Blogtour dan Giveaway Suti

Judul                            : Suti

Novel Suti saat hujan bulan Desember
Novel Suti saat hujan bulan Desember

Penulis                          : Sapardi Djoko Damono

Penerbit                       : Penerbit Buku Kompas

Tahun Terbit                : Cetakan I, 2015

Jumlah Halaman          : 192 halaman

ISBN                           :  978-979-709-986-2

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Ketua Forum Lingkar Pena Bondowoso & Pegiat di Bondowoso Writing Community

Sutini adalah gadis Desa Tungkal di pinggiran Solo yang hidup bersama ibunya saja alias yatim. Dia mempunyai sahabat karib bernama Tomblok. Mereka berdua sering bertemu, sekadar untuk membicarakan apa saja, khas kaum hawa yang rata-rata suka ngobrol tak terkecuali wanita desa sekalipun.

Suti nama panggilannya, telah dinikahkan oleh ibunya dengan Sarno. Meski tidak pernah ada perasaan suka, namun ibunya tetap memaksa. Ya, dengan terpaksa Suti menikah dengan Sarno. Namun, pernikahan Suti dan Sarno tidak ada istimewanya. Sarno pun sepertinya sama enggannya dengan Suti. Entah apa alasannya mau menikahi Suti.

Suatu ketika Suti dan Tomblok nggosipin orang baru di desa mereka. Mereka adalah keluarga priayi yang sebelumnya tinggal di Ngadijayan. Suti dan Tomblok menyebutnya Den Sastro. Namanya dulu Sumardi, ketika di Kasunanan bekerja sebagai kerani, sehingga menghasilkan gelar Sastro, Sastrosumardi. Istrinya, sebelum menikah dulunya bernama Marwati, tetapi biasanya dipanggil Minul, entah karena apa (halaman 39).

Sastro memiliki dua anak, anak pertama bernama Kunto dan anak kedua bernama Dewo. Kunto adalah anak yang pendiam, tidak suka menggoda teman-teman perempuannya tidak seperti teman-temannya, suka membaca buku. Berbeda 180% dengan Kunto, adiknya Dewo adalah anak yang urakan, suka buat rusuh, berteman dengan para preman dan sering mengkhawatirkan orangtuanya.

Suti kemudian diminta bekerja di rumah keluarga priayi tersebut. Suti senang, karena Bu Sastro baik sekali. Melihat Suti bersikap baik dan juga cerdas, sampai-sampai Bu Sastro menganggap Suti seperti keluarga bahkan seperti anak sendiri. Suti pun seperti pindah rumah, dan meski begitu sebagai suami Sarno pun tidak ada rasa khawatir sama sekali.

Sejak ada Suti di rumah keluarga Sastro, Kunto pun mau bergaul dengan perempuan (Suti) dan ini melegakan ibunya. Dikenalkannya kepada Suti bioskop dan film-film barat, selain itu Kunto juga mengenalkan dunia dan seisinya kepada Suti melalui teks dari buku-buku, koran dan majalah. Ya, Kunto menularkan sikap cinta matinya terhadap buku kepada Suti.

Suti melewati masa-masa dari ala tradisional desa yang kemudian menjadi semakin modern. Suti mengetahui bahwa di dunia ini tidak hanya ada Tungkal, tetapi dunia ini luas sekali. Suti naik kereta keluar dari Surakarta, main ke Jakarta, dan sebagainya.

Meski buku ini bersetting bertahun-tahun lalu lamanya, namun soal bahwa di sekolah tidak ada buku dan guru sangat jarang menyebut buku, sampai saat ini masih ada juga sekolah dan guru yang kurang perhatiannya terhadap buku. Ironisnya, itu juga terjadi di sekolah-sekolah maju, perpustakaan ada tetapi tidak terawat. Perpustakaan ada, bukunya tidak bertambah. Perpustakaan ada, tetapi selalu ditutup dan banyak guru yang tidak peduli soal buku. Melalui kisah dalam buku, Sapardi ini menyingkap bahwa di Indonesia membaca belum menjadi sebuah kebutuhan. Maka, di titik ini Sapardi seperti menitip harapan terhadap pertumbuhan budaya baca di negeri ini.

Sapardi berhasil memotret bagaimana pergeseran budaya di desa hingga menjadi manusia kekotaan yang dianggap modern. Sapardi juga mengangkat bahwa isu-isu tahayul, bisa jadi bukan karena orang desa yang mengabarkan, tetapi orang kota yang membuat-buat. Seperti kubur Mbah Parmin, yang oleh orang kota dianggap memiliki kekuatan gaib. Banyak orang luar Desa Tungkal datang hanya untuk ke kuburan Mbah Parmin. Melihat bisa dijadikan tempat peruntungan, kabar tak jelas tentang kekuatan kuburan Mbah Parmin semakin mereka sebarkan ke mana-mana. Akhirnya, orang-orang Desa Tungkal pun untung.

Ini novel pertama, Pak Sapardi yang saya baca. Saya cukup menikmati dan bahasanya ya cukup tidak biasa. Begitu pula alurnya, tokoh terkesan jalan semaunya tanpa paksaan pengarang. Daan, begitu pula endingnya, waw! Serasa makan krepes aja, kres, kres, kres (maksudnya apa?).

Intinya saya suka, dan sungguh saya saluut banget dengan Pak Sapardi. Meski sudah sesepuh itu, beliau masih konsisten menulis. Luar biasa! Sebuah teladan yang wajib diikuti oleh para (calon) penulis muda ya!

Kutipan menarik dari novel ini:

  1. Kemiskinan adalah hantu yang setia menjaga kebanyakan rumah di desa itu dan tampaknya tidak ingin meninggalkannya (halaman 24).

