BLOGTOUR & GIVEAWAY Kubah Di Atas Pasir

 

CQTVaWqUsAANwTe

Judul                            : Kubah Di Atas Pasir

Penulis                          : Zhaenal Fanani

Editor                           : Cahyadi H. Prabowo

Penerbit                       : Metamind, Imprint Tiga Serangkai

Tahun Terbit                : Cetakan I, Juli 2015

Jumlah Halaman          : 360 halaman

ISBN                           :  978-602-72834-1-1

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pegiat di Bondowoso Writing Community

Siapa yang tidak mengenal Zhaenal Fanani, penulis produktif asal Malang. Penulis serba bisa menulis segala genre ini kembali meramaikan jagad perbukuan melalui novel terbarunya, Kubah Di Atas Pasir. Seperti beberapa novelnya yang bertema Malang dan sejarah, seperti Ken Arok, Singosari, Majapahit, novel ini kembali bercerita tentang kisah yang berdasarkan kisah nyata di sebuah pelosok di Malang yang disebut Ngurawan.

Nguwaran adalah daerah yang mayoritas laki-lakinya adalah pekerja penambang pasir dan perempuannya adalah pekerja pemecah batu. Kehidupan di sana sungguh tertinggal, selain karena sekolah yang ada jaraknya jauh, juga karena pemikiran masyarakat Ngurawan yang penting bekerja untuk hidup. Jadi, masa bodoh untuk pendidikan anak, setelah berumur cukup dan kuat untuk bekerja, maka tugas sang anak adalah membantu orangtuanya bekerja sebagai penambang pasir atau pemecah batu (halaman 7).

Banyak pendatang yang menyambung hidup di Ngurawan. Salah satu pendatang di Ngurawan adalah Mahali, tokoh utama dalam novel ini. Mahali adalah anak yatim piatu yang besar di sebuah yayasan di Malang. Dia tidak tahu bagaimana kejelasan asal-usulnya, siapa bapak-ibunya. Setelah lama tidak menemukan dunianya, Mahali akhirnya menemukan Ngurawan yang dia harap sebgai rumah masa depannya. Di sana dia giat bekerja sebagai penambang pasir. Hingga dia menikah dengan Fatikha yang juga seorang yatim piatu (halaman 50).

Setelah menikah Mahali mengajak Fatikha untuk menetap di Ngurawan. Pertama kali sampai Ngurawan, Fatikha pun  merasa bahwa Ngurawan adalah rumah masa depannya. Karena pun begitu, Fatikha adalah seorang yatim piatu tak jelas asal-usulnya. Fatikha juga membantu Mahali mencari uang dengan menjadi pemecah batu, seperti perempuan-perempuan lainnya di Ngurawan.

Selain itu Fatikha juga menjadi relawan pengajar agama di yayasan tempat dia besar, sebagai rasa terima kasih kepada yayasan (halaman 57). Fatikha memang peduli terhadap pendidikan, karenanya bagaimana pun keadaannya, dia tetap ingin Hiram anak semata wayangnya untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak hanya itu Fatikha sebenarnya miris dengan keadaan masyarakat Ngurawan yang tak acuh terhadap pendidikan. Inginnya, dia bisa menyadarkan masyarakat Ngurawan akan betapa pentingnya yang bernama pendidikan.

Beberapa tulisan yang berkaitan tentang pendidikan dapat ditemukan dalam buku ini:

  1. Mengapa lembaga pendidikan di negeri ini tidak cemas terhadap generasi muda bangsa yang limbung dengan masa depannya? Institusi pendidikan di negara zamrud katulistiwa ini seakan mendirikan tembok tinggi dan hanya bisa dilompati oleh mereka yang menggenggam harta. Pintu mereka tertutup untuk orang miskin (halaman 28).
  2. Sekolah gratis sekadar bebas dari uang iuran bulanan. Sementara, biaya untuk hal-hal lain justru lebih besar. Lembaga pendidikan bukan lagi menjadi arena menimba ilmu, tapi berubah fungsi menjadi label eksklusivitas dan gengsi kelompok. Lembaga pendidikan tidak lagi menjadi wadah untuk mendidik, tetapi menjelma sebagai instrumen pencetak ijazah agar kelak leluasa berlalu lalang di altar-altar perusahaan. Pendidikan jauh dari makna sesungguhnya. Pendidikan kehilangan rohnya (halaman 29).

Dalam novel ini pula lembaga hukum pun disentil:

  1. Sudah menjadi rahasia umum bahwa lingkungan lembaga penegak hukum melakukan tindakan yang menyalahi undang-undang dengan menekan seseorang untuk mengakui sesuatu yang tidak dilakukan atau melakukan kompromi dengan pihak tertentu untuk membalikkan fakta. Dan uang adalah akses yang berlalu lalang di antaranya (halaman 154).

