To Be is To Do, To Do is To Be!

Renungan Dalam Sebuah Buku Kecil

Judul                            : To Be is To Do, To Do is To Be!

Penulis                          : Aiman Tashika

cover To Be is To Do, To Do is To Be!
cover To Be is To Do, To Do is To Be!

Editor                           : M. Nurul Furqon

Penerbit                       : Indiva Publishing

Tahun Terbit                : Oktober, 2007

Jumlah Halaman          : 224 halaman

ISBN                           :  978-979-1397-11-7

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Pendiri Klub Pecinta  Buku Booklicious.

Saya masih ingat ketika membaca buku karya Asa Mulchias yang berjudul, Ada Singa Dalam Dirimu sekitar tahun 2008. Dalam buku tersebut Asa memotivasi pembaca dengan tanpa menggurui. Dengan bahasa yang lugas, mengalir nan mudah dicerna, disertai kisah-kisah fiksi yang mendukung sehingga mampu menginspirasi pembaca.

Ternyata sebelum itu sudah ada buku karyanya yang juga sarat motivasi dan perenungan. Judulnya To Be is To Do, To Do is To Be! Yang terbit tahun 2007 dan Asa memakai nama pena Aiman Tashika. Bentuk bukunya mini, mudah dibawa ke mana-mana setebal 224 halaman. Namun, isinya cukup ‘menjlebkan’ hati pembaca.

Buku ini terdiri dari empat bab. Pertama, Lesson and Teachers. Kedua, Tragedies and Errors. Ketiga, You Earn What You Learn dan terakhir To Be is To Do, To Do is To Be. Ada sebuah kisah yang cukup terngiang di benak saya. Sebuah kisah dalam sebuah judul, Lelaki Yang Saya Hindari Setiap Sujud.

Mengisahkan tentang seorang yang berpenyakit ayan, namun tetap datang ke masjid setiap dikumandangkan adzan shalat lima waktu. Maka tak jarang orang tersebut kambuh penyakitnya dan mengganggu konsentrasi jamaah yang lain. Meski ada jamaah yang dengan sengaja tidak berada di sampingnya agar tidak terganggu ketika dia kambuh saat shalat nanti. Tetapi, dia tetap istiqomah untuk terus datang ke masjid untuk shalat berjamaah.

Dia adalah lelaki yang kurang disenangi di dunia karena kekurangannya, tetapi dia akan dicintai oleh Allah karena kelebihannya yang selalu berjamaah shalat di masjid. Sungguh, kisah ini akan menyentuh hati pembaca. Bagaimana tidak? Banyak orang yang sehat-sehat saja, tidak berpenyakit apa-apa tetapi malas sekali untuk shalat berjamaah ke masjid. Tetapi, orang berpenyakit ayan ini mau berangkat ke masjid tanpa  ragu.

Kisah lain yang Asa ceritakan dalam bukunya ini adalah orang yang dulunya shalih kemudian berubah. Dulunya biasa ikut pengajian tetapi akhirnya tidak pernah ikut pengajian dan malah berubah arah menjadi orang yang suka berpacaran. Itulah misteri hati manusia, sangat sulit untuk ditebak. Karenanya, manusia harus pintar menjaga hati.

Buku setebal 224 halaman ini sangat direkomendasikan sebagai buku muhasabah diri dengan kisah-kisah yang bisa direnungkan, meski bentuk bukunya cukup kecil. Semoga kita semua menjadi lebih baik ke depannya.Selamat membaca!

(92- 21 Desember 2014)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s