  2. Waktu masih di sekolah dulu gurunya tidak pernah menyebut-nyebut itu (buku). Buku tidak ada di sekolah (halaman 144).

Penasaran dengan bagaimana nantinya kisah Suti dan Sarno? Bagaimana kehidupan Suti selanjutnya bersama keluarga Den Sastro? Apakah Kunto menyukai Suti? Bagaimana ending novel yang kres, kres, kres itu? Mau tahu? Baca langsung novelnya ya!😀 Penasaran ya? Mau dapetin novel ini dengan gratis? Ikut giveawaynya ya! 🙂

12243755_10206432260582523_586506490_n Yang ingin memiliki kesempatan untuk dapatkan buku keren ini secara gratis, simak-simak persyaratannya baik-baik ya!

  1. Memiliki alamat (rumah) di Indonesia. Nah, WNI yang domisili lagi di luar negeri boleh ikut kok, asal ada alamat di Indonesia.
  2.  Follow twitter @muhrasyidridho, @SapardiDD dan @BukuKOMPAS
  3. Follow blog ini, bisa via email, wordpress atau bloglovin.
  4. Sebarkan link Giveaway ini di semua media sosialmu. Khusus di twitter, mention @muhrasyidridho, @SapardiDD dan @BukuKOMPAS  hashtag #novelSuti
  5. Jawab pertanyaan di kolom komentar dengan nama, twitter dan kota tinggal, cukup sekali saja. Pertanyaannya adalaah: Kalau mendengar kata desa, apa yang terlintas di pikiranmu?
  6. Setelah selesai menjawab, segera tweet, “Saya sudah ikutan giveaway #novelSuti Ayo yang lain ikutan! @SapardiDD, @muhrasyidridho, @BukuKOMPAS”

Giveaway ini diadakan mulai tanggal 19 Desember – 24 Desember 2015 jam 12 malam  (cukup lama kan?) Nanti pemenang akan dipilih dari jawabannya ya, jadi jawablah sesuai prosedur, sebaik mungkin (unik, lain daripada yang lain), jangan asal dan jangan lupa berdoa 🙂

32 thoughts on “Blogtour dan Giveaway Suti

  1. Kazuhana El Ratna 19 Desember 2015 / 01:22

    Nama : Ratnani Latifah
    Twitter : @ratnaShinju2chi
    Domisili : Jepara

    Kalau mendengar kata desa, apa yang terlintas di pikiranmu?

    Jawab :

    Yang terlintas dalam pikiranku ketika mendengar kata desa adalah biasanya berada di tempat yang pelosok [pedalaman]. Namun masih hijau. Masih banyak sawah-sawah yang membentang dan keindahan panonarama yang menyejukkan mata juga menyejukkan pernapasan, karena tidak terlalu banyak terkena efek polusi udara. Warganya ramah-ramah, sopan dan satun, lugu dan kekeluargaan.

    Suka

  2. kikimollys 19 Desember 2015 / 01:42

    Nama: Kiki Suarni
    Twitter: @Kimol12
    Domisili: Batubara- sumut

    Jawaban:

    Kalau denger kata desa maka yang terlintas di pikiranku itu, tempat yang jauh dari kota, lingkungannya masih asri. Banyak sawah karena penduduknya semua bertani. Kehidupannya juga serba sederhana. Kebayakan pake bahasa daerah untuk berkomunikasi sehari-hari.
    Yah, itu yang ada di pikiranku, tapi sekarang khususnya di beberapa tempat, desa juha ada yang uda maju.

    Terima kasih

    Suka

  3. Sheila 19 Desember 2015 / 01:55

    Nama: Sheila
    Twitter: @sheivelina
    Domisili : Pamekasan

    Desa Samiran, tempat tinggal masa kecil. Saat kita bebas bermain segala permainan tradisional tanpa sentuhan gadget. Berenang dan memancing di sungai seharian. Serta ikut mbolang ke sawah. Membasmi hama-hama hingga badan penuh lumpur di sekujurnya. It was fun!

    Suka

  4. mulyasaadi 19 Desember 2015 / 02:26

    Nama: Mulya Saadi
    Twitter: @mulya_saadi
    Domisili: Kota Jogja, Jogjakarta

    Jawaban:

    Jika mendengar kata desa, saya hanya ingat satu kata yaitu pulang. Karena masih tinggal di rumah orang tua dan kondisi sekarang sedang merantau, jadi ketika ada pembicaraan tentang desa saya jadi ingat wajah kedua orang tua, jembatan gantung dan kambing-kambing peliharaan he he

    Terima kasih

    Suka

  5. Fitra Aulianty (@fira_yoopies) 19 Desember 2015 / 05:47

    Nama: Fitra Aulianty
    Twitter: @fira_yoopies
    Kota: Pekanbaru

    Kalau mendengar kata desa, apa yang terlintas di pikiranmu?

    Jawaban:
    Yang pertama kali terlintas saat mendengar kata desa adalah sawahnya. Sawahnya yang hijau dan pematang-pematang sawahnya yang terlihat indah jika dilihat dari tempat tinggi. Lalu jika melihat sekeliling akan terlihat rumah-rumah dengan model kecil-kecil begitu di sekitar sawah, tidak tahu juga kenapa dibuat seperti itu tapi rasanya kalau dilihat dari jauh bagus. Juga kadang-kadang di sawah ada sapinya yang lagi makan? hihi
    Terus selain sawah dan sapi, yang aku bayangkan saat mendengar kata desa yaitu lagu ‘Desaku’, yang menurutku itu lagu yang cukup sederhana, tapi cukup untuk menggambarkan betapa permainya desa-desa dulu.