Sebagai novel tak picisan, maka bertaburlah tulisan tentang cinta yang membangun:

  1. Kehidupan adalah perjalanan yang harus dilalui. Suka atau tidak suka saya harus menjalaninya. Awalnya memang berat. Tapi, saya selalu ingat bahwa kematian seseorang yang kita cintai tidak harus menjadi akhir dari segalanya. Justru kematian itu merupakan permulaan sebuah cerita kehidupan (halaman 278).

  2. Cinta adalah anugerah agung. Cinta diciptakan bersamaan dengan diciptakannya dua manusia pertama, Adam dan Hawa. Cinta merupakan area sakral yang di dalamnya mengalir konsesus ketuhanan hingga pantang dicemari oleh keinginan-keinginan yang membuta. Cinta bukan saja penyatuan, melainkan juga khazanah yang mengajarkan keikhlasan, pengabdian, perjuangan dan pengorbanan. Jika segala hal dilandasi cinta, kedamaian dan kebahagiaan akan hadir (halaman 293).

  3. Cinta itu akan hadir dengan sendirinya jika kau mengenal Tuhan (halaman 301).

Bagaimana kelanjutan kisah Mahali, Fatikha, Hiram dan masyarakat Ngurawan? Alangkah baiknya Anda membaca langsung bukunya.

Sebagai novel berdasarkan kisah yang nyata, menariknya novel ini juga tersambung dengan kejadian yang menyita perhatian banyak orang sebulan ini. Kematian Salim Kancil dan kasus penambangan pasir di daerah Lumajang tersebut. Hal ini menyiratkan bahwa sejarah akan terulang, di lain waktu dan tempat. Karenanya sejarah harus diperhatikan banyak orang sebagai pelajaran agar tidak terulang sejarah yang pahit.

Penasaran? Mau novel ini secara gratis plus kaos keren? Yuk, ikutan giveawaynya!

12074565_885392511536311_8684761587849780366_n

Yang ingin memiliki kesempatan untuk dapatkan buku keren ini secara gratis, simak-simak persyaratannya baik-baik ya!

  1. Memiliki alamat (rumah) di Indonesia. Nah,  WNI yang domisili lagi di luar negeri boleh ikut kok, asal ada alamat di Indonesia.
  2.  Follow twitter @muhrasyidridho, @zhenf_5 dan @Tiga_Serangkai
  3. Follow blog ini, bisa via email, wordpress atau bloglovin.
  4. Sebarkan link Giveaway ini di semua media sosialmu. Khusus di twitter, mention @muhrasyidridho @zhenf_5 dan @Tiga_Serangkai hashtag #GAKubahDiAtasPasir.
  5. Jawab pertanyaan di kolom komentar dengan nama, twitter dan kota tinggal, cukup sekali saja. Pertanyaannya adalaah: Kalau mendengar kata pendidikan, apa yang terlintas di pikiranmu?
  6. Setelah selesai menjawab, segera tweet, “Saya sudah ikutan #GAKubahDiatasPasir. Ayo yang lain ikutan! Dengan mention @zhenf_5 dan @muhrasyidridho”

Giveaway ini diadakan mulai tanggal 15 Oktober – 22 Oktober 2015 jam 12 malam  (cukup lama kan?). Nanti pemenang akan dipilih dari jawabannya ya, jadi jawablah sesuai prosedur, sebaik mungkin (unik, lain daripada yang lain), jangan asal dan jangan lupa berdoa 🙂

Selamat mengikuti dan semoga kamulah yang beruntung 🙂

 

26 thoughts on “BLOGTOUR & GIVEAWAY Kubah Di Atas Pasir

  1. Wignya WIrasana 15 Oktober 2015 / 15:04

    Nanti ikut giveaway tempatku yah🙂

    Cek infonya di bit.ly/brokenhearthalloween

    Suka

  2. Diddy Syaputra 16 Oktober 2015 / 02:36

    Nama: Didi Syaputra
    Twitter: @DiddySyaputra
    Kota Tinggal: Tembilahan, Riau

    1. Mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena pendidikan merupakan “Barometer” utama bagi kejayaan suatu bangsa. Segala pencapaian kehidupan selalu berawal dari sini. Saya berani mengatakan, “Tidak ada kehidupan, tanpa adanya pendidikan.” Sekecil apapun perilaku, pasti dilandasi dengan pendidikan.

