Menikahimu Dengan Restu Ayah-Ibu

Panduan Mendapat Restu Menikah Dari Orangtua

Judul                            : Menikahimu Dengan Restu Ayah-Ibu

cover menikahimu dengan restu ayah ibu
cover menikahimu dengan restu ayah ibu

Penulis                          : Ikhsanun Kamil & Foezi Citra Cuaca

Penerbit                       : Mizania

Tahun Terbit                : Cetakan I, Februari 2015

Jumlah Halaman          : 208 halaman

ISBN                           :  978-602-0989-49-5

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pegiat di Bondowoso Writing Community

Semua orang yang normal, tentu ingin menikah. Apalagi, jika memahami syariat menikah dalam Islam, menikah adalah suatu yang didamba. Namun, dalam menuju sebuah pernikahan tidak semua orang mendapatkan jalan yang mudah. Ada yang ingin menikah namun masih ditunda sementara, karena berbagai hal. Salah satunya, karena orangtua belum mengizinkan.

Perihal ini, memang menjadi banyak alasan orang untuk tidak menyegerakan menikah. Sejatinya ada solusi, agar orangtua kemudian memberikan restu menikah. Hal itulah yang ditulis oleh romantic couple Ikhsanun Kamil dan Foezi Citra Cuaca, dalam buku ke empatnya yang berjudul Menikahimu dengan Restu Ayah-Ibu.

Sikap orangtua kepada anaknya tentu saja memiliki alasan, termasuk jika orangtua tidak memberi restu anaknya untuk menikah. Jika dihimpun inilah alasan orangtua tidak merestui anaknya untuk menikah. Pertama, anaknya masih kecil dan belum siap menerima tanggung jawab dalam menikah. Kedua, orangtua merasa tidak cocok dengan calon suami atau istri anaknya.

Jika dilihat dari alasan orangtua tidak merestui anaknya untuk menikah, tentu saja itu bukan karena orangtua tidak sayang anaknya (halaman 64). Kedua alasan diatas malah menunjukkan orangtua sayang dan perhatian kepada masa depan anaknya. Selain itu, hati orangtua bukanlah hati sang anak. Karenanya, yang bisa dilakukan oleh anak adalah memengaruhi, bukan mengubah hati orangtua.

sumber: tqnnews.com
sumber: tqnnews.com

Maka, untuk mendapatkan restu orangtua Canun dan Fufu memberikan tiga langkah yang harus dilakukan oleh pembaca. Pertama, cleansing. Kedua, understanding dan terakhir communicating. Cleansing dalam buku adalah memaafkan. Memaafkan siapa? Memafkan kesalahan orangtua kepada anak.

Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk juga tidak ada orangtua yang sempurna. Orangtua pasti juga memiliki kesalahan, termasuk melakukan kesalahan kepada anaknya. Banyak orangtua masih memakai cara mendidik konvesional alias mengikuti turun-temurun dari keluarga terdahulu meskipun hal tersebut salah. Hal ini harus diakui tanpa menyalahkan orangtua, karena sekali lagi tidak ada manusia yang sempurna.

Misal saja, terbiasa membentak anak ketika menangis, memukul anak dan lainnya yang menimbulkan luka fisik maupun psikis pada anak. Hal tersebut tidak serta merta hilang dari kehidupan anak. Rasa marah, benci, dan tidak suka pada orangtua terpendam dalam diri anak. Jika tidak dikeluarkan emosi terpendam tersebut, maka emosi tersebut akan keluar ketika sang anak pun memiliki anak kelak. Maka, sikap mendidik anak yang salah ini akan terus ada, akan terus terwarisi kepada generasi berikutnya (halaman 73).

Karenanya, diperlukan proses cleansing, dengan maksud mengeluarkan segala emosi yang terpendam lama. Marah dan benci dikeluarkan, dirasakan ulang, dihayati dan diambil hikmahnya, lalu memaafkan orangtua. Hal ini memang tidak mudah, namun penulis menyarankan pembaca untuk tetap melakukan cleansing agar kehidupannya kelak lebih indah, damai dan tenang.

Kedua, adalah understanding. Maksud dari understanding ini adalah memahami dan mengerti. Apa yang dipahami dan dimengerti? Orangtualah yang dipahami dan dimengerti. Seperti yang telah disampaikan di atas, orangtua tentu memiliki alasan mengapa tidak merestui anaknya menikah. Tugas anak mencari, apa alasan orangtuanya tidak merestui. Setelah mengetahui, misal karena tidak ingin sendiri dan menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Maka, sang anak harus membuktikan dan mampu memengaruhi orangtuanya bahwa dia akan tetap mengunjungi rumah orangtuanya, dan meyakinkan merka bahwa calon yang kita suka adalah yang terbaik. Dalam buku duet penulis romantis ini dipaparkan cara-caranya.

Terakhir, adalah communicating yang berarti komunikasi. Setelah mengerti dan memahami apa yang orangtua rasakan, maka perlu dilakukan komunikasi. Seperti kata penulis buku ini, “Komunikasi adalah salah satu kunci yang teramat penting dalam pernikahan. Mempelajari, mengasah skill-nya, juga mengaplikasikannya, akan memudahkan interaksi dalam pernikahan (halaman 200).”

sumber: ceritamu.com
sumber: ceritamu.com

Buku 208 halaman ini juga menerangkan bagaimana cara agar komunikasi lebih efektif, dengan harapan mampu memengaruhi orangtua agar nantinya merestui anaknya untuk menikah. Misalnya dengan mengetahui tipe kepribadian orangtua dan cara berkomunikasi dengannya. Dengan demikian, buku ini layak dibaca oleh Anda yang ingin segera menikah, khususnya yang masih terganjal restu orangtua. Selamat membaca!

dok. pribadi
dok. pribadi

*dimuat di Harian Singgalang 7 Juli 2015

 

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s