    Suka

  6. Nafisah AR 19 Desember 2015 / 06:32

    Nama : Nafisah AR.
    Twitter : @nihmimi
    Domisili : Bondowoso, Jatim.

    Jawaban : Hal yang terlintas dikepala jika mendengar kata desa; pertama adalah sungai. Bagi saya sungai di desa juga termasuk spot untuk bersosialisasi antar warga. Karena cuma di desa saya bisa menyaksikan orang mandi di sungai beramai-ramai tanpa malu dan sambil mengobrol, di sudut lain ada yg mencuci baju, di sudut lain (maaf) ada yang pup (betapa MCK masih belum sepenuhnya tersedia di desa), di sudut lainnya warga sedang memandikan ternak sapi, mencuci karpet, dll. Saya bisa melihat pemandangan seru itu dalam satu waktu sekaligus cuma di desa. Betapa sungai masih menjadi sumber daya alam yang sangat multifungsi di desa. Di kota juga ada sungai. Tapi, kalo ga bau dan mampet karena jadi tempat pembuangan sampah, air sungainya pun keruh. Tak sejernih dan se-fungsional sungai di desa.

    Kedua, setiap berada di desa, tentu yang dirasakan adalah hawa yang sejuk, warga yang jauuuh lebih ramah dr warga kota, bocah-bocah dgn segala permainan tradisionalnya, warganya yg gemar bergotong royong, bebas polusi kendaraan, pepohonan masih ijo royo-royo dimana2, bahkan di salah satu desa pelosok tempat saya tinggal, saya masih menemui seorang nenek menunggangi kuda dengan membawa kayu dan air dlm jerigen di atas tunggangan kudanya. Pemandangan aneh, sekaligus takjub buat saya. Kalo ga di desa saya menemukannya, dimana lagi. Ah, mungkin bisa juga menemukannya di drama laga. ex: Tutur Tinular. :p

    Ketiga, Kalo ngomongin desa hal yg sering dialami adalah susah mendapatkan sinyal gadget. Tapi disitulah nikmatnya desa. Kehilangan sinyal di desa sudah jd hal wajar dan sangat saya nikmati. Dalam beberapa waktu kita bisa rehat dr kesibukan gadget, dunia maya, dan sebentar khusyuk menikmati kesejukan alam di desa.

    Saya orang kota yang senang main di desa dan senang disebut reng dissah (red: orang desa).🙂

    g

    Suka

  7. Bintang Permata Alam 19 Desember 2015 / 07:10

    BINTANG PERMATA ALAM / @Bintang_Ach / Ngawi, Jawa Timur
    .
    .
    “Kalau mendengar kata desa, apa yang terlintas di pikiranmu?”
    .
    Langsung to the point aja ya, jalanan rusak. Aku berkata begitu karena memang desa yang aku tempati sekarang jalanannya sudah tidak layak sekali. Sarana publik terpenting ini seakan diabaikan begitu saja. Prihatin sebenarnya, banyak keluh kesah masyarakat yang bermunculan karena hal ini.
    .
    Jika kita berbicara desa dari sisi yang positif, pasti akan terpikir sebuah tempat yang asri, bebas dari polusi, nyaman, dan sebagainya. Tapi menurutku tidak sepenuhnya seperti itu. Namun, bukan berarti juga aku memandang desa dari sisi negative. Bukan seperti itu. Aku hanya mendeskripsikan apa yang ada di pikiranku saja. Dan, apa yang memang ada di pikiranku sekarang adalah itu tadi, jalanan rusak.
    .
    Thanksss

    Suka

  8. Cahya 19 Desember 2015 / 15:33

    Nama: Cahya
    Twitter: @chynrm
    Kota tinggal: Palembang

    Kalau dengar kata desa, yang terlintas di pikiranku adalah jalan tanah setapak, udara dingin menusuk tulang, hamparan sawah hijau membentang, gunung megah tinggi menjulang, gemercik suara air di sungai, sepeda ontel yang masih sering wara-wiri ke sana ke mari, cicitan burung dan kokokan ayam terdengar jelas, ibu-ibu dan anak gadisnya berjalan memakai sarung kemben sambil membawa bakul cucian, sementara bapak-bapak dan anak bujangnya memakai topi caping sambil memikul pacul. Bagiku, itulah sebuah desa. Desa yang sesungguhnya.

    Suka

  9. Nurizka Tresna 19 Desember 2015 / 16:21

    Nama: Nurizka Tresna P
    Twitter: @rizkatresna
    Domisili: Jakarta Barat

    Desa, adalah sesuatu yang gak pernah saya miliki sendiri. Saya tidak punya kampung halaman. Sejak kecil tinggal di sebuah kota yang sangat ramai dan padat, tentunya membuat saya jenuh. Saya iri dengan semua orang yang tinggal di desa. Siapa yang tidak? Suasananya yang damai dan keindahan alam hijaunya yang tentunya belum hilang seperti di kota, selalu membuat saya ingin merasakan bagaimana tinggal di sebuah desa. Saya ingin setiap pagi mendengar kicauan burung yang siap mencari makan. Saya ingin duduk di saung di tengah hamparan sawah pada sore hari untuk membaca buku. Saya juga ingin menjadi bagian dari masyarakat desa yang pada umumnya peduli satu sama lain. Saya ingin tau bagaimana rasanya. Tentunya, membaca novel suti yang berlatar belakang desa akan membawa saya ke kehidupan itu.