    2. Tenaga Kependidikan/Guru. Saya tidak sepenuhnya setuju dengan ungkapan, “Pahlawan tanpa tanda jasa,” bagi seorang Guru. Karena pahlawan tertinggi dari para pahlawan adalah Guru. Siapa yang mengajari menembak, memanah, membuat bambu runcing dan sebagainya pada para pahlawan, Kalau bukan seorang Guru? Namun mirisnya, seorang Guru tidak terlalu dihargai di Indonesia. Gaji mereka tidak mencukupi kebutuhan. Bahkan Guru seringkali dipandang sebelah mata.

    Semoga saja kedepannya ada perbaikan di sektor pendidikan. Terkhusus kesejahteraan “Abdi Bangsa,” seorang Guru.

    Terima kasih, Mas!

    Suka

  3. Safitri Ariyanti 16 Oktober 2015 / 04:18

    Nama: Safitri Ariyanti
    Twitter: @safitriariyanti
    Kota tinggal: Metro, Lampung

    Jawaban: Yang terlintas dipikiranku ketika mendengar pendidikan, utamanya pendidikan di Indonesia, jujur saja hanyalah sekolah, guru, ujian, Ujian Nasional, mata pelajaran yang super ribet, biaya pendidikan yang mahal, fasilitas pendidikan yang tidak memadai, dan ijazah. Sejujurnya, pikiran yang seperti ini tentunya salah, karena makna pendidikan yang sejatinya luas mengerucut begitu saja pada “sekolah” terutama “sekolah formal. Pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menciptakan generasi bangsa yang berkarakter, beradab dan berakhlak mulia. Tapi, karena sejak SD-SMA metode belajar di Indonesia begitu-begitu saja. Akhirnya pikiran pun terdoktrin untuk memaknai sekolah sebagai satu-satunya tempat menempuh pendidikan dan apa yang perlu dicapai adalah “mendapatkan ijazah”. Hasilnya, ijazah dimaknai sebagai kunci meraih kehidupan yang lebih baik, dengan ijazah kita bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan. Implikasinya, pendidikan Indonesia belum berhasil mengangkat martabat bangsa dari keterpurukan nilai-nilai moral. Halah opo iki.

    Suka

  4. nDayeng 16 Oktober 2015 / 07:10

    Nama : Hendi Setiyanto
    Twitter : @hendisetiyanto
    Alamat : Banjarnegara,Jawa Tengah

    Pendidikan? hmm menurutku bukan cuma tentang TK,SD,SMP,SMA,Perguruan Tinggi.Pendidikan merupakan sudah menjadi kewajiban sebagai makhluk Tuhan,mulai dari kita masih berbentuk sel telur bertemu dengan sperma,hingga menjadi janin yang berkembang. Diberi ruh oleh Tuhan menjadi besar,tua hingga kembali lagi ke penciptaNYa.
    Ada cerita menarik disekitar kampungku di daerah Banjarnegara,Jawa Tengah. Dikampungku kepopuleran sekolah dasar negeri (SDN) lebih menjadi favorit bagi orang-orang disini dibandingdengan madrasah ibtidaiyah (MI). Perbedaannya sudah terlihat jelas,murid-murid di SDN lebih banyak dibanding dengan murid MI. Bahkan dulu waktu jaman saya masih SD,sekolah MI seringmenjadi bahan becandaan oleh murid-murid SD.
    Karena tak lain dan tak bukan adalah anggapan bahwa sekolah MI itu tidak berkualitas dan (maaf) hanya untuk kalangan menengah kebawah saja murid yang mendaftar disitu. Akan tetapi seiring dengan perkembangan jaman,semuanya berubah drastis. Saat ini sekolah MI menjadi favorit bagi orang tua untuk memasukan anaknya sekolah disana.
    Selain materi yang diajarkan lengkap,mulai dari pendidikan keduniawian hingga materi untuk bekal di akhirat (pelajaran agama).Bahkan saking pedulinya dengan manfaat pendidikan bagi setiap anak manusia,pihak sekolah MI sampai memberikan fasilitas khusus antara lain : Program jemput antar bagi siswa yang rumahnya jauh dari sekolah.
    Selain itu juga biaya masuk,seragam,buku hingga lain-lain diberi cuma-cuma alias gratis bagi siswa yang kurang mampu. Walhasil banyak anak-anak yang tadinya putus sekolah kembali bersemangat untuk mendapatkan ilmu dan pendidikan.
    Saya sangat terharu ketika setiap jam sekolah tiba yaitu sekitar pukul 06.30 pagi,ada 4 orang saudara kandung yang berjalan dengan penuh semangat sambil menggendong tas dipunggungya. Kebetulan keempat bersaudara tadi rumahnya tidak jauh dari sekolah akan tetapi
    karena orang tua mereka kurang memperhatikan pendidikan keluarga berencana,jumlah anggota keluarga mereka menjadi banyak alias anaknya banyak.
    Hingga detik ini keempat bersaudara tadi masih terus semangat untuk mendapatkan ilmu dari sekolah. Walaupun terkadang mereka tidak memiliki uang saku seperti anak lain kebanyakan. Tetapi mereka terlihat tetap semangat dan ceria ketika pagi tiba. Semoga dengan pendidikan yang mereka terima ditengah segala keterbatasan tadi nantinya bisa mengubah nasib mereka masing-masing kelak ketika dewasa.

