Allah, Cukuplah Engkau Sebagai Penolong

Kiat Bangkit Dari Kegagalan dan Masalah Hidup

cover Allah, Cukuplah Engkau Sebagai Penolong
cover Allah, Cukuplah Engkau Sebagai Penolong

Judul                            : Allah, Cukuplah Engkau Sebagai Penolong

Penulis                          : Ahmada Rifa’i Rif’an

Editor                          : Abu Mumtaza

Penerbit                        : Penerbit Mizania-Mizan

Tahun Terbit                   : Pertama, September  2014

Jumlah Halaman                 : 156 halaman

ISBN                           :  978-602-1337-22-6

Peresensi                      : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Pendiri Klub Buku Booklicious.

“Kalau engkau ingin tahu manusia yang terbebas dari masalah dunia, ikutilah aku. Akan kuajak kau ke pemakaman.” Kutipan ini adalah kata bijak, yang kata anak zaman sekarang “jleb banget.” Ya, tidak  ada hidup yang biasa saja, datar, tidak ada masalah, tidak ada ujian. Jika ingin hidup seperti itu, maka mati saja.

Masalah dan ujian akan datang silih berganti. Selesai ujian satu, datang lagi masalah berikutnya. Maka dengan hadirnya masalah, jangan terlalu didramatisir, seolah-olah masalah kita paling besar dan berat. Padahal, jika mau mengakui dan membuka mata, masih banyak di luar sana yang masalahnya jauh lebih berat, lebih besar dan lebih banyak dari apa yang kita rasakan.

Tersebab itulah penulis muda nan produktif Ahmad Rifa’i Rif’an menulis buku kecil yang diharapkan bisa mencerahkan berjudul, Allah, Cukuplah Engkau Sebagai Penolong. Buku ini menghimpun kiat-kiat yang ampuh agar bisa bangkit dari kegagalan dan masalah hidup. Rifa’i dalam tulisan pertamanya yang berjudul Life Is Never Flat mengatakan bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Ketika jatuh karena ujian dan masalah, ketika jatuh dalam meraih impian. Jangan putus asa, jangan menyerah, masih ada harapan.

Rifa’i memberi tips ketika jatuh yang harus dilakukan agar hidup menjadi lebih hebat dari sebelumnya. Pertama, get up (bangkit), kedua, move on (lanjut) dan move up (naik kelas) (halaman 14). Dari sekian banyak manusia di bumi, banyak yang menyerah dan berhenti ketika mengalami kegagalan. Sedangkan mereka yang terus melanjutkan hidup dan pantang menyerah, hanya sedikit saja, dan Rifa’i berharap salah satunya adalah kita.

Selain itu ketika mengalami masalah hidup, mencari kambing hitam itu mudah sekali. Namun, seharusnya adalah mencari dan mengambil sisi positifnya. Karena, tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa hikmah, semua ada hikmahnya. Tinggal dicari dan merenunginya. Dalam bahasa Rifa’i, “Tidak mungkin Tuhan menciptakan suatu peristiwa yang tidak tersimpan mutiara berharga di dalamnya.” (halaman 20)

Percaya bahwa selalu ada harapan di setiap datangnya masalah, adalah solusi. Kata Rifa’i, “Cara terbaik untuk mengubah nasib adalah dengan cara mengubah sikap (halaman 24).” Termasuk sikap kepada Allah, yakin kepada-Nya bahwa dia adalah pencipta manusia, pencipta masalah sekaligus juga pencipta jalan keluarnya. Maka, tak ada tempat selain kepada Allah, kita meminta tolong. Seperti apa yang selalu kita doakan setiap shalat dalam surat Al-Fatihah, “Hanya kepada Engkaulah Wahai Allah, kami menyembah dan meminta pertolongan.” Setidaknya minimal ayat ini dibaca 17 kali sehari, namun jarang teresapi dan diaplikasikan dalam menjalani hidup.

Maka, seharusnya bacaan shalat bisa dimaknai dalam kehidupan, sehingga kita tak perlu ragu dan merasa putus asa, karena masih ada Allah yang selalu bersama kita. Selama kita yakin, selama kita mau berdoa, insya Allah akan dikabulkan. Cara agar dikabulkan doa, adalah dengan taat kepada-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jika melanggar aturan Allah maka masalah tidak akan selesai bahkan akan bertambah. Sedangkan, jika kita taat dan senantiasa mendekati-Nya, maka masalah hidup akan terselesaikan (halaman 31).

Kiat bangkit lain yang diberikan Rifa’i dalam buku ini adalah tepat memilih teman atau sahabat. Karena sahabat yang baik nan shalih akan mampu meredam banyak gejolak jiwa ketika kita merasa terasing dalam kesedihan dan masalah. Sebagaimana perkataan syaikh Dr. Aidh Al-Qarni, “Teman yang shalih dan selalu optimis akan sangat membantu meringankan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, dan membuka pintu-pintu harapan. Sedangkan teman yang pesimistis akan membuat dunia tampak hitam pekat. (halaman 52)”

Instropeksi diri juga menjadi kiat bangkit yang ampuh, karena mungkin saja masalah itu ada dalam diri kita. Kita sendiri yang menciptakan masalah. Maka, ketika kita melakukan kesalahan, jangan takut untuk menanggung konsekuensinya. Jangan mengkambing hitamkan orang lain. Konsekuensi harus dihadapi sebagai media pembelajaran diri, agar tak mengulangi perbuatan salah itu lagi (halaman 61). Berbuat salah itu wajar, namun mengulanginya berkali-kali itu kurang belajar.

Selain itu kiat yang lain adalah memaafkan, tersenyum kepada yang lain, tidak menggantungkan diri pada manusia, menjadi pendengar yang baik, menolong agama Allah,  tidak mengeluh, tidak anti kritik dan bersabar. Setidaknya, mengapa buku ini menjadi rekomendasi karena inti dari  buku 156 halaman  ini ada tiga yaitu jagalah impaian-impian besar, jagalah rasa syukur dalam jiwamu dan teruslah menebar manfaat sebanyak mungkin pada sesama. Selamat membaca!

(89- di Harian Singgalang 14 Desember 2014)

dok pribadi
dok pribadi

2 thoughts on “Allah, Cukuplah Engkau Sebagai Penolong

  1. Atria Dewi Sartika 23 Desember 2014 / 11:22

    Wah, menarik yah bahasannya dan cukup menohok. He..he.. kiat-kiatnya bagus (^_^)

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 23 Desember 2014 / 11:36

      iya.

      Mas Rifa’i bahasanya sederhana tapi mengena, silakan diburu kalau penasaran🙂

      Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s