    Suka

  10. Afrianti Pratiwi 19 Desember 2015 / 16:26

    Nama: Afrianti Eka Pratiwi
    Twitter: @AfriantiPratiwi
    Kota Tinggal: Purwokerto

    Ketika saya mendengar kata desa, yang terlintas di pikiran saya adalah kesejukan dan sebuah pemberdayaan masyarakat. Mengapa? Karena saya membayangkan kehidupan desa yang asri dan masih bergotong royong, persis seperti buku-buku jaman SD yang pernah saya baca dulu. Untuk maslaah pemberdayaan masyarakat, saya menyoroti dari aspek dimana pikiran saya berkata bahwa desa merupakan suatu daerah atau wilayah yang perlu dibina dan disejahterakan, terlepas dari bagaimana orang-orang desa bisa bekerja secara mandiri. Namun, tetap pelru ada pembinaan dan pemberdayaan pada masyarakat desa.

    Suka

  11. siapalasayaini 19 Desember 2015 / 17:21

    Nama: Rafika Amalia
    Twitter: @KyutoKaren
    Domisili: Bekasi

    Kalau mendengar kata ‘desa’, yang terlintas di benak saya hanya satu: ketenangan. Yap. Saya selalu berimajinasi bahwa desa satu-satunya tempat yang penuh dengan ketenangan dan satu-satunya tempat yang masih ‘asli’ buatan Tuhan dan belum terkena sentuhan tangan manusia. Sebagai masyarakat yang tinggal di perkotaan yang cukup padat membuat saya rindu akan desa, atau sebenarnya saya hanya merindukan ketenangan? Entahlah. Yang jelas, desa selalu punya citra terbaik di benak saya.

    Suka

  12. Ve Dallas 19 Desember 2015 / 22:08

    Vena Dwi Masfiyah
    @venadwim
    Tulungagung

    Desa itu adalah tempat yang tenang. Tidak banyak polusi ataupun asap bermotor, yang ada asap dari pembakaran sampah yang biasanya ada di sore hari setelah pemilik rumah menyapu daun-daun kering yang berserakan di halamannya.
    Desa itu dipenuhi oleh orang-orang yang ramah dan semangat gotong-royong yang masih kental. Tak ada hiruk pikuk.
    Di setiap paginya, di desa dipenuhi oleh suara-suara yang tak memekakkan telinga. Suara burung yang mencicit riang dan hewan-hewan ternak warga yang ikut saling sapa.
    Tapi walaupun desa itu memiliki suasana yang tenang, tapi untuk masalah jalanan, entah kenapa kebanyakkan jalannya selalu susah. Batunya besar-besar dan kalau hujan jadi becek.
    Andaikan desa yang tenang, segar, dan alami itu mempunyai jalanan yang memadai, pasti akan lebih komplit.
    Yasudahlah begitu. Desa adalah tempat yang tepat untuk mencari inspirasi dan menyegarkan pikiran. Tapi ya itu, sayang jalanannya agak susah.

    Suka

  13. annicka jodha 20 Desember 2015 / 01:08

    Nama: annik anzalni
    Twitter : @annickajodha
    Domisili : Karanganyar

    Yg ada d bayangan q tentang desa itu ya keasrian nya.. hijau .. pedalaman yg bersih dari polusi udara, sejuk, keramahan penduduknya, gotong royong , dan kekeluargaan

    Suka

  14. dwiemiwahyuningtiyas 20 Desember 2015 / 01:14

    Nama : dwi emi wahyuningtiyas
    Alamat : tulungagung jawa timur
    Twitter : @tiyassiedwi

    Yang terlintas di pikiran saya setelah mendengar kata desa adalah suatu daerah yang disitu masih sangat asri. Banyak sawah dan ladang yang terbentang luas, banyak pohon pohon yang rindang, banyak pemandangan yang menyegarkan mata, dan tidak ada polusi udara tentunya . Desa sangat memiliki kekhasan nya tersendiri . Seperti orang” nya yang ramah, sopan santun, memiliki tata krama yang baik, masih mempercayai para leluhur dan masih banyak lagi . Di desa juga masih menggunakan bahasa daerahnya .Desa adalah suatu tempat yang jauh dari wilayah perkotaan . Di desa masih terdapat rumah” tradisional misalnya jika di jawa “joglo”.

    Suka

  15. Tiara Indah 20 Desember 2015 / 02:41

    nama: Tiara Indah
    twitter: @tirr_
    kota tinggal: Jakarta Timur

    jawaban:
    Kalau mendengar kata desa, yang terlintas di pikiranku adalah damai dan tentram. Terlepas dari keindahan dan keasriannya, menurutku kehidupan di desa lebih sejahtera. Rasanya ga se’keras’ kehidupan di kota yg manusia-manusianya mulai lupa kata permisi, maaf, dan terima kasih. Di desa, orang-orangnya selalu bersosialisasi, kalau di kota, orang-orang sudah agak individualis, ‘autis’ gadget, dan egois.

    Yah setidaknya di desa, pasti saling tegur sapa jika berpapasan, atau minimal senyum deh. Dan juga, orang-orang desa lebih bisa bersyukur dan menikmati hidup tanpa banyak mengeluh..

    Terima kasih🙂

    Suka

  16. Desi Wulandari 20 Desember 2015 / 09:34

    Nama : Desi Wulandari
    Twitter : @eciiiiiw
    Domisili : Purwokerto

    Di balik desa yang asri pada kenyataannya ada tuntutan ekonomi yang membuat para bujang terpaksa mencari nafkah di luar negeri. atau perawan yang putus sekolah dan memutuskan menikah dengan juragan tanah.