    Semoga dengan pendidikan dapat sedikit merubah kehidupan kedua orang tua mereka hingga ketika mereka berkeluarga akan paham bahwa memiliki anakpun harus diprogram dan tidak asal hamil terus lahir.
    Semoga…pendidikan menjadi suatu yang bisa dibanggakan oleh kedua orang tua mereka selain materi atau uang,tentunya untuk kondisi saat sekarang ini.

    Suka

  5. Nova Indah Putri Lbs (@n0v4ip) 16 Oktober 2015 / 08:38

    Nama : Nova Indah Putri Lubis
    Twitter : @n0v4ip
    Domisili : Medan

    M.A.H.A.L. itu kata pertama yang terlintas di pikiran saya ketika mendengar kata pendidikan.
    kenapa? karena saya sendiri merasakan betapa mahalnya pendidikan di negeri ini. meski arti pendidikan itu sendiri tidak selalu berhubungan dengan bangku sekolah atau pendidikan formal,
    tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa bangku sekolah memiliki peran yang besar dalam pendidikan.
    terbukti dengan masih banyak perusahaan yang lebih melihat kemampuan calon pekerja dari ijazah bukan dari keahlian. Jadi bagi mereka yg tidak pernah mengecam bangku sekolah namun memiliki keahlian tidak akan [pernah] dilirik oleh perusahaan kecuali jika Tuhan menghendaki. Kualitas pendidikan di negeri ini pun berbeda tiap daerahnya. Ntah mengapa saya merasa kualitas pendidikan di Pulau Jawa jauh lebih tinggi dari luar Jawa. Itu sebabnya kenapa banyak orang2 melanjutkan kuliahnya di Jawa daripada di dikotanya sendiri karena kualitas pendidikan nya jelas sangat berbeda. Untuk saat ini, itulah yang terlintas dipikiran saya mengenai pendidikan.😀

    Terima Kasih ^^

    Suka

  6. agathavonilia 16 Oktober 2015 / 10:41

    Nama : Agatha Vonilia Marcellina
    Akun twitter : @Agatha_AVM
    Domisili : Jember

    Kalau mendengar kata pendidikan, apa yang terlintas di pikiranmu?

    TIDAK PENTING, ada 3 alasan pendidikan di Indonesia tidak penting :

    1. Pendidikan tidak penting, asalkan sudah bekerja dan dapat mencukupi kebutuhan hidup (it’s the most important). Banyak Sarjana S1 berseliweran, pengangguran. Mereka kalah starts dengan yang lain karena lebih berpengalaman dari mereka. Walaupun pendidikannya lebih rendah dari sarjana tapi mereka lebih berpengalaman. Itulah yang dibutuhkan pada jaman ini. Pernah ada seorang artis yang bilang, sekolah itu tidak penting yang penting adalah skill. Sekolah tinggi-tinggi tapi tidak bekerja. Ijazah juga bisa dibeli. Ijazah juga digunakan untuk kenaika pangkat saja. Ijazah juga hanya dianggap sebagai kertas biasa. Perusahaan tidak melihat ijazah, tapi mereka melihat pengalaman, skill,kecekatan dan juga kinerja.

    2. Sekolah dijadikan ajang jual-beli. Guru, pahlawan tanpa tanda jasa, tidak berlaku untuk era modern seperti ini. Guru menjual jasa, para murid lah yang membayar jasanya. Kalau guru dibayar dengan gaji sedikit, dampaknya kurang perhatian terhadap para murid. Siapa sih yang tidak butuh uang? Jadi, mereka lebih mementingkan mencari uang daripada harus mencerdaskan kehidupan bangsa malah membodohi bangsa. Ini hanya pendapatku.

