Menyingkap Hakikat Perkawinan

Hakikat Pernikahan Menurut Islam

Judul                            : Menyingkap Hakikat Perkawinan

cover menyingkap hakikat perkawinan
cover menyingkap hakikat perkawinan

Penulis                          : Al-Ghazali

Penerjemah                   : Muhammad Al-Baqir

Editor                          : Lina Sellin

Penerbit                       : Penerbit Noura Books

Tahun Terbit                : Cetakan I, Februari 2015

Jumlah Halaman          : 200 halaman

ISBN                           :  978-602-0989-31-0

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pegiat di Bondowoso Writing Community

Imam Al-Ghazali adalah salah satu ulama tersohor pada zaman Bani Seljuk dan Bani Abbasiyah. Ia dikenal mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak dalam berhujjah sehingga digelari hujjatul islam. Salah satu karya fenomenalnya adalah Ihya Ulumuddin yang membahas berbagai masalah dan memberi sumbangan besar pada umat dari dulu hingga sekarang. Salah satu bab dalam kitab tersebut adalah Kitab Adab An-Nikah yang berarti adab pernikahan.

Dalam Islam pernikahan bukan sekadar pelampiasan nafsu dan syahwat sesaat. Islam menganggap orang yang menikah telah menyempurnakan separuh agamanya. Dalam buku ini Al-Ghazali mengatakan, “Pernikahan membantu memperkuat agama seseorang dan pembawa kehinaan bagi setan. Ia adalah benteng amat kukuh yang mampu menghalangi makar jahat musuh Allah itu pada kehidupan manusia. Melaluinya, umat Muhammad Saw. akan berkembang baik dan berlipat ganda, menyebabkan timbulnya kegembiraan serta kebanggaan bagi beliau, penghulu para Nabi.” (halaman 8)

Dalam buku ini pula Al-Ghazali mengemukakan bahwa dalam Islam pernikahan memiliki berbagai faedah atau manfaat. Pertama, memperoleh anak sebagai dasar  serta tujuan utama disyariatkannya pernikahan. Maka, pada hakikatnya diciptakannya syahwat seksual pada diri manusia adalah untuk menjaga eksistensi manusia di muka bumi (halaman 24).

sumber: http://rebloggy.com/
sumber: http://rebloggy.com/

Upaya memperoleh anak ini juga meliputi empat aspek. Pertama, mencari keridhaan Allah Swt. dengan memperoleh anak untuk menjaga kelestarian manusia. Kedua, mencari keridhaan Rasulullah Saw. dengan memperbanyak umatnya yang akan membanggakannya. Ketiga, mengharapkan berkah dan doa anak-anak yang saleh dan keempat mengharapkan syafaat dari anaknya apabila meninggal dunia sebelum mencapai dewasa (halaman 35).

Faedah menikah yang kedua adalah sebagai penyaluran gejolak syahwat. Dengan menikah maka diri akan terbentengi dari godaan setan, keinginan yang sangat kuat memenuhi pikiran akan terpatahkan, mencegah bencana dari dorongan syahwat, menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan dari perbuatan terlarang (halaman 40).

Faedah menikah yang ketiga adalah menghibur hati dengan duduk bersama, bercanda, saling memandang dan melepas rindu. Sedangkan faedah yang keempat adalah terjaminnya pengelolaan rumah tangga suami dan istri memiliki tugas masing-masing. Faedah terakhir adalah melakukan perjuangan melawan hawa nafsu (mujahadah) serta melatih diri untuk berperan sebagai pemimpin dan pelindung yang bertanggung jawab dalam memenuhi segala hak istri dan keluarga (halaman 55).

Selain itu Al-Ghazali juga menulis bahwa pernikahan juga memiliki kerugian, jika tidak mampu mencari nafkah yang halal (halaman 62), tidak memenuhi kewajiban kepada keluarganya (halaman 64) dan jika pernikahan justru menghambat ibadah seseorang kepada Allah Swt (halaman 67).

Al-Ghazali juga memaparkan persoalan mengapa seorang saleh bahkan seorang Nabi dulu kala ada yang tidak menikah, apakah hal tersebut karena tidak mencintai sunnah? Menurut Al-Ghazali orang saleh terdahulu yang tidak menikah bukan tidak mencintai sunnah dan tidak mengetahui keutamaan menikah, tetapi tidak menikah karena berbagai alasan dan keadaan yang tidak memungkinkan. Contohnya, Nabi Isa ‘alaihissalam tidak menikah, karena Nabi Isa mengerti tentang dirinya sendiri. Mungkin keadaan pada waktu itu tidak memungkinkan untuknya mencari nafkah dan mengurus keluarga, sehingga dia tidak menikah dan menempuh jalan ibadah. Al-Ghazali mengatakan bahwa kita hanya perlu meyakini bahwa yang dilakukan para Nabi itulah keadaan yang lebih utama. Dan hanya Nabi Isa dan Allah yang tahu apa alasan sebenarnya.

Jika disimpulkan, dengan keadaan zaman sekarang maka menikah akan menjadi diutamakan. Hal ini karena betapa kehidupan saat ini penuh hedonisme yang mengumbar nafsu syahwat dan pergaulan laki-laki dan wanita yang sangat bebas. Untuk menghindari diri dari lembah kemaksiatan, maka pernikahan adalah solusi jika memang telah ada persiapan. Dengan demikian buku yang juga membahas tentang cara mencari pasangan, hak dan kewajiban suami dan istri, adab pergaulan suami-istri dan berbagai yang berkaitan tentang pernikahan ini layak dibaca oleh siapapun. Khususnya, bagi Anda yang akan menyegerakan pernikahan. Semoga dengan memahami hakikat pernikahan, kelak pernikahan Anda akan tercurah barakah dari-Nya. Selamat membaca!

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

*dimuat di Harian Singgalang 13 September 2015.
*diikutkan Islamic Reading Challenge 2015 http://yukmembacabukuislami.blogspot.co.id/2014/12/islamic-reading-challenge-isrc-2015.html

2 thoughts on “Menyingkap Hakikat Perkawinan

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s