    Di balik desa yang masih menjaga adat dan budaya pada kenyataannya mulai termakan globalisasi, modernisasi, westernisasi dan -si lainnya secara perlahan. satu persatu di setiap rumah setidaknya tergeletak gadget yang agak mewah. ada pula televisi layar datar yang mungkin orang kota tak mampu memajangnya.

    Di balik desa yang sederhana dan terkenal menjaga tata krama pada kenyataannya mulai muncul sindiran dan gosip antar tetangga. ada pamer yang tersirat saat waktu kumpul sore hari pada emas 3 karat yang baru dibeli.

    Suka

  17. Aya Murning 20 Desember 2015 / 10:39

    Nama: Aya Murning
    Twitter: @murniaya
    Kota: Palembang

    Desa…
    To be honest, serba ramah tapi juga pada kolot dan masih percaya tahayul. Lebih prefer ke kebiasaan orang-orangnya daripada suasana desanya sendiri. Itu yang pertama kali terlintas di benakku mengenai desa.

    Oh ya, roaming dan rumahnya pada rumah panggung dari kayu. Itu ciri khas rumah desa di sini. Aku sering pulang ke desa mamaku, tapi kalau ngomongnya cepet banget dan udah keluar kata-kata yang nggak familiar di kupingku, ya aku nggak ngerti deh. Ditambah pula rumah nenekku memang rumah panggung dan dari kayu.😀

    Suka

  18. Iyas 20 Desember 2015 / 14:01

    Dias Shinta Devi
    @DiasShinta
    Bogor

    Desa = kampung = murni / natural
    Masyarakatnya masih ramah-ramah, terikat adat dan percaya hal-hal mistis. Desa itu dalam bayanganku hamparannya hijau tak terjamah tangan-tangan usil tapi lokasinya juga sulit terjamah, terisolasi. Di desa ada segunung impian dipanjatkan, berharap keindahan kota yang ada dibayangan.

    Suka

  19. Sulhan Habibi 20 Desember 2015 / 14:07

    Nama : M. Sulhan Habibi
    Twitter : @SulhanHabibi
    Domisili : Makassar

    Desa.
    Mendengar kata Desa yang terlintas adalah hijau, sawah, sungai, tenang, damai, asri, kekeluargaan, kampung halaman.

    Tapi, ada satu hal lagi yang tiba-tiba terlintas di benakku ketika kata DESA terucap, yaitu SAHABAT PENA.
    Dahulu, ketika teknologi belum seperti sekarang ini, telepon jarang, internet belum ada, yang ada surat menyurat sebagai salah satu sarana komunikasi yang efektif pada masa itu.

    Sahabat Pena salah satu dampak surat menyurat dengan prangko. Berbekal alamat di majalah anak, atau biodata di balik buku pelajaran (LKS) bisa mengajak kenalan orang lain nun jauh di sana. Beruntung bila ada yang balas dan tentu saja hati rasanya senang.
    Aku salah satu yang sempat mencoba menjadi sahabat pena, namun hanya sekitar 2x balas surat setelah itu tidak lanjut lagi.

    Nah, waktu kecil aku sering membaca kisah dua orang yang berteman karena sahabat pena di majalah. Kadang mereka saling mengunjungi. Kebanyakan yang aku baca adalah mereka mengunjungi sahabat pena-nya yang berada di sebuah desa yang sangat damai. Ada yang bercerita tentang pengelaman di kebun, sawah, menikmati keindahan alam, udara yang segar.
    Sahabat pena dan keluarganya ramah, dijamu dengan makanan hasil kebun/sawah sendiri, berenang di sungai, dan pengalaman yang sangat seru (bagiku)

    Kabanyakan sahabat pena yang aku baca adalah seorang anak kota (sekitaran kota) mengunjungi sahabatnya di desa. Pengalaman mereka kadang membuatku iri dan pengen mengalami hal tersebut. Ingin punya sahabat pena dan mengunjunginya. Bermain dan berpetualang di alam terbuka. Tempat tinggalku sebenarnya juga masih tergolong desa, namun yang sedang berkembang, jadi keinginan untuk berkunjunga ke desa yang lebih ‘alami’ juga ada.

    Nah, makanya, ketika mendengar kata desa, Sahabat Pena adalah salah satu yang pasti muncul dengan keinginan yang masih sama untuk menikmati alam yang masih alami dan berpetualang.

    Btw, terima kasih🙂

    Suka

  20. Bintang Maharani 20 Desember 2015 / 17:08

    Bintang Maharani
    @btgmr
    Palembang

    Desa. Langsung teringat bahwa cuma di desa yang masih memegang teguh adat istiadat, asas tolong menolong, dan silaturahmi dengan erat. Ya bandingin aja sama yang di kota, hidup sudah serba lo-lo-gue-gue kan?

    Ada lagi. Cuma di desa aku bisa lihat ada sekolah yang halamannya dipenuhi eek sapi. Cuma di desa yang head master-nya ngijinin sapi-sapi Bali dikeliarin di pekarangan sekolah (gara-gara dia punya saham di sapi-sapi itu). Dan cuma di desa aku lihat murid-muridnya nggak masalah sama bau busuk yang menguar dari badan sapi dan tentu saja ‘bolu’ si sapi. Hidiiihhh…

    Suka

  21. nunaalia 21 Desember 2015 / 06:30

    nama: Aulia
    twitter: @nunaalia
    kota tinggal: Serang
    Jawaban:
    Desa itu kampung tempat nenek tinggal yang udaranya sejuk, airnya dingiiiin banget sampe males mandi saking dinginnya hehee.. Masih terdapat banyak sawah dan hutan juga sungai, jalannya berbatu-batu. Kendaraan unik yang ada di desa itu sado atau delman. Tradisi yang masih sering aku lihat di desa, warganya masih suka saling kirim makanan, apalagi pas lebaran.

