Guru Para Pemimpi

Perjuangan Mendirikan Sekolah Untuk Anak Pinggiran

Judul                            : Guru Para Pemimpi

cover guru para pemimpi
cover guru para pemimpi

Penulis                          : Hadi Surya

Penerbit                       : Qanita-Mizan

Tahun Terbit                : Pertama, Oktober 2013

Jumlah Halaman          : 376 halaman

ISBN                           :  978-602-1637-04-3

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Pendiri Klub Buku Booklicious.

Pendidikan adalah salah satu penyebab suatu bangsa maju. Tanpa pendidikan, maka yang terjadi adalah kemerosotan. Baik ekonomi hingga moral. Maka, sudah menjadi hal mutlak bahwa pendidikan harus sampai ke seluruh warga suatu negara, baik di perkotaan hingga pedesaan. Di Indonesia ada UUD yang membicarakan tentang pendidikan, yakni dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan 2 menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Pertanyaannya apakah yang termaktub dalam UUD pasal 31 ayat 1 dan 2 tersebut sudah terealisasikan? Realitas menjawab pendidikan masih banyak menjangkau daerah perkotaan saja. Bahkan, daerah yang dekat dengan Ibu Kota saja ada yang tertinggal dalam pemerataan pendidikan.

Salah satunya adalah di sebuah desa bernama Ciseeng, Bogor. Bagaimana tidak? Setelah lulus sekolah dasar, sebagian besar gadis di desa tersebut memilih atau lebih tepatnya terpaksa menikah. Pemudanya hanya satu dua yang tamat SMA. Bahkan guru-guru yang ada di sekolah SD di desa tersebut ada yang hanya lulusan SMP.

Hal inilah yang membuat Hadi tergerak untuk membuat sekolah di desa tersebut. Berawal dengan KKN di daerah tersebut, melihat keadaan yang sangat memprihatinkan terutama pendidikan yang tidak merata membuat hati Hadi seakan tertambah di sana. Di saat teman-temannya ingin segera lulus kuliah, kerja dan nikah. Hadi malah ingin segera kembali ke Cisaeeng. Bak tertawan oleh gadis yang ada di sana. Seperti godaan teman-temannya yang mengira Hadi jatuh cinta pada gadis yang ada di sana.

Walau dalam keadaan yang juga miskin, Hadi tetap nekad akan mendirikan sekolah di daerah tersebut. Ketika pemerintah kurang memperhatikan pendidikan di daerah, padahal itu kewajiban mereka sebagaimana tertuang dalam UUD 1945, sebagai warga yang baik Hadi turut serta andil dalam mencerdaskan anak bangsa. Tidak hanya banyak berbicara,  namun langsung melakukan aksi. Tidak hanya mengutuk kegelapan, namun dia pun menyalakan harapan.

Jika dilihat dari geografis desa Cisaeeng adalah desa yang subur, namun sayang banyak lahan subur yang ada di daerah tersebut bukan lagi milik warga sekitar namun telah dijual kepada orang-orang kaya di kota. Maka, tak mengherankan banyak warga miskin di daerah ini. Karena kemiskinan inilah salah satu penyebab banyak anak perempuan desa ini melakukan pernikahan dini.

Dengan bantuan dan bimbingan Dr. Abdullah salah satu dosen dan pemerhati pendidikan, Hadi mendirikan sanggar belajar. Sanggar belajar ini dimulai selepas pulang sekolah. Karena sudah kenal dengan beberapa warga dan anak-anak di daerah tersebut sewaktu KKN.  Maka, tak heran sambutan warga dan anak-anak terhadap berdirinya sanggar lumayan besar. Sekitar 20-an anak aktif dalam sanggar tersebut. Selain itu di pagi harinya, Hadi menjadi tenaga pengajar sukarela di sebuah sekolah swasta di daerah tersebut.

Hadi yang masih belum puas dengan apa yang dia lakukan terus melakukan sosialisasi terhadap apa yang ingin dia lakukan untuk kebaikan desa Cisaeeng. Dr.Abdullah memberikan saran ada salah satu lembaga swadaya masyarakat yang mungkin bisa membantunya, lembaga itu bernama Yasmin. Setelah melakukan kerjasama, kemudian Hadi pun mendirikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Dia mengajak teman-teman sekampusnya mungkin ada yang mau menjadi tenaga pengajar di PAUD yang dia dirikan. Beberapa di antara mereka siap walaupun keadaan yang serba kekurangan dan kelas PAUD menumpang di sekolah swasta.

Melihat banyak di antara lulusan SD di sana banyak yang tidak meneruskan ke SMP lantaran ekonomi, maka Hadi pun bertekad mendirikan SMP gratis. Seperti PAUD tenaga pengajar yang ada adalah teman-teman sekampusnya dan mahasiswa pasca sarjana di Bogor. Ruangan masih menumpang di SD swasta di sana. Namun, sambutan warga cukup hangat. Banyak anak-anak yang mendaftarkan diri ke SMP yang dia dirikan.

Bukan perjuangan jika tak ada badai yang membuat peluh dan lelah. SMP yang dia dirikan mulai banyak dibicarakan warga, lantaran isu-isu yang dibuat oleh oknum yang mungkin tidak suka sekaligus iri terhadap berjalannya SMP yang Hadi dirikan. Isu tidak baik seperti mengajarkan filsafat, sekolah hanya masuk tiga  hari dalam seminggu, semakin berkembang di masyarakat. Sehingga di tahun kedua, menjelang hari H anak-anak baru masuk, hanya sedikit yang mendaftarkan diri ke SMP Hadi.

Namun berkat kerja keras Hadi, sehingga banyak yang kemudian menghibahkan tanah untuk dijadikan sekolah, memberi bantuan buku, pakaian bahkan sampai TV lokal meliput sekolah hasil kerasnya tersebut. Walhasil, kepercayaan masyarakat yang mulai luntur terhadapnya muncul kembali.

Masyarakat kembali mendukung apa yang telah dilakukan Hadi. Hadi bergotong royong bersama warga membuat gedung sekolah. Hingga jadilah sekolah Cendikia yang sampai sekarang terus berdiri. Bahkan karena sangat menginspirasi, Kick Andy pernah membahas sekolah ini.

Perjuangan Hadi dalam mencerdaskan anak bangsa sangat patut dihargai. Memoar Guru Para Pemimpi yang ditulisnya ini layak dibaca oleh siapa saja. Khususnya para pendidik, pejabat dan pemerhati pendidikan. Agar mengetahui bahwa masih banyak daerah yang tak terjamah pendidikan dan masih ada pula anak bangsa yang mau berjuang mencerdaskan anak bangsa tanpa pamrih. Semoga pendidikan di negeri ini semakin menjamah daerah terpencil dan membawa kebaikan bagi bangsa. Sebagaimana UUD Pasal 31 ayat 3 pendidikan itu untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga!

dok pribadi
dok pribadi

(90- di Harian Singgalang 14 Desember 2014)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s