Tiga Sandera Terakhir

Persatuan Indonesia Adalah Harga Mati

Judul                            : Tiga Sandera Terakhir

Penulis                          : Brahmanto Anindito

Editor                           : Hermawan Aksan, Miranda Harlan

Penerbit                       : Noura Books

Tahun Terbit                : Cetakan I, Mei 2015

Jumlah Halaman          : 311 halaman

ISBN                           :  978-602-291-102-9

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Ketua di Forum Lingkar Pena Bondowoso

Akhir-akhir ini santer menjadi pembicaraan adalah penyanderaan dua penebang kayu warna negara Indonesia yang bekerja di Skofro yang berbatasan dengan Papua Nugini. Untungnya, negoisasi berhasil. Kisruh di tanah Papua seakan tak pernah usai. Padahal upaya agar terjaminnya kehidupan dan kedamaian di sana sudah dilakukan.

Sebagai seorang penulis, Brahmanto Anindito rupanya tidak hanya mengejar prestise tetapi juga mengedepankan nilai sosial dan kepentingan bersama. Dalam novel terbarunya, Tiga Sandera Terakhir, Brahmanto menuliskan tentang kisruh Papua yang terinspirasi dari penyanderaan para peneliti Lorentz selama 130 hari di desa Mapnduma, Irian Jaya pada tahun 1996.

Novel ini bercerita tentang penyanderaan lima orang wisatawan yang berkunjung ke Papua. Mereka terdiri dari tiga orang wisatawan asing dan dua orang WNI (halaman 17). Kabar tersiar mereka disandera oleh sekelompok orang yang diangap sebagai anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Akhirnya, Komandan Satuan-81 Gultor Kopassus (Penanggulangan Teror Komando Pasukan Khusus) yang baru, Kolonel Inf. Larung Nusa pun langsung merespon dengan datang langsung ke Papua bersama puluhan orang terbaiknya di Satuan 81/Penanggulangan Teror pada H+2 penyanderaan.

Kemudian dia mendiskusikan dengan Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen Dedy Lestaluhu. Nusa menginginkan diupayakan dengan negoisasi terlebih dahulu. Karena negoisasi tidak bisa dan pihak penyandera malah membunuh salah satu sandera, akhirnya diputuskan untuk dilakukan operasi militer. Namun sayang, karena medan yang tidak dikuasai oleh pasukan khusus, akhirnya TNI kalah bahkan ada beberapa petinggi pasukan khusus yang meninggal (halaman 123).

Karena kesalahannya, Nusa pun dinonaktifkan sementara. Tetapi, tugas untuk mengusut penyandera tetap diberikan kepadanya dan beberapa mantan TNI yang terpilih untuk membuat Tim Hantu. Ternyata, setelah ditelusuri pelaku penyanderaan dan pembunuhan bukanlah OPM, tetapi sempalannya yaitu kelompok Thomas Enkaeri. Thomas Enkaeri adalah pedagang senjata, yang ingin membuktikan pada OPM bahwa dengan senjata mereka bisa menang melawan TNI. Perlu diketahui, bahwa sudah lama OPM tidak memakai cara kekerasan dalam upaya kemerdekaannya tetapi melalui membangun opini. Jika ada pembuktian seperti itu, maka sangat mungkin bagi OPM kemudian tertarik untuk memakai jalan kekerasan lagi, lalu membeli senjata kepada Enkaeri.

Dengan demikian, Brahmanto tidak sekadar terinspirasi dari konflik Papua. Tetapi juga mengupayakan kedamaian di Papua melalui cerita. Melalui ceritanya dia berusaha meyakinkan bahwa, persatuan Indonesia adalah harga mati. Jangan sampai kita malah senang dengan upaya adu domba dari negara lain atau bahkan dari pedagang senjata. Jika perpecahan terjadi, rakyat Indonesialah yang susah, sedangkan pemasok senjata seperti tokoh Enkaeri tertawa dan hidup makmur karena untung besar. Sebuah novel yang inspiratif dan rekomendasi untuk dibaca banyak orang. Selamat membaca!

Resensi Tiga Sandera Terakhir di Harian Singgalang 15 November 2015

*dimuat di harian singgalang 15 November 2015

 

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s