Kubah Di Atas Pasir

Kisah Inspiratif Tentang Pentingnya Pendidikan

Judul                            : Kubah Di Atas Pasir

sumber: tigaserangkai.co.id
sumber: tigaserangkai.co.id

Penulis                          : Zhaenal Fanani

Editor                           : Cahyadi H. Prabowo

Penerbit                       : Metamind, Imprint Tiga Serangkai

Tahun Terbit                : Cetakan I, Juli 2015

Jumlah Halaman          : 360 halaman

ISBN                           :  978-602-72834-1-1

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pegiat di Bondowoso Writing Community

Menulis sebenarnya adalah pekerjaan yang mudah, salah satu caranya adalah menulis apa yang dekat dengan kita. “Kehidupanmu dan kehidupan sekitarmu adalah sumber inspirasimu,” begitu kata penulis senior. Pun begitu bagi Zhaenal Fanani, penulis produktif asal Malang ini, juga menulis beberapa hal yang dekat dengannya. Salah satunya kemudian menjadi sebuah novel yang berdasarkan kisah nyata yang berjudul, Kubah Di Atas Pasir.

Adalah Ngurawan, sebuah daerah di pinggiran Malang yang menjadi setting utama novel ini. Sebuah daerah yang mayoritas penduduk laki-lakinya adalah penambang pasir dan perempuannya adalah pemecah batu. Kehidupan di sana amat tertinggal, selain karena sekolah yang ada jaraknya jauh, juga karena pemikiran masyarakat Ngurawan yang penting bekerja untuk hidup. Jadi, masyarakat di sana masa bodoh terhadap pendidikan anak, setelah berumur cukup dan kuat untuk bekerja, maka tugas sang anak adalah membantu orangtuanya bekerja sebagai penambang pasir atau pemecah batu (halaman 7).

Tidak semua pekerja di sana adalah orang asli Ngurawan, tetapi banyak juga yang dari luar Ngurawan, seperti orang Madura yang menyambung hidup di Ngurawan. Salah satu pendatang di Ngurawan adalah Mahali, tokoh utama dalam novel ini. Mahali adalah anak yatim piatu yang besar di sebuah yayasan di Malang. Dia tidak tahu bagaimana kejelasan asal-usulnya, siapa bapak-ibunya.

Meski begitu, Mahali adalah seorang yang mandiri . Yayasan adalah tempat bernaung tidur malamnya, meski masih SD selepas sekolah dia bekerja sebagai penjaja koran (halaman 26). Begitulah kesehariannya dia sampai lulus SD dan keluar dari Yayasan yang hanya menampung anak sampai lulus SD saja.

Setelah lama tidak menemukan dunianya, Mahali akhirnya menemukan Ngurawan. Dia berharap Ngurawan adalah rumah masa depannya. Di sana dia giat bekerja sebagai penambang pasir. Hingga pada sebuah pertemuan alumni yayasan dia bertemu dengan Fatikha yang menambat hatinya. Meski Mahali ragu untuk menikahi Fatikha karena pekerjaannya yang rendahan. Tetapi, akhirnya mereka menikah (halaman 50).

Setelah menikah Mahali mengajak Fatikha untuk menetap di Ngurawan, karena di sana Mahali sudah membuat rumah sederhana untuk keluarganya. Pertama kali sampai Ngurawan, Fatikha pun  merasa bahwa Ngurawan adalah rumah masa depannya. Karena pun begitu, Fatikha adalah seorang yatim piatu tak jelas asal-usulnya. Fatikha juga membantu Mahali mencari uang dengan menjadi pemecah batu, seperti perempuan-perempuan lainnya di Ngurawan.

Selain itu Fatikha juga menjadi relawan pengajar ilmu agama di yayasan tempat mereka dulu besar, sebagai rasa terima kasih kepada yayasan (halaman 57). Fatikha memang peduli terhadap pendidikan, karenanya bagaimana pun keadaannya dia tetap ingin Hiram, anak semata wayangnya untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak hanya itu Fatikha sebenarnya miris dengan keadaan masyarakat Ngurawan yang tak acuh terhadap pendidikan. Inginnya, dia bisa menyadarkan masyarakat Ngurawan akan betapa pentingnya yang bernama pendidikan. Bagaimana kelanjutan kisah Mahali, Fatikha, Hiram dan masyarakat Ngurawan? Alangkah baiknya Anda membaca langsung bukunya.

Sebagai novel berdasarkan kisah yang nyata, menariknya novel ini juga tersambung dengan kejadian yang sebulan ini menyita perhatian banyak orang. Kematian Salim Kancil dan kasus penambangan pasir di daerah Lumajang tersebut. Hal ini menyiratkan bahwa sejarah akan terulang, di lain waktu dan tempat. Karenanya sejarah harus diperhatikan banyak orang. sebagai pelajaran agar tidak terulang sejarah yang pahit.

Seperti novel-novel sebelumnya, Zhaenal Fanani tidak sekadar menulis novel yang picisan. Dalam Kubah Di Atas Pasir, ada beberapa hal yang ingin disampaikan oleh Zhaenal. Diantaranya, pertama, pendidikan adalah utama. Kedua, pendidikan di Indonesia masih belum merata, padahal seluruh bangsa Indonesia wajib mendapatkan pendidikan, sebagaimana tercantum dalam UUD 1945.

Novel ini mengkritik dengan halus kepada mereka yang tidak peduli pada pendidikan orang kecil utamanya pemerintah dan institusi pendidikan,  dengan demikian semoga pemerintah lebih memerhatikan lagi soal ini. Pesan ketiga, Zhaenal mencoba mengungkapkan bahwa selalu ada hikmah dalam setiap kejadian. Tak pelak, novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh banyak orang, semoga pesan-pesannya sampai dan mampu diaktualisasikan khususnya oleh pemerintah penanggung jawab pendidikan. Semoga!

dok. pribadi
dok. pribadi

*dimuat di Harian Singgalang  8 November 2015

*diikutkan Islamic Reading Challenge 2015  http://yukmembacabukuislami.blogspot.co.id/2014/12/islamic-reading-challenge-isrc-2015.html

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s