    Suka

  22. Sri Rizki Pebriyani 21 Desember 2015 / 07:16

    Nama: Sri Rizki Pebriyani
    twitter: @sririzkiii
    kota tinggal: Malang, Jawa Timur

    Kalau mendengar kata desa, apa yang terlintas di pikiranmu?
    Jawab:
    Kalau mendengar kata desa yang terlintas dipikiran saya adalah ibu dan surga kecil yang mendamaikan jiwa (rumah). Karena selelah-lelahnya saya menuntut ilmu di tanah rantau pada akhirnya yang membuat tenang dan damai adalah kembali ke dekapan ibu saat berada desa. Memandang wajah ibu dengan suasana desa yang masih sangat asri itu sungguh kenikmatan duniawi yang tiada tandinganya. Rumah kecil nan mungil menjadi ruang pelepas rindu antara aku dan ibu. (Aku merindukanmu duhai ibu, duhai desa kebangganku, dan surga kecil yang mendamaikan jiwa.). Semoga setelah menyelesaikan kewajibanku ditanah rantau ini aku bisa kembali ke desa, bisa memajukanya dan mengangkat derajat penduduk di sana dengan ilmu yang ku dapatkan disini, yang lebih utama bisa merawat dan menjaga ibu tercinta.

    Terimakasih.

    Suka

  23. Erdina yunianti 21 Desember 2015 / 07:36

    Nama : Erdina Yunianti
    Twitter : @Dinnaaa_27
    Domisili : Cilegon-Banten
    Jawaban :

    Desa?? Hmm semua masih ijo, banyak pohon, banyak hutan, banyak kebun. Seperti dunia waktu awal di bentuk hahaha. Udara masih bersih, orang-orangnya ramah tamah dan hidup bergotong royong. Lingkungan yang jauh dari polusi, macet, asap kendaraan, dan yang pasti tempatnya indah, asri dan sejuk🙂

    Suka

  24. rinspiration95 22 Desember 2015 / 06:22

    Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    Karangasem, Bali

    Kalau denger kata ‘desa’, aku langsung terlintas satu kata yaitu nyaman. Moment kembali pulang ke kampung halamanku menjadi salah satu moment yang dinantikan. Memang suasananya beda banget sama kota, tapi rasanya nyaman aja ada disana.
    Udaranya segar, suara alam masih terdengar, tetangga kanan kiri masih ada yang nyapa, masih banyak ruang terbuka.
    Aku paling suka merayakan hari raya nyepi di rumah. Ketika nyepi keadaan memang bener-bener sepi, tenang dan damai. Hal yang sulit sekali ditemukan jika sedang berada di kota besar.

    Suka

  25. dindayong 22 Desember 2015 / 06:54

    1. Yuppp, saya punya alamat di Indonesia. Eh bukan punya saya, punya orangtua. Saya mah cuma numpang :v

    2. Sudah tak follow semua.

    3. Mengikuti via wordpress.

    4. Link share di twitter : https://mobile.twitter.com/AlveeraAyu/status/679177530004209664?p=v

    Link share di facebook : https://mobile.facebook.com/story.php?story_fbid=1669405019985197&id=100007471442464&refid=17&_rdr

    5. nama : Dinda Ayu
    akun twitter : AlveeraAyu
    kota tinggal : Semarang, Jawa Tengah

    Kalau mendengar kata desa, apa yang terlintas di pikiranmu?

    Yang terlintas dipikiran saya adalah KEBERSAMAAN. Tempat dimana saya bisa melihat orang-orang bersama-sama mengerjakan sesuatu, bermain, bergosip (khas ibu-ibu), beribadah dll.
    Sekarang ini di Desa saya sedang ada perbaikan mushola, saya merasa senang saat melihat orang-orang saling bahu membahu memperbaiki mushola, mereka membagi tugas, yg dibawah bertugas membuat adonan semen, mengangkut bata, dan membawa adonan semen keatas atap mushola. Yang di atap mushola bertugas memperbaiki atap dan membuat sebuah kuba. Lalu juga ada yg memperbaiki bagian depan, agar tampak lebih baik lagi. Mereka tdk dibayar, paling2 hanya diberi air dan jajanan untuk mereka makan saat sedang istirahat.
    Saat hari libur, pagi-pagi sudah ramai dengan anak-anak kecil. Mereka bersama-sama bermain kesenian barongan. Walopun mereka hanya anak kecil dan untuk senang2 saja, tp jangan salah perlengkapan mereka juga lengkap. Ada barongan, ada dawangan dan ada musiknya juga walau dari gamelan sederhana dan ember.
    Dan tentang bergosip. Bukan seperti ibu2 kalangan sosialita yg bergosip tentang barang2 mahal. Tp ibu2 di Desa saya kebanyakan bergosip tentang tetangga mereka sendiri entah itu hal positif atau negatif.
    Dan untuk beribadah setiap malam kamis para muda-mudi mengaji yasin, setiap malam jumat ibu2 dan bpk2 tahlilan bersama, lalu setiap minggu sore ibu2 mengadakan mauludan.
    Saya suka kebersamaan nya. Dulu mas saya pernah bercerita, saat anak2 muda akan pergi ke pasar malam mereka menyewa sebuah mobil doplak dan berangkat ke pasar malam bersama-sama. Hihi, saya pengen kek gitu. Tp cuma ada dulu, sekarang udah enggak ada lagi.
    Terus kalo pagi saya liat anak SMP berangkat sekolah bersama naik sepeda. Kalo lagi ada hajatan contoh kawinan, para tetangga datang untuk membantu, sekedar membuat masakan, menatanya di besek.
    Kemarin saya baru pulang PBA dari desa Tlogo Payung, desanya ada di daerah gunung gitu, udaranya sejuk, jalannya naik turun. Yang paling saya suka adalah pemandangan alamnya, hijau.. dimana mana hijau, karena bnyk pohon.
    Itulah desa menurut saya, agak aneh yg penjabarannya. Hihi. Tapi saya bener2 pengen baca bgt novel Suti.

