Tujuh Mualaf Yang Mengharumkan Islam

Kisah Inspiratif Penerjemah Al-Qur’an Pertama

Judul                            : Tujuh Mualaf Yang Mengharumkan Islam

cover tujuh mualaf yang mengharumkan islam
cover tujuh mualaf yang mengharumkan islam

Penulis                          : Tofik Pram

Penerbit                       : Noura Books

Editor                          : Kahfi Dirga Cahya

Tahun Terbit                : Cetakan I, Mei 2015

Jumlah Halaman          : 182 halaman

ISBN                           :  978-602-0989-38-9

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pegiat di Bondowoso Writing Community

Pertumbuhan Muslim di Inggris dari tahun ke tahun semakin meningkat. Berdasarkan data sensus, jumlah muslim pada tahun 2001 adalah 1,55 juta jiwa dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 2,7 juta jiwa. Menurut para peneliti, banyak faktor yang menyebabkan pertumbuhan signifikan pemeluk Islam di negeri Ratu Elizabeth tersebut. Dalam buku Tujuh Mualaf Yang Mengharumkan Islam, Tofik Pram mengatakan salah satunya adalah berkat jasa Muhammad Marmaduke Pickthall.

Muhammad Marmaduke Pickthall mulanya seorang Kristen Anglikan yang terlahir dengan nama Marmaduke Pickthall. Bersama keluarganya dia tinggal di Suffolk. Ayahnya adalah seorang pendeta Kristen Anglikan. Setelah ayahnya meninggal, dia dan ibunya pindah ke London.

Saat melanjutkan di Sekolah Harrow, dia tertarik terhadap ilmu bahasa. Lulus dari Hallow, dia mempelajari beberapa bahasa, seperti Gaelik (bahasa orang Skotlandia) dan Welsh (bahasa orang Wales). Meski tidak lulus dalam seleksi pegawai di departemen luar negeri, Pickthall tidak patah semangat. Dia kemudian mempelajari bahasa Arab.

Kemudian dia berlayar ke Port Said, ketika umurnya belum genap 18 tahun. Perjalanan inilah yang menjadi titik tolak perjalanan lainnya di negeri Timur Tengah dan Turki. Karena cakap dalam berbahasa Arab, Kesultanan Ottoman mengundangnya untuk belajar kebudayaan Timur (halaman 155).

Pickthall memberikan dukungan kepada Turki Utmani saat terjadi Perang Dunia I (1914-1918). Begitu juga saat propaganda perang pada tahun 1915, meski bukan seorang Muslim dia tetap membela Muslim dan tidak mau mendukung negaranya. Sikap Pickthall ini lahir karena perjalanannya ke negara-negara Islam dan Turki. Sehingga dia bersentuhan langsung dengan perilaku Islam yang ternyata damai. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk bersyahadat pada tahun 1917.

Sejak keputusan besarnya tersebut, Pickthall banyak melakukan kegiatan syiar Islam. Pada 29 November 1917 tidak lama setelah mengucap syahadat, dia menjadi pembicara dalam diskusi yang diadakan Muslim Literary Society bertajuk Islam and Progress di Notting Hill, London Barat.

Pada tahun 1925, Pickthall diundang Komite Umat Muslim di Madras guna memberikan kuliah umum mengenai aspek Islam ditinjau dari sisi multi-budaya. Koleksi bahan-bahan kuliahnya pun dipublikasikan, agar kalangan non-Muslim mendapat pemahaman tentang agama Islam (halaman 156).

sumber: www.islamicity.org
sumber: http://www.islamicity.org

Tahun1919, dia aktif di Biro Informasi Islam di London dan beberapa usaha penerbitan media Islam, seperti Muslim Outlook. Dia juga menulis novel yang berjudul Early Hours pada tahun 1920. Setelah itu dia mendapat penugasan di India sebagai editor di surat kabar Bombay Chronicle. Tujuh tahun kemudian dia menjadi editor di Islamic Culture, yang berkantor di kawasan India Selatan yang mayoritas Muslim, Hyderabad. Di Hyderabad pulalah dia merampungkan The Meaning of Glorius Koran.

Sebenarnya, sejak 1917 Pickthall telah berniat menerjemahkan Al-Qur’an. Dia meyakini, bahwa setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk memahami Al-Qur’an, kemudian menyebarkan kabar gembira tersebut kepada orang lain. Tersebab Al-Qur’an berbahasa Arab, dia merasa perlu penerjemahan agar Muslim non-Arab bisa memahami dengan baik.

Obsesinya baru terwujud pada tahun 1928, dan kemudian dia terbitkan pada tahun 1930. Dari terjemahan karyanya ini banyak Muslim- di Eropa khususnya merasakan manfaat. Selain Pickthall, Al-Qur’an juga diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Abdullah Yusuf Ali (halaman 153).

Seperti ilmuwan Muslim lainnya, Pickthall tidak menerjemahkan kata Allah Swt. dalam Al-Qur’an. Dalam pengantarnya dia mengatakan, Al-Qur’an tidak bisa diterjemahkan.” Oleh karena itu, terjemahannya tetap berdampingan dengan teks asli Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Berbeda dengan Injil yang murni diterjemahkan tanpa mendampingkan teks asli (halaman 152).

Terjemahan Al-Qur’an pertama kali dalam bahasa Inggris oleh seorang Muslim, karya Pickthall ini sangat populer. Bagi kalangan orang Barat yang mempelajari Islam, terjemahan Al-Qur’an ini disebut karya monumental. Universitas Al-Azhar pun mengakui terjemahannya dan mengatakan terjemahan Pickthall adalah sebuah pencapaian besar dalam dunia penulisan (halaman 151). Dengan demikian, tak salah jika Tofik menjadikan Pickthall sebagai salah satu yang berjasa atas perkembangan Islam di Eropa, karena telah meneranginya dengan Al-Qur’an yang dia terjemahkan. Selamat membaca!

dok. pribadi
dok. pribadi

*dimuat di Harian Bhirawa 28 Agustus 2015

2 thoughts on “Tujuh Mualaf Yang Mengharumkan Islam

  1. indah nuria Savitri 29 Agustus 2015 / 13:08

    I love this post…Buku yang bagus dan bermanfaat, jadi tahu lebih banyak tentang Mualaf yang menginspirasi

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 29 Agustus 2015 / 13:35

      terima kasih Mba Indah, semoga bermanfaat dan memberi kebaikan dan perubahan bagi kehidupan kita semua🙂

      Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s