Romansa Dua Benua karya Pipiet Senja

cover romansa dua benua

Hidup Adalah Ujian

Judul                            : Romansa Dua Benua

Penulis                          : Pipiet Senja

Editor                           : Dani Fitriyani, Hijrah Ahmad, Adhika Prasetya

Penerbit                       : Emir, Imprint Penerbit Erlangga

Tahun Terbit                : Cetakan I, Mei 2015

Jumlah Halaman          : 412 halaman

ISBN                           :  978-602-291-102-9

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Ketua Forum Lingkar Pena Bondowoso & Pegiat di Bondowoso Writing Community

Soli sejak kecil telah ditinggal pergi oleh ibunya. Tersebab ayah Soli pun tidak memperlihatkan batang hidungnya, ibu Soli pun meninggalkannya untuk kembali bekerja kepada Baba Liong di Bandung. Soli hidup dirawat oleh neneknya, hingga suatu ketika Soli dan neneknya harus kabur dari desa yang mereka tinggali selama ini.

Karena kelelahan dan tanpa bekal makanan, nenek Soli meninggal di tengah  perjalanan. Sebelum meninggal, selama perjalanan nenek Soli selalu meminta Soli untuk mencari ibunya di Bandung. Setelah penguburan neneknya, Soli pun melanjutkan perjalanan ke Bandung.

Sesampainya di Bandung, Soli kesulitan menemukan ibunya. Soli hidup bersama anak jalanan yang berhati baik. Tunem, ibu para anak jalanan yang baik yang kemudian merawatnya (halaman 34). Dalam kehidupannya bersama anak jalanan, Soli sempat bertemu ibunya, namun dia ditolak habis-habisan. Ibunya tidak mau menganggap Soli sebagai anaknya. Tak hilang sedih lantaran penolakan ibunya, Soli pun harus kehilangan keperawanannya untuk kedua kalinya.

Karena beberapa sebab, akhirnya Soli pun mulai diakui oleh ibu kandungnya. Namun, ternyata Titin menyimpan udang dibalik batu. Dia ingin mengajari Titin tentang arti kecantikan yang bisa dia jual, namun Soli seumuran itu masih tidak mengerti akan hal tersebut. Selain itu niat busuk Titin adalah menjual Soli kepada Baba Liong. Seorang tauke kaya raya yang dulunya Titin pernah mengabdi, bekerja sekaligus menjadi istri tiri (halaman 87).

Awalnya, Soli curiga kepada Baba Liong. Namun, semakin hari Soli tahu bahwa Baba Liong orang baik. Baba Liong mengajari Soli bisnis dan bahkan dileskan kepada mahasiswa kedokteran berprestasi bernama Nuwa. Dalam titik ini Soli pertama kali dalam hidupnya merasakan jatuh cinta pada seseorang. Soli mencintai Nuwa (halaman 103).

Karena Soli semakin menonjol dalam mengembangkan bisnis dan semakin disayangi oleh Baba Liong. Akhirnya, keluarga Baba Liong dengki dan tidak suka pada Soli. Hingga akhirnya Soli pun harus pergi ke luar negeri dengan berbekal uang dari Baba Liong. Soli tidak sendiri, dia ke Belanda bersama Nuwa. Mereka menikmati hidup berdua, namun perginya Nuwa dengan uang simpanan Soli membuat Soli shock (halaman 111).

Soli pun hidup di Belanda bersama keluarga Hartland. Dia menikah dengan Jan van Hartland. Anak Soli dan Nuwa lahir, kemudian diberi nama Nuwa juga karena sangatnya cinta Soli kepada Nuwa. Namun, kehidupan harapan Soli tidak kunjung datang. Dari hari ke hari kegelapan menyelimuti hari Soli. Nuwa tenggelam di perairan Australia, istrinya juga  Hidupnya semakin terpuruk.

Mungkin Anda akan bertanya adakah dalam kehidupan nyata kepedihan begitu mendalam dan keterpurukan bertubi-tubi seperti yang dialami Soli? Insya Allah ada, meski hanya sedikit orang saja yang mengalami. Karena sejatinya hidup adalah ujian, maka musibah, masalah, dan kesedihan itu pasti ada silih berganti dengan kelapangan, kesuksesan dan suka cita. Baik ujian ringan ataupun seberat yang dialami Soli pasti ada.

Pipiet Senja hendak mengajak pembaca untuk senantiasa husnudzon dan tawakkal kepada Allah ketika mendapat ujian. Saya kira inilah yang melatari Pipiet Senja menuliskan kisah pilu Soli dalam novel ini. Selain itu Pipiet juga berpesan kepada pembaca agar tidak putus asa jika mendapat ujian, karena Allah memberikan ujian sesuai kemampuan.

Jika kita mampu melewati ujian maka kita akan naik tingkat derajatnya. Sehingga dapat tersingkap hikmah dan masa depan yang cerah pun menunggu di depan kita. Begitulah, novel 412 halaman tidak hanya mampu mengaduk emosi pembaca, tetapi juga bertabur hikmah dan pelajaran di dalamnya. Rekomendasi untuk dibaca oleh semua orang, karena setiap orang tak luput dari ujian. Selama membaca!🙂

img098
dokumen pribadi

*pernah dimuat di harian singgalang 17 Januari 2016

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s