    6. Done. Link : https://mobile.twitter.com/AlveeraAyu/status/679193054134206464?p=v

    Suka

  26. Farah 22 Desember 2015 / 14:08

    nama: Farah Fahmi
    akun twitter: @FarrMaSi
    kota: Tegal

    Kalau mendengar kata desa, apa yang terlintas di pikiranmu?

    Banyak sawah, udaranya sejuk, airnya jernih, hijau sepanjang mata memandang, gotong royong, indah!
    Begitu yang terlintas dibenak aku. Di desa, pasti ada berpetak-petak sawah yang luasnya berhektar-hektar. Dan biasanya selalu ada kerbaunya. Pohon-pohon juga masing rindang dan memberikan udara sejuk bagi orang-orang. Anginnya silir-silir (kalau digunung lebih enak ana dingin2nya). karena sawahnya yang luas dan banyak pohon-pohonnya, jadi selalu bisa lihat hamparan hijau dan itu sangat menyegarkan mata. Untuk masyarakatnya masih menjunjung tinggi kebersamaan. Gotong royong membangun desa itu sendiri agar lebih maju dan biasanya ada syukuran untuk malam-malam tertentu. Indah sekali kehidupan desa menurutku hehe😀

    Suka

  27. Celina Faramitha Yuwono 22 Desember 2015 / 14:19

    Halo Kak Ridho, biarkan daku menjawab pertanyaan kakanda~
    Nama: Celina Faramitha Yuwono
    Twitter: @sampanbiru
    Kota Tinggal: Tangsel, Banten

    Kalo orang bilang “desa” yang diriku ingat adalah “S I N G K O N G”.
    Jadi, diriku pernah mengikuti acara hidup di desa selama satu minggu. Desa itu bernama Dusun Jati di Semanu, puncak Gunung Kidul, Yogyakarta. Inilah “mother of villages”, “Mamake dari segala desa”. Kasarnya desa paling desa dari seluruh desa yg pernah diriku pijak. Alat elektronik adalah barang langka, motor hanya satu orang yang punya. Sinyal sangat susah.

    Tempatnya sangat kering karena pegunungan kapur, tanahnya retak-retak, jauh dari bayangan khalayak ramai yg ijo-ijo gitu, mungkin karena musimnya, tapi yang paling diriku ingat disana adalah dunia pergaulan singkong yang merajalela(dan mendominasi).

    Setiap hari sebagai pengganti nasi, diriku memakan tiwul, singkong yang ditumbuk.
    Lauknya kerupuk miler(gini ya nulisnya?), kerupuk dari singkong.
    Untuk cemilan siang diriku makan singkong rebus.
    Untuk cemilan sore diriku makan singkong goreng.
    Untuk bekal dibawa ke ladang dan bermain diriku makan gethuk, singkong lagi.
    Kadangkala, diriku melahap seonggok gaplek, singkong yang dikeringkan tipis-tipis.
    Di kala santai melihat TV tua itu, tersedia keripik, tolong jangan ditanya keripik apa.
    Oh, man….

    Selama satu minggu. Diriku mengonsumsi beraneka jenis olahan singkong, panganan yang sama dengan ayam, kambing, anjing dan kebo yang dipelihara simbok.
    24 hours x 7 hari seminggu! Bayangkaaaaaan pemirsa!!!! BAYANGKAAAN!!! *zoom in*
    Singkong-singkong tersebut party dalam perut diriku.
    Sesampainya di kota, diriku sangat bersyukur dan mulai memuja butiran nasi.
    Sekarang setiap melihat singkong, diriku menitikkan air mata.

    Hehehehe, begitulah kisah kasih di pedesaan, semoga bisa dapet hadiahnya :3 pilih diriku kak, pilih dirikuuuuu *gatau malu* Ehehe~

    Suka

  28. E.M.F 22 Desember 2015 / 21:25

    Nama: Evita
    domisili: Jogja
    Twitter: @evitta_mf

    Kalau dengar kata desa saya jadi ingin pulang. Desa identik dengan pulang kampung, kan? Sebagai seseorang yang sedang menuntut ilmu di kota orang, aku selalu ingin pulang. Kangen keluarga yang jauh di sana.
    Ibu dan ayah lahir di Jogja, jadi kalau mereka pulang kampung ya ke Jogja. Sementara kalau saya libur kuliah ya balik kerumah di ujung pulau Jawa sana. Uniknya sih gitu, soalnya saya nggak lahir di Jogja.
    Kalau dengar kata desa saya jadi inget KKN. Beberapa bulan yang lalu saya baru saja KKN di sebuah desa di Yogyakarta. Seru sih berbaur sama warga desa dan menginap sebulan full di rumah pak dukuh beserta 8 orang teman lainnya. Rasanya seperti keluarga. Kita jauh dari kota, jauh dari tempat-tempa nongkrong dan dalam waktu sebulan bantu-bantu memperbaiki desa. Saya selalu berharap semoga kehadiran saya dan teman-teman KKN selama satu bulan di sana untuk kerja keras bisa bermanfaat untuk warga.. Amiin
    Terimakasih kak kesempatan giveawaynya.

