693 KM (Jejak Gerilya Sudirman)

Jejak Langkah Panglima Sudirman

Judul                            : 693 KM (Jejak Gerilya Sudirman)

cover 693 KM Jejak Gerilya Sudirman
cover 693 KM Jejak Gerilya Sudirman

Penulis                          : Ayi Jufridar

Penerbit                       : Noura Books

Editor                          : Hermawan Aksan

Tahun Terbit                : Pertama, Januari 2015

Jumlah Halaman          : 316 halaman

ISBN                           :  978-602-1306-07-9

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Pendiri Klub Pecinta Buku Booklicious.

Mengamati berita tentang keadaan Indonesia secara keseluruhan, negeri ini seperti tiada aman dan sentosa. Rakyat jauh dari kata sejahtera, hingga begal lahir di mana-mana. Pemerintahnya ribut, saling sikut, tidak mau berdamai dan hanya memikirkan ego masing-masing, ketimbang memikirkan rakyat. Tentu ada yang salah dengan negeri ini. Jika diamati, banyak orang yang lupa akan sejarah Indonesia. Banyak orang malas membaca buku sejarah, untuk mengingat jasa-jasa para pahlawan dan mengambil banyak hikmah di dalamnya.

Sejarah menunjukkan betapa banyak pahlawan yang terus berjuang untuk Indonesia, bahkan meskipun dalam keadaan sakit. Salah satunya, sejarah Panglima Besar Jenderal Sudirman. Seorang jenderal yang terkenal dengan  nilai juangnya yang tinggi, dan tidak mau harga diri Bangsa terus-menerus diinjak-injak oleh Belanda.

Sudirman lahir di Bodas, Karangjati, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah tepatnya 24 Januari 1916. Semasa kecil (SD-SMA) dia hidup di Cilacap. Dia aktif di kepanduan Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah. Karena keaktifannya di Muhammadiyah, meski tidak lulus sekolah guru (Kweekschool) dia tetap diangkat menjadi guru di HIS Muhammadiyah Cilacap.

Sudirman kemudian menjadi salah satu pejuang PETA (Pembela Tanah Air). Kemudian setelah Indonesia merdeka, laskar-laskar pejuang Indonesia dihimpun menjadi satu dan namanya menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Ada delapan nama yang diusung menjadi calon panglima TKR. Meski diceritakan dalam novel ini, seperti ada upaya untuk memenangkan Sudirman. Tetapi kharismatik Sudirman tidak bisa dielak dan layak menjadi panglima, sehingga dia  terpilih menjadi Panglima TKR (halaman 49).

Novel ini dimulai dengan detik-detik kematian Sudirman karena penyakitnya. Sudirman memang memiliki penyakit, yaitu penyakit Koch. Penyakit akibat bakteri Tubercle Bacillus penyerang paru-paru yang ditemukan oleh Heinrich Herman Robert Kock. Dari nama penemunya penyakit ini dinamakan, dan sekarang terkenal dengan nama TBC (tuberkulosis) (halaman 32).

Penyakit yang menurut dokter akibat sering menghisap tingwe (rokok melinting dewe). Tetapi karena sudah terbiasa sejak kecil, diajak menikmati rokok oleh kakeknya (halaman 21). Kebiasaan ini sulit dihentikan, meski taruhannya adalah nyawa karena penyakitnya akan bertambah parah.

Meski harus menderita penyakit berbahaya Sudirman sebagai panglima tetap melaksanakan tugasnya menjaga negeri ini dari penjajah. Ketika Belanda mengkhianati perjanjian dan melakukan agresi militer kedua setelah Indonesia merdeka, Sudirman tetap semangat berjuang meski harus menahan segala sakitnya.

Berbeda dengan pemerintah sipil yang menyerahkan diri pada Belanda dan memilih jalur perundingan, Sudirman memilih perjuangan melalui jalur perang. Dengan taktik yang telah disebar kepada seluruh anggota APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) melalui radio yaitu Siasat Nomor 1.

Siasat Nomor 1 ini sudah disampaikan beberapa bulan sebelumnya, yang berarti tidak melakukan pertahanan linier jika diserang Belanda sebab kekuatan militer mereka lebih besar dan kuat. Maka, mereka melakukan pengungsian total dan aksi bumi hangus untuk memperlambat laju serangan musuh. Di setiap kesatuan membuat kantong perlawanan degan pemerintahan gerilya di beberapa pegunungan  terdekat (wehkreise). Nantinya, pasukan-pasukan tersebut harus menyusup melakukan perlawanan ke daerah asal. Akhirnya, nanti seluruh Jawa akan menjadi medang perang (halaman 76).

Setelah menitipkan istrinya (Alfiah), di keraton Yogyakarta. Panglima Sudirman melakukan gerilya bersama Nolly, Hanum Faeni (adik iparnya), Dokter Suwondo, Utoyo Kolopaking, Aceng Suhada, Heru Kesser, Mohammad Yunus dan Harsono Cokroaminoto. Menyeberang sungai, naik-turun gunung, kepanasan dan kehujanan dia tetap setia duduk di singgasanan, sebuah tandu menjadi panglima perang. Dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur, dia lakukan gerilya dan koordinasi dengan semua markas perang APRI. Hanya satu tujuan, yaitu untuk kemenangan dan kemerdekaan Indonesia.

Meski sebuah novel, buku setebal 316 halaman ini ditulis dengan melakukan riset cukup. Bahkan, kekuatan dari sejarah yang dinovelkan yaitu akan menjadi lebih hidup. Termasuk buku ini. Sebuah buku rekomendasi untuk dibaca semua anak negeri. Semoga tersebab turut merasakan jasa pahlawan yang tertera dalam novel ini, sehingga menjadi semakin mencintai negeri ini, dan mau menjadi salah satu pemberi solusi bagi negeri dengan seribu masalah ini. Semoga dan selamat membaca!

dok. pribadi
dok. pribadi

*dimuat di Malang Post 5 April 2015.

2 thoughts on “693 KM (Jejak Gerilya Sudirman)

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s