Dari Puncak Andalusia

Zaman Keemasan Islam di Spanyol

Judul                            : Dari Puncak Andalusia

sumber: penerbitzaman.com
sumber: penerbitzaman.com

Penulis                          : DR. Tariq Suwaidan

Penerjemah                  : Zainal Arifin

Editor                          : Chairul Ahmad

Penerbit                       : Penerbit Zaman

Tahun Terbit                : Cetakan I, 2015

Jumlah Halaman          : 720 halaman

ISBN                           :  978-602-1687-24-6

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pegiat di Bondowoso Writing Community

Saat ini Spanyol menjadi salah satu kiblat sepak bola dunia. Real Madrid dan Barcelona menjadi dua klub sepak bola di Spanyol yang difavoritkan oleh banyak orang karena sering meraih prestasi. Jauh sebelum kejayaan sepak bola di Spanyol, Islam juga pernah berjaya di negeri matador tersebut.

Sebelum bernama Spanyol, dulunya daerah ini bernama Andalusia. Tepatnya pada tahun 92 H/ 711 M pasukan Muslim mulai masuk ke Spanyol di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Peperangan dan perjanjian dilalui. Perang penaklukkan antara pasukan Muslim dengan kaum Vandal dan Visigoth. Kaum Vandal menguasai Spanyol sejak abad kelima sampai sepuluh Masehi.  Sedangkan Kaum Visigoth yang berasal dari Jerman menguasai selama 3 abad hingga permulaan aback e 16 M.  Dari nama kaum Vandal kemudian daerah yang kini bernama Spanyol dinamakan Vandalusia. Kemudian orang Arab menyebutnya, Andalusia (halaman 38).

Setelah berarkhirnya Dinasti Umayyah di Timur, Kaum Umayyah terus diburu oleh Bani Abbasiyah yang naik takhta. Pelarian Kaum Umayyah inilah yang kemudian berjaya di Eropa. Mereka mendirikan kelanjutan Khilafah Umayyah di Andalusia dan menerangi Eropa yang sebelumnya gelap gulita. Orang yang berperan dalam hal ini adalah Abdurrahman ad-Dakhil (halaman 140).

Kepemimpinan Khilafah Umayyah di Andalusia terus berlanjut hingga masa pimpinan Abdurrahman al-Nashir. Di bawah kepemimpinannya Andalusia mencapai zaman keemasannya. Abdurrahman al-Nashir mampu menstabilkan situasi dan kondisi Andalusia. Setelah itu dia mengokohkan pilar-pilar pemerintahan agar dinastinya berdiri kuat.

Ada enam raihan prestasi puncak peradaban Andalusia di bawah kepemimpinan Abdurrahman al-Nashir. Pertama prestasi dalam sisi politik. Banyak delegasi-delegasi negara lain yang berdatangan ke Kordoba untuk menjalin hubungan baik dan kerja sama politik dengan Andalusia. Seperti Bizantium Timur (Konstantinopel).

Kedua, prestasi dari sisi sosial. Rakyat bisa menikmati beragam makanan, pakaian, nyanyian dan musik. Rakyat Andalusia menjadi senang berpesta pora. Orang yang membawa kebiasaan tersebut adalah Zaryab. Sayangnya, karena hal ini rakyat Andalusia menjadi lalai. Mereka banyak yang lupa bahkan jauh dari Islam. Banyak ulama yang mencoba memerangi hal ini agar Andalusia tidak menjadi lemah dan jatuh, seperti al-Mundzir bin Sa’id al-Baluthi (halaman 275).

Cordoba City. Sumber: http://www.hickerphoto.com/
Cordoba City. Sumber: http://www.hickerphoto.com/

Ketiga, prestasi dalam pembangunan infrastruktur. Kordoba pada saat itu adalah kota yang besar dan penduduknya mencapai angka setengah juta jiwa. Selain Baghdad, tidak ada kota lain yang lebih besar dari itu. Untuk menampung masyarakat Kordoba, dibangunlah ada 13 ribu unit rumah dan didirikan juga 3.000 masjid.

Keempat, prestasi dalam administrasi pemerintahan. Abdurrahman al-Nashir membagi Kordoba menjadi 28 distrik. Penugasan apparat kepolisian dibagi dua waktu, malam dan siang hari. Penugasannya juga berbeda, seperti mengawasi dan mengawal pedagang. Sistem peradilan juga mendapat perhatian dari Abdurrahman al-Nashir. Dibuatlah syarat bagi calon pejabat peradilan, semua etnis boleh menjadi menjadi pejabat peradilan, tidak hanya orang Arab. Abdurrahman al-Nashir tidak menyukai fanatisme dan nepotisme.

Kelima, prestasi dari sisi ekonomi. Di bawah kepimpinan Abdurrahman al-Nashir bidang pertanian berkembang pesat. Berbagai tanaman buah-buahan tumbuh subur, seperti tebu, padi, zaitun, dan delima. Pada masa inilah juga dibuat kalender pertanian untuk setiap musim yang kemudian diadopsi oleh Eropa (halaman 279 ).

Istana Al-Hambra: Sumber: http://www.hickerphoto.com/
Istana Al-Hambra: Sumber: http://www.hickerphoto.com/

Terakhir prestasi dari sisi budaya. Al-Nashir dikenal mencintai ilmu dan ulama. Ada 70 perpustakaan di Andalusia, dan setiap perpustakaan ada 400 judul buku. Di Kordoba, al-Nashir mendirikan 27 sekolah gratis bagi kalangan miskin dan jelata. Ada banyak ulama yang masyhur kala itu salah satunya adalah al-Qadhi Abdullah Muhammad bin Muhammad, yang menimba ilmu dari 236 syaikh.

Dengan prestasi gemilang di atas, tak heran jika Andalusia disebut sebagai mutiara dunia (halaman 277). Andalusia telah menorehkan sejarah yang sangat berperan atas terbentuknya peradaban Eropa saat ini. Dalam buku  720 halaman ini DR. Tariq tidak hanya menulis masa kejayaan Umat Islam di Andalusia, tetapi juga menulis masa-masa akhir yang terpuruk. Sebuah buku yang menarik, karena menginspirasi dan sarat perenungan. Selamat membaca!

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

*dimuat di Harian Singgalang 9 Agustus 2015

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s