yang Maha Tinggi. Ada juga yang mengartikan tahmid (memuji), dan masih banyak lagi lafadz ad-du’a pada ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an, yang juga mempunyai makna yang berbeda-beda (halaman 2)

Sedangkan Ath-Thibiy mengatakan, secara terminologi doa ialah menampakkan kehinaan dan kerendahan diri dalam keadaan tiada berdaya dan tiada berkekuatan kemudian menyatakan hajat, keperluan, dan ketundukan kepada Allah. Dengan demikian dapat dikatakan berdoa adalah menyatakan apa yang diinginkan kepada Allah, untuk mendapatkan kemanfaatan atau menolak kemudaratan.

Dalam buku Doa Ajaran Ilahi karya Anis Masykur dan Jejen Musfah, sebagaimana dikatakan penulisnya, “Berdoa adalah suatu ibadah, penyerahan  sesuatu kepada Allah Swt. untuk penyelesaian suatu problem.”

Dalam Surat Al-Fathir ayat 15 Allah berfirman, “Wahai umat manusia, kalian semua adalah faqir (membutuhkan Allah), sedangkan Allah itu, Dia Maha Kaya-tidak membutuhkan sesuatu-lagi Maha Terpuji.” Hal ini berarti eksistensi manusia adalah faqir-tidak memiliki apa-apa. Dan merasa faqir menjadikan berdoa semakn khusyuk, apalagi memahami dan merenungkan apa yang didoakan. Karena berdoa tanpa memahami arti dan maksud dari apa yang dibacanya sama saja tidak berdoa (halaman 3).

Karena berdoa adalah permintaan faqir kepada Yang Maha Kaya. Maka, ada adab-adab dalam melakukannya. Menurut Al-Ghazaliy dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din ada enam adab berdoa.

Pertama, pada waktu dan tempat yang baik dan mulia, seperti pada hari ‘Arafah, bulan Ramadhan, hari Jum’at, dan sepertiga akhir malam dan pada waktu sahur. Kedua, membaca doa dengan penuh harap agar dikabulkan (raja’) dan khawatir (khauf) jika tidak diperkenankan. Dalam hal ini, dianjurkan juga agar merendahkan suaranya dan penuh dengan kekhusyukan, serta merasakan keagungan dan kebesaran Allah Swt.

Ketiga, doa tersebut dibaca secara berulang-ulang dua atau tiga kali, untuk menunjukkan bahwa itu sangat dibutuhkannya. Selain dengan pengulangan tersebut, dianjurkan juga mengangkat kedua belah telapak tangannya di akhir doa. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, yang diriwayatkan ‘Umar bin Khattab r.a.: “Jika seseorang mengulurkan (mengangkat) tangannya saat berdoa maka doanya tidak akan dikabulkan hingga ia mengusapkan tangan ke mukanya.” (HR At-Tirmidzi)

Keempat, mengawali dan mengakhiri doa dengan pujian kepada Allah, dan shalawat kepada Nabi. Kelima, bertobat diri sebelum berdoa dan menghadapkan diri kepada Allah. Keenam, susunan doa biasa dan sederhana, sopan dan tepar mengenai sesuatu yang dipintanya dan tidak bertele-tele. Akan lebih baik menggunakan doa yang digunakan oleh Rasulullah Saw atau mempergunakan doa-doa yang ada dalam Al-Qur’an. Sebagaimana doa-doa dalam Al-Qur’an adalah doa para Nabi dan Rasul.

Adab terakhir inilah yang mungkin menjadi tujuan dibuatnya buku ini oleh penulis. Kumpulan doa-doa yang memang ada dalam Al-Qur’an. Karena, Insya Allah doa-doa yang pernah dibaca para Nabi dan Rasul lebih mustajab. Tidak hanya itu, doa-doa di dalam buku ini disertai dengan penjelasan singkat dan padat, yang di dalamnya terdapat sebab turun, faedah, keutamaan, tafsir dan siapa yang memakai doa tersebut.

Jelas sudah buku yang khas ini, cocok menjadi panduan setiap muslim untuk berdoa. Berdoa yang sesuai adab, bahasa yang tidak bertele-tele, dan berdoa seperti yang dibaca oleh Nabi dan Rasul seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an.  Semoga doa kita semakin khusyuk dan dikabulkan oleh-Nya. Aamiin..

(69- 9-11-2014)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s