    3. Ajang pamer gengsi. Anak TK atau anak usia dini, malah ditekan untuk bisa baca, tulis, hitung dan menguasai berbagai bahasa asing. Orang tua tidak melihat kemampuan anak. Untuk anak usia dini diperlukan bermain sambil belajar. Para orang tua hanya mementingkan gengsi mereka sendiri dan tidak mau kalah dari orang tua lainnya yang sudah pandai segalanya entah itu baca atau tulis atau lainnya. Yang penting anaknya harus bisa juga! Aku bingung dengan cara pikir orang tua jaman sekarang bahkan ada yang belum bisa mengeja namanya sendiri malah dileskan bahasa inggris. Miris deh lihat ini semua. Seakan membatasi ruang bermain bagi anak.

    Ini lah apa yang terlintas di pikiranku tentang pendidikan pada era modern saat ini.

    Suka

  7. Vindy Putri 16 Oktober 2015 / 16:31

    Pak Zhaenal Fanani… aku pernah bertemu orangnya langsunh.🙂 Orangnya baik dan memang sepertinya kita gak bisa menebak apa yang ada dipikirannya. Hhehee.. ini karya terbarunya ya.. memang beliau suka sekali nulis epic, bernuansa sejarah dengan sudut pandang lain.😉

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 17 Oktober 2015 / 00:30

      Iya saya juga pernah bertemu beliau, walau ada yang bilang sangar dari wajah ya. Beliau baik dan senang berbagi ilmu menulis🙂

      Suka

  8. Kazuhana El Ratna Mida 18 Oktober 2015 / 01:13

    Nama : Ratnani
    Twitter : @ratnaShinju2chi
    Lokasi : Jepara

    Kalau mendengar kata pendidikan, apa yang terlintas di pikiranmu?

    1. Ajang gengsi

    Why? Karena saat ini yang dituju ketika melanjutkan sekolah itu apa yang nanti akan didapatkan tapi di mana kamu bersekolah atau kuliah/ SMA mana, Kampus apa? Keren tidak? Apa akreditasinya. Like that.

    2. Dijualbelikan.

    Pendidikan yang katanya murah dapat batuaan, tapi itu seolah hanya omong doang. Biaya pendidikan malah semakin mahal. seolah hanya orang-orang yang berada di ekonomi atas yang bisa sekolah. Bayangkan berapa uang yang dikeluarkan untuk bisa masuk dalam suatu sekolah. Dan well, saya pernah mendengar ada juga ajang saling sogok dengan berani memberi uang lebih maka anak bisa dimasukkan? Adil?

    3. Pendidikan tidak ada menjamin pekerjaan

    Ini sebenarnya masih berlanjut dari nomor satu. KIta tahu sekarang sudah banyak yang berhasil menjadi sarjana. Tapi apakah mereka sukses untuk mendapat pekerjaan yang diimpikan? 1: 1000 mungkin. Karena saat ini sistem perekrutan kerja pun ada kkn-nya. Yang memiliki orang dalam dengan mudah melenggang. Berbeda dengan yang walau pintar kalau tidak ada sokongan terlunta-lunta. Juga sikap men-jude beberapa almamater dalam tolak ukur menerima atau tidak, tapi bukan dilihat dari kemampuan.

    4. Pendidikan masih rancu

    Mengingat setiap tahun pergantian kurikulum. Dari KBK, lalu KTSP lalu Kurikulum 2013.
    Ini yang agak bagaimana, ya. Saat kurikulum 2013 sudah dijalankan, tiba-tiba diberitahukan akan dikemebalikan pada KTSP hanya beberapa sekolah yang akan dijadikan uji coba. Wah, macam penelitan.

    5. Pendidikan memberatkan

    Melihat dari yang ada disekitar saya sendiri. Ketika anak-anak datang kerumah, minta diajari mengerjakan tugas. Eh ternyata diberi tugas bertumpuk-tumpuk dari sang guru. dan guru belum pernah menjelaskan materi. Ini maksudnya apa coba. Murid diberi tuntutan untuk belajar lebih tapi kenapa guru tidak mencoba mendampingi menjelaskan. Kalau dalam LKS biasanya banyak soal yang tidak dibahas dimateri juga tidak dijelaskan di kelas. Lalu bagaimana murid bisa tahu?

    Suka

  9. Ridzki Putri 18 Oktober 2015 / 13:19

    Nama : Ridzki Putri
    Akun Twitter ; kikikiki_R
    Domisili : Jakarta

    Kalau mendengar kata pendidikan, apa yang terlintas dipikiranmu?

    Penting!

