Swarna Alor

Kesuksesan adalah Perjuangan

Judul                            : Swarna Alor

sumber: www.tigaserangkai.co.id
sumber: http://www.tigaserangkai.co.id

Penulis                          : Dyah Prameswarie

Editor                           : Ferrial Pondrafi

Penerbit                       : Metamind-Tiga Serangkai

Tahun Terbit                : Cetakan I, Mei 2015

Jumlah Halaman          : 282 halaman

ISBN                           :  978-602-72097-9-4

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pegiat di Bondowoso Writing Community

Lilo adalah gadis muda dari Jakarta yang ingin menjadi seorang desainer profesional, sedangkan Mbarep adalah gadis muda asal kota di Jawa Timur, Jember yang ingin menjadi model profesional. Keduanya dipertemukan dalam sebuah kegiatan peserta magang sebuah majalah nasional ternama, Cantik.

Dengan kegiatan magang Majalah Cantik, mereka berharap akan belajar langsung kepada model dan desainer professional di Jakarta seperti Fahrani dan Dian Pelangi. Sayangnya, harapan mereka harus pupus begitu saja, karena setelah diumumkan kegiatan magang mereka akan diadakan di luar kota, bahkan luar pulau dan provinsi, yakni di Alor.

Meski begitu, mereka masih punya harapan yakni magang di Alor yang terkenal dengan pantainya yang eksotik. Namun, sesampainya di sana mereka merasa ada keganjilan dan keanehan, dan mereka berdua memiliki pertanyaan yang sama “Mengapa harus jauh-jauh pergi ke Alor untuk menjadi model dan desainer professional?” Mbarep beberapa kali harus hanya melihat seniornya, Raisa dan Jihan berpose di depan kamera, sedangkan Lilo bernama Mama Sariat belajar menangkap teripang dan mengumpulkan buah tongke (halaman 18). Hal ini sangat aneh bagi mereka berdua.

sumber: travel.kompas.com
sumber: travel.kompas.com

Hingga suatu waktu bersama dua senior model, Mbarep mulai belajar foto di bawah air (laut). Bagi seorang yang suka menyelam, Mbarep mengentengkan hal ini. Dia merasa sudah terbiasa, apalagi dia sudah memiliki sertifikat menyelam. Dia melihat dua model seniornya yang sudah professional, mereka sudah terbiasa menyelam di bawah air yang ternyata dingin. Sedangkan, ternyata bagi Mbarep menjadi model bawah air tidak mudah sama sekali, air bawah laut sangat dingin sehingga membuat Mbarep pingsan dan membuat heboh suasana (halaman 83).

Setelah masuk ke bawah air laut Alor Mbarep merasa salah menilai bahwa magang yang diadakan Majalah Cantik sia-sia. Sedangkan, Lilo masih tetap merasa aneh dengan kegiatan orang Alor yang membuat warna kain tenun Alor dengan teripang. Dia sebagai anggota Green World, harus mengatasi hal ini dan dia menelpon ketua Green World,  Samara untuk ke Alor.

Ternyata, laporan dia kepada Samara membuat Pak Libana suami Mama Sariat diculik dan bahkan hampir dibunuh oleh Samara dan anggota Green World yang lain. Ternyata Green World hanya sebagai topeng bagi orang-orang di dalamnya untuk mereguk kekayaan dengan merusak alam, bukan menjaga alam.

Lilo menyesal dan segera menolong Pak Libana, bersama Mbarep dan teman dekatnya, Juan. Mereka bertiga pun hampir mati gara-gara bertemu dengan petinggi Green World yang ternyata membawa pistol untuk mereka. Untungnya mereka bisa pulang dengan Pak Libana dengan selamat.

Lilo juga sadar ternyata membuat warna kain dengan teripang lebih baik, ketimbang memakai bahan kimia yang malah akan membuat alam rusak. Lilo pun belajar tentang kain tenun Alor untuk desain bajunya yang akan dipamerkan di Swarna Festival. Hasilnya, karya Lilo yang dipakai Mbarep yang ditampilkan pun menuai banyak pujian, dari Kementrian Indonesia, dari Indonesian Fashion Week dan dari Dian Pelangi. Bahkan, mereka berdua pun sudah bisa menjadi model dan desainer yang akan tampil dan menampilkan karya di acara bergengsi Indonesian Fashion Week (halaman 234).

Dari semua yang terjadi selama di Alor, Mbarep dan Lilo meyakini bahwa kesuksesan tidak akan didapatkan kecuali dengan pengorbanan dan perjuangan. Laiklah, hal ini menjadi intisari dari novel 282 halaman karya Dyah Prameswarie ini. Pembaca pun tidak hanya terhibur, namun juga termotivasi untuk berjuang memperbaik hidup. Semoga!

dok. pribadi
dok. pribadi

*dimuat di Harian Singgalang 13 September 2015

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s