    Suka

  29. siti aliyah 22 Desember 2015 / 23:27

    Nama : Siti Aliyah
    Twitter : @Adechan18
    Kota Tinggal : Bekasi

    Kalau mendengar kata desa, maka yang terlintas dalam pikiran adalah K A M U ..
    Kamu yang sangat jarang aku temui, yang pesonanya selalu dinantikan oleh indera penglihatan, dan yang baunya selalu dirindukan oleh indera penciuman. Iya kamu! Suasana asri khas desa, yang jarang dan bahkan tidak pernah aku rasakan di daerah perkotaan, yang baunya terasa segar, dan yang pesonanya selalu menyejukkan mata.

    Suka

  30. Eka Sasining Putri 23 Desember 2015 / 04:04

    Nama: Eka Sasining Putri
    Akun twitter: @cha_ichie
    Domisili: Kediri Jawa Timur

    ‘Desa’ membawa berbagai makna, kenangan, dan percikan harapan yang saya mulai dari sana. Potongan-potongan potretnya di masa lalu melesak, mengingatkan saya pada waktu-waktu yang telah saya lalui dari petak-petak sawah padi hingga kolong ranjang kayu tempat saya menimbun tangis. Sebagai bocah desa yang tumbuh dekat dengan ublik, pematang sawah kemuning, lolongan sapi tiap pagi, dan hilir air sungai yang dingin, saya menemukan beragam emosi dari timbulnya ‘desa’ yang tak lagi sama dibanding sejak saya lahir. Saya bangga menjadi salah satu saksi hidup yang menyaksikan evolusi kehidupan dari akhir tahun 19-an sampai sekarang, sekaligus berduka terhadap perubahan signifikan yang menorehkan banyak wajah baru yang menggusur rupa lawas yang lebih akrab di memori saya. ‘Desa’ memberi saya banyak arti, bukan sebatas relief ramahnya yang lebih dikenal orang, dia menciptakan latar tempat bagi kisah hidup saya selama ini. Wujudnya yang tidak senantiasa elok oleh ragam keindahan khas yang lugu, adalah tujuan akhir saya berlabuh karena saya berumah padanya. Bagaimanapun saya menyimpan sekotak besar kenangan di sana, kuburan rasa sakit yang dapat bangkit sewaktu-waktu, dan benih harapan yang saya semai sejak kanak-kanak. ‘Desa’ bukan hanya menggambarkan sosok rumah, tapi juga menjadi jalan saya pulang, dia pula yang menjadi saksi bagaimana kehidupan telah terlalu banyak membentuk karakter saya seperti sekarang.
    Saya tidak akan naif dengan melukiskan sosoknya sebagai sebentang sawah hijau yang diterasiring, atau aliran jernih sungai yang membelah dingin; ‘desa’ membawa berbagai makna, kenangan, dan percikan harapan yang saya mulai dari sana.
    Saya tidak bisa menyebut ujung perjalanan saya ‘pulang’ jika saya tidak berakhir pada keluarga, rumah, dan ‘desa’.

    Suka

  31. n0v4ip 23 Desember 2015 / 21:48

    Nama : Nova Indah Putri Lubis
    Twitter : @n0v4ip
    Domisili : Medan
    Link Share : https://twitter.com/n0v4ip/status/679778367185408000

    Kalau mendengar kata desa, yang terlintas dipikiran saya adalah sungai yang bersih dan sawah yang hijau. Karena di desa, sungai itu airnya masih jernih dan bersih dan tentu saja dingin banget, dan yang paling saya suka kalo mudik ya mandi di sungai…😀 dan hamparan sawah yang hijau juga menjadi pemandangan yang menyejukkan mata.🙂

    Terima kasih ^^

    Suka

  32. xxmyu12 24 Desember 2015 / 14:25

    Nama : Daisy
    Twitter : @daisy_skys
    Domisili : Semarang

    Kalau mendengar kata desa, apa yang terlintas di pikiranmu?

    Desa . Aku langsung keingetan Soimah Pancawati . Nah Loh kok bisa . Soalnya Soimah itu dulunya orang desa , tetangganya orang yang nulis ini . Hehehe … * Ciyee tetangganya Artis * itu mah dulu sebelum Soimah pindah dari Pati (jawa tengah ) ke Jogja dan jadi artis ibu kota .

    Kurang lebihnya orang desa itu ya kayak Soimah . Apa adanya , kalau ngomong blak – blakkan agak medok , ramah . Jeleknya , orang – orang desa yang udah tua itu rada kolot dan selalu mengikuti leluhurnya (baca : percaya tahayul)

    Desaku itu Masih alami banget .Ada sungai yang belum tercemar , biasanya dipake mandi , berenang anak – anak kecil , mandiin kebo , di tambaknya ada ikan gede – gede , tapi ada juga yang pup disana . Masih ada kunang – kunang sama suara jangkrik , taukan kalau ada kunang – kunang tandanya udaranya masih bersih . Nggak ada anak kecil yang main tablet , smartphone , ipad , apalagi COC-an .

    Tapi itu dulu .

    Sekarang desaku mah udah moderen .Mall ada , Jalanan udah diaspal semua , anak TK aja udah BBM-an . Sungai hanya difungsikan untuk irigasi sawah . Udaranya nggak sebersih dulu soalnya kalau pergi pada pakai kendaraan bermotor , anak Smp yang sekolahnya diluar desa aja udah naik motor .Pokoknya ngimpi bisa ketemu kunang – kunang dimalam hari .Desaku berubah seiring berubahnya zaman .

    Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s