    Sama halnya dengan baju yang menjadikan suatu yang penting ketika seseorang pergi ke suatu tempat. Begitu pula dengan pendidikan. Pendidikan merupakan sesuatu yang penting bagi setiap individu yang ada di negara maju dan berkembang. Pendidikan tidak bisa diremehkan begitu saja walaupun ada orang-orang yang dapat bekerja tanpa melalui sebuah pendidikan tapi bukan seperti itu. Pendidikan memiliki sebuah tujuan yang dapat bermanfaat bagi setiap individu ke depannya karena pendidikan mengembangkan segala potensi-potensi dalam diri individu yang tentunya sesuai dengan nilai dan norma yang berada dalam masyarakat.

    Pendidikan bukan hanya sebuah kewajiban melainkan sebuah kebutuhan. Pendidikan merupakan makanan pokok bagi setiap individu untuk membentuk pribadinya. Selain itu, orang-orang yang berpendidikan memiliki manfaat bagi masyarakat dan lingkungan dibandikan dengan orang-orang yang tidak berpendidikan. Dengan ilmu yang mereka dapatkan dari pendidikannya maka mereka dapat memberikan kontribusi terhadap orang lain dengan menerapkannya secara langsung dan ini akan berpengaruh pada kemajuan yang terjadi pada SDM suatu negara ketika setiap individu di sebuah negara mendapatkan pendidikan yang baik dan memberikan kesempatan pada mereka untuk mengabdikan ilmu yang dia dapatkan untuk kemajuan negaranya.

    Dengan kata lain, suatu bangsa yang ingin maju, pendidikan harus dipandang sebagai sebuah kebutuan yang sama halnya dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Pemerintahan juga harus mendukung dan menjamin pendidikan di negaranya sehingga negara dapat semakin maju dengan SDM yang berpendidikan sehingga SDA yang berada di dalam negerinya dapat dikelola dengan SDM sendiri bukan oleh orang dari negara lain.

    Suka

  10. rinspiration95 18 Oktober 2015 / 15:30

    Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    Karangasem, Bali

    Kalau dengar kata pendidikan, yang terbayang olehku adalah sekolah. Sekolah memang identik dengan pendidikan,karena merupakan tempat untuk menuntut ilmu. Tapi yang banyak dilupakan adalah esensi dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan bukan hanya tentang mata pelajaran yang didapat di sekolah. Pendidikan dapat berupa pendidikan moral, cinta kasih,interaksi sosial, alam yang justru lebih banyak kita dapat dari lingkungan dan orang-orang di sekitar kita.

    Suka

  11. Reemamifta 18 Oktober 2015 / 22:40

    Rima Miftachul Hidayah
    @RimaMiftach
    Solo
    Rumit. Banyak tuntutan pada guru tentang kualitas anaknya. Orang tua lupa bahwa madrasah pertama itu rumah. Terutama di pendidikan dasar. Ada ketimpangan nasib antara guru swasta dan negri.

    Suka

  12. Eni Lestari 19 Oktober 2015 / 07:29

    Nama: Eni Lestari
    Akun Twitter: @dust_pain
    Domisili: Malang

    Kalau mendengar kata pendidikan, apa yang terlintas dipikiranmu?

    yang terlintas di pikiranku kalau mendengar kata pendidikan adalah betapa mahalnya biaya pendidikan di Indonesia. seperti yang kita ketahui, pendidikan adalah salah satu cara untuk meningkatkan taraf hidup. apabila pendidikan kita tinggi, maka peluang untuk berkarir akan terbuka lebih lebar. sayang, tidak semua orang bisa menempuh pendidikan tinggi. masih banyak kaum papa yang terpaksa melepaskan pendidikan demi sesuap nasi. bagi mereka, pendidikan hanya prioritas kesekian. menurutku, sayang sekali ketika seseorang melepas kesempatan untuk mencicipi pendidikan tinggi. karena banyak sekali manfaat yang diperoleh dari pendidikan yang kita terima di bangku sekolah/PT.

    Suka

  13. dewiiayuningsih 20 Oktober 2015 / 06:18

    Nama : Dewi ayu ningsih
    Twitter : @DewiiAeyuN
    Kota : Kota tengah, Riau

    Kalau mendengar kata “Pendidikan” yang terlintas dipikiran saya adalah BELAJAR.

    Udah pasti kalau pendidikan itu sama dengan pembelajaran, ya tentang mendapatkan ilmu yang baru.mau itu ilmu yang didapat di sekolah atau lingkungan sekitar.

    Suka

  14. dewiiayuningsih 20 Oktober 2015 / 06:27

    Nama : Dewi ayu ningsih
    Twitter : @DewiiAeyuN
    Kota : Kota tengah, Riau

    Kalau mendengar kata “Pendidikan” yang terlintas dipikiran saya adalah BELAJAR.

    Udah pasti kalau pendidikan itu sama dengan pembelajaran, ya tentang mendapatkan ilmu yang baru.mau itu ilmu yang didapat di sekolah atau lingkungan sekitar.

    Suka

  15. dewiiayuningsih 20 Oktober 2015 / 06:44

    Nama : Dewi ayu ningsih
    Twitter : @DewiiAeyuN
    Kota : Kota tengah, Riau

    Kalau mendengar kata “Pendidikan” yang terlintas dipikiran saya adalah BELAJAR.

    Udah pasti kalau pendidikan itu sama dengan pembelajaran, ya tentang mendapatkan ilmu yang baru.mau itu ilmu yang didapat di sekolah atau lingkungan sekitar.
    Misalnya pendidikan yang dari sekolah itu ya udah pasti ilmu yang diberi oleh guru.
    kalau pendidikan dari lingkungan sekitar ya seperti :
    * pendidikan Masak Memasak, itu kan juga pendidikan yang kita dapat dari ibu.
    *pendidikan naik sepeda motor (17+) dari orang* sekitar kita
    *pendidikan keagamaan , cth: Mengaji,
    Marawis , Qosidah itu juga bisa dari sekolah dan lingkungan sekitar .

    itu sih yang saya rasakan tentang pendidikan di diri saya. Jadi ya pendidikan itu ya BELAJAR.
    Belajar tentang hal* yang baru.

    Poppo27

    Suka

  16. IKA DIAN LUGAWATI (@lugawati) 20 Oktober 2015 / 07:30

    Nama : Ika Dian Lugawati
    Akun Twitter : @lugawati
    Domisili : Banyuwangi

    Belajar, belajar apa saja yang ada di sekeliling kita

    Suka

  17. Aya Murning 20 Oktober 2015 / 11:39

    Nama: Aya Murning
    Twitter: @murniaya
    Kota: Palembang

    Yang terlintas di pikiranku saat mendengar kata pendidikan adalah… formalitas!

    Ya, pendidikan itu cuma formalitas karena sekarang kebanyakan orang, terutama instansi besar, lebih memandang gelar daripada isi otak untuk menilai dan memilih individunya. Padahal yang paling penting, yang paling dibutuhkan, dan yang diwajibkan oleh/kepada setiap orang adalah pengetahuannya, bukan pendidikannya. Punya gelar pendidikan lebih tinggi belum tentu kualitasnya lebih bagus dari yang nggak punya gelar setinggi dia, baik dari otaknya mau pun attitude-nya.

    Gelar pendidikan bisa dibeli, tapi pengetahuan kan nggak bisa. Dan pengetahuan itu nggak pernah mandang umur untuk bisa terus belajar, sedangkan ‘pendidikan’ masih ditentukan oleh batas umur (sebelum tahap pasca sarjana).

    Suka

  18. Putri Prama Ananta 20 Oktober 2015 / 21:31

    Nama: Putri Prama Ananta
    Twitter: @PutriPramaa
    Kota Tinggal: Probolinggo

    Kalau mendengar kata pendidikan, apa yang terlintas di pikiranmu?
    Pendidikan adalah media pengkastaan. Dalam satu kota, terdapat banyak sekolah dengan kualitas yang berbeda-beda. Bersamaan dengan itu, hal seperti ini yang terjadi: pertama, sekolah favorit yang tentu saja memiliki fasilitas yang bagus didominasi anak-anak orang kaya, percaya atau tidak, masih ada sekolah yang mengelompokkan murid-muridnya berdasarkan status sosialnya. Di bagian kota yang lain, pasti ada sekolah dengan fasilitas yang kurang dan didominasi oleh murid-murid dengan status sosial yang lebih rendah. Hal ini menyebabka jurang pembatas orang kaya dan miskin semakin lebar dan dalam.
    Ini hanya dalam satu kota, bagaimana dengan satu negara? Bandingkan saja sekolah di Entikong (perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan) dengan sekolah di Jakarta, pasti beda jauh. Seharusnya, pendidikan merata, kan? Faktanya, pendidikan adalah media pengkastaan. Yang tinggal di pinggiran tidak mendapat pendidikan dengan selayaknya, yang tinggal di pusat mendapat pendidikan dengan fasilitas baik. Yang kaya dapat fasilitas bagus, yang miskin terpinggirkan.
    Bicara pendidikan memang banyak, masih banyak pe-er untuk kita semua untuk membuat bangsa Indonesia menjadi lebih baik lagi.

    Suka

  19. erin 21 Oktober 2015 / 01:29

    Nama : Erin
    twitter : @RinShoak
    Domisili : Bekasi

    Pendidikan itu belajar. Belajar tentang ilmu pengetahuan, tentang dunia, tentang kehidupan sosial dan yang terpenting adalah tentang diri kita. belajar tidak harus di sekolah, banyak ilmu diluar yang bisa diambil, dari semua hal yang ada dimuka bumi bahkan di luar angkasa.

    Suka

  20. tri yusuf ciduk 21 Oktober 2015 / 01:40

    Tri Indah Permatasari
    @LiebeIs0503
    Palembang

    Pendidikan adalah cerminan masa depan. Dimana jika kita ingin masa depan kita terjamin, baik, dan bermanfaat maka kita harus berjuang dalam dunia pendidikan. Karena pendidikan itu sifatnya menyeluruh, tidak hanya untuk diri pribadi tapi dapat berguna untuk semua orang. Menerima, mencari, membagikan pendidikan itu adalah jalan untuk kita bersama bisa bangkit meraih masa depan yang baik. Mencerdaskan semua warga bangsa. Tentunya harus dari hati dan penuh tekad. Tidak ada patokan atau tolak ukur yang membatasi, entah itu siapa yang mengajar, diajar, kualitas pendidikannya, atau bahkan pendapatan yang akan diterima. Berbagi pendidikan ke orang lain, tidak mmebuat kita bodoh atau membuat orang yang dibagi pendidikan menjadi lebih baik dari kita. Berbagi itu membuat kita menjadi sama, saling menghargai satu sama lain, saling peduli, dan mendukung untuk terus belajar demi kebaikan semuanya.

    Suka

  21. Noer Anggadila 21 Oktober 2015 / 16:24

    Nama: Noer Anggadila
    Twitter: @noerfaradila@yahoo.co.id
    Kota Tinggal: Probolinggo-Jatim

    1. Pendidikan? Pelajaran sekolah yang banyak dan harus terima semua oleh peserta didik di Indonesia, padahal di luar negeri pada jenjang SMA udah belajar yang ia minati aja. Tugas sekolah bejibun numpuk, ulangan hampir tiap hari dan belum lagi kegiatan kerja kelompok.

    2. Pendidikan? bagaimana caranya [ampuh] membuat rakyat Indonesia menerima pendidikan yang layak?

    3. Pendidikan? satu hal yang mungkin akan membuat orang tuaku tersenyum bahagia saat kelas mereka liat anaknya pakai seragam toga dan menenteng kertas yang bertuliskan “Peraih IPK tertinggi Mahasiswi Sastra Indonesia UGM” amin.

    4. Pendidikan? Banyak banget referensi terutama buku yang lengkap isi/materinya tapi mahal dan akhirnya gak bisa beli cuma bisa ngandalkan perpus dan pinjam teman.

    5. Pendidikan? Coba penjagaan saat ujian, mulai dari ujian sederhana [ulangan harian] hingga UN dijaga, bener-bener dijaga ketat agar gak ada yang bocor soal, nyontek sana-sini, curang dan segala macem usah yang menghalalkan yang seharusnya haram😦

    Suka

  22. khulatul mubarokah 21 Oktober 2015 / 23:04

    Nama : Khulatul Mubarokah
    Twitter : @KMubarokah
    Pendidikan itu …
    1. Kata pendidikan mengingatkan saya pada : Pendidikan itu dimulai dari buaian hingga ke liang lahat.
    2. Sebagai ibu, saya menjadi pendidik pertama, dan berupaya untuk mendidik diri sendiri.
    3. Tidak terbatas dengan pendidikan formal saja. Bahkan kehidupan adalah tempat pendidikan bagi siapa saja yang mau membaca ayat-ayat-Nya. Baik ayat kauniyah atau qauliyah.

    Suka

  23. titim nuraini 22 Oktober 2015 / 02:00

    Nama: Titim Nuraini
    Twitter: @titim_nuraini
    Domisili: Pamekasan

    Jawaban: Pendidikan=ilmu. Dengannya kita bisa lebih memahami pernak pernik kehidupan dan dengannya kita bisa menjadi lebih bermanfaat.

    Suka

  24. brickbriks 22 Oktober 2015 / 02:47

    Nama: Renita Yulistiana
    Twitter: @brickbriks
    Kota Tinggal: Krukut, Limo Depok

    Yang terlintas di pikiran tentang kata Pendidikan adalah “Kacau” seperti Neptunus yang kehilangan arah🙂

    Suka

  25. Aulia 22 Oktober 2015 / 04:12

    nama: Aulia
    twitter: @nunaalia
    kota tinggal: Serang

    Mendengar kata pendidikan, yang terlintas di pikiran itu adalah Guru, sang pahlawan tanpa tanda